Ketika Mereka Tidak Mempunyai Bargaining Power (Cerita Mudik)

Musim mudik masih sekitar satu minggu lagi. Dalam satu dua minggu ke depan, kita akan disuguhi aneka berita update soal kepadatan tol Cikampek, Cipali, pelabuhan Merak-Bakauheni, dan jalur Pantura yang terkadang tambal sulam pengerjaan jalan rusaknya. Di tiap saat tiap waktu, ikhlaskanlah diri menyaksikan kehebohan pergerakan massal ribuan manusia pulang ke kampung halamannya masing-masing. Eits…kehebohan massal ini tentunya termasuk saya dong ya. Kan ikut mudik juga ke kampung suami.

Bicara soal mudik, mbak ART saya pun satu minggu sebelum hari H lebaran sudah pasti pulkam. Nah beliau ini sejak pertama kali kerja di rumah saya, saban mudik selalu menggunakan jasa travel, bukan bis. Beliau mesti menyeberang ke pelabuhan Bakauheni, untuk melanjutkan perjalanan pulang di salah satu wilayah di Lampung sana.

Saya kurang tau soal pertravelan, namun yang pasti, yang beliau gunakan adalah travel langganan. Singkat cerita, untuk wilayah rumahnya mbak ART, ada sekitar 5 perusahaan travel yang beroperasi, dan kelimanya adalah langganannya si mbak. Yang miris terjadi adalah ketidakpastian waktu jemput.

Jadi begini: kalau mbak sudah pesan travel dan sepakat dijemput di rumah saya, jamnya itu terkadang ngaco. Janji dijemput jam 9 pagi, datangnya jam 12 malam. Alasannya macam-macam. Mulai dari harus muter-muter dulu jemput yang lain yang jauh-jauh, sampai mobilnya rusaklah dan dioper ke mobil lain. Nungguinnya sampe kaku dari pagi sampe pagi dini hari lagi.
Yang miris adalah: orang-orang ini (baca: mbak ART dan teman-temannya yang menumpang travel) tidak punya bargaining power samasekali. Sudah dikecewakan bolak balik dengan penjemputan yang waktunya sesuka-suka si driver, ya tetap saja masih menggunakan jasa travel tersebut.

Gak ada pilihan bu. Ya udah mbak jalanin aja. Soalnya kalau mbak naik bis, bisnya cuma sampe pelabuhan Merak, terus ke kapalnya mesti jalan kaki, jauh. Padahal mbak bawa banyak kardus (baca:oleh-oleh). Kalo travel kan ya kita dianterin sampe depan rumah banget, bu. Enggak rempong

Ya, tidak ada pilihan. Itulah yang membuat mereka siap menanggung dan menelan paitnya di PHP in sama travel. Sudah jadwal jemput yang super ngaco, ditambah kondisi di dalam mobil yang super duper berdesakan. Travelnya ini kan ogah rugi ya guys. Dan mereka dengan santainya menumpuk sampai 15 orang dalam satu mobil yang berkapasitan 7 seater. Kadang yang duduk di kursi samping driver bisa dua orang, di belakang jangan tanyakan bagaimana mereka duduk bagaikan pepes. Kadang berpangku-pangkuan. Bayangkan, untuk perjalanan jauh yang makan waktu 6-8 jam termasuk menyeberang ke Bakauheni, mereka berjejalan. Saya mbayanginnya aja udah encoque.
Ditambah lagi terkadang kondisi mobilnya jauh dari layak. Pernah tahun berapa ya, lupa deh, mbak ART dijemput oleh sebuah mobil sekelas APV gitu, tapi jendela belakangnya rusak dan ditambah pakai plastik berselotip. Dan di tengah jalan, mbak ART sms saya kalau mobil itu mogok dan mereka beramai-ramai harus mendorong.

Posisi tawar para travel ini super kuat: “kalo mau ya ikut aturan kita, kalo enggak ya gpp silakan cari alternatif transportasi lain.” As simpe as that. Kusedih hiks hiks hiks.

Tapi semua itu memang serasa hilang dan tak berarti. Dibalas dengan segenap tumpahan kerinduan para ART dengan keluarga di kampung. Biarlah bersusah-susah di jalan, yang penting sampai di kampung, bertemu anak, suami, dan merayakan kegembiraan lebaran di rumah sendiri.

Semoga tahun ini mobil travel mbak ART enggak molor lagi jadwalnya. Kalopun molor, masih masuk akal alias ngaret dikit-dikit doang. Amiiin….

Kalo kamu mudik gak?
signature

Advertisements

12 thoughts on “Ketika Mereka Tidak Mempunyai Bargaining Power (Cerita Mudik)

  1. ndu.t.yke says:

    Aku jelas nggak mudik krn tinggal bersama neneqque, wkwkwk. Keluarga papah yg keturunan Bugis pun sdh hampir tiada sisanya di Makassar sana. Sdh tumplek blek di Surabaya dan Jakarta (utamanya di Sby). Jd ya Surabaya lah kampung halaman kami.

    Liked by 1 person

  2. denaldd says:

    Sudah 4 lebaran ga mudik. Walaupun tahun ini ada rencana pulang, tapi tidak bertepatan dengan lebaran. Mudah2an 2 tahun lagi ada kesempatan pulang pas lebaran. Jadi bisa merasakan suasana lebaran di desa kumpul keluarga dan makan masakan khas keluarga. Kangen suara takbir yang rame, di sini kan takbirannya ga rame. Mbak Imelda mudiknya ke mana kalau setiap tahun?

    Liked by 1 person

  3. jessmite says:

    Kasian banget, nggak ada bargaining power seolah-olah kita yang paling butuh padahal kan sama-sama membutuhkan gitu. Mbok ya yang manusiawi dikit dong kalo ngaret dan ngangkut penumpang. Keselamatan kan yang utama.
    Semoga travelnya semakin membenahi dirinya ya supaya tambah maju dan nyaman bagi customer.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Rata-rata travel yang ke arah Lampung begitu Ntan. Bahkan aku pernah liat travel lain (bukan travel mbak ARTku) pas kebetulan aku lagi trip ke Lampung. Ketemu di SPBU tu travel jejal2an banget, di depan sebelah sopir malah 3 orang kalo gak salah. Asli gak manusiawi ya.
      Jadi sedih….demi mencari nafkah para ART rela diperlakukan seperti itu 😦

      Like

  4. nengsyera says:

    Aq pernah tuuh naik travel waktu dr Makassar ke Bone sekitar 4-6 jam perjalanan dan kondisinya persis yg diceritain mba. Satu mobil avanza bisa isi 10 org mgkn ya. Bener2 susah gerak, mepet, umpel2an dan di depan itu ada yg duduk ditengah2 antara supir dan penumpang. Huhuhu. Ngga enak tp emg bnr ga ada pilihan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s