6 Rem Saya di Sosmed

Bermain sosmed sudah menjadi kebutuhan di zaman sekarang. Semua level di masyarakat kita, bahkan dunia, pasti punya sosmed. Mulai dari mbak ART dan tukang tahu bulat keliling dekat rumah saya, sampai CEO sebuah perusahaan cat ternama ya punya sosmed.

Ada yang aktif, ada pula yang jarang diupdate alias sekedar punya saja (termasuk suami saya, sosmednya ampun dije ga pernah diupdate blas wahahahaha).
Mau posting apapun di sosmed, seringkali menimbulkan pro kontra.  Ada yang bilang sebaiknya proporsional, ada pula yang bilang semau gue, lha wong sosmed punyaku dewhe kok? Macam-macamlah.

Sementara untuk diriku sendiri, semakin ke sini berusaha untuk semakin “mikir dulu” sebelum memposting sesuatu. Kalau dulu? Ulalaaaa….apa juga diposting. Anak baru lahir posting. Nyusuin pertama kali, posting. Anak ulang bulan, bikin status. Lagi galau dan sebel sama sesuatu, bikin status. Asli ga ada remnya.

Dan sekarang kalau semua jejak digital itu dibaca dan dilihat kembali…malu banget rasanya. Terutama saat membuat status-status alay. Duh…..

Lalu apa saja kira-kira yang membuat saya akhirnya mengerem untuk tidak asal posting di sosmed? Ini beberapa di antaranya:

1. Keluarga yang syar’i.
Ga ada tendensi apapun ya dengan menambahkan kata syar’i di sini. Malah sebaliknya saya bersyukur banget punya mereka. Dengan iman dan pengetahuan agama yang lebih kuat dibanding saya, mereka bisa menjadi pengerem untuk sekadar pamer aurat yang berlebihan di sosmed. Sudahlah saya ini Islam tapi gak berhijab gini, ditambah pula pas lagi euforia bersosmed. Hasilnya bablas. Waktu hamil anak kedua, pas hamil gede 8 bulan, saya posting foto hamil dengan bagian baju yang sengaja dibuka di bagian perut. Mindsetnya saya: yang ngeliat bakal lebih ngeliat dari sisi maternity dan parenting gitu, bahwa di dalam perut saya ada seorang bayi lucu yang udah gak sabar pengen ketemu emaknya yang kece ini. 
Rupanya saya lupa mikir bahwa apa yang ada di mindset saya belum tentu proper buat orang lain. Alhamdulilah ada yang mengingatkan bahwa itu berlebihan. Kemudian fotonya saya protect, gak saya hapus. Bersyukur banget masih ada yang ngingetin. Coba kalo enggak, beeeeuh mungkin pose-pose hamil berikutnya yang diupload makin menjadi-jadi dan membuat muntah yang ngeliatnya bwahahahahhaa…..

2. Guru sekolah anak-anak.
Sejak anak pertama masuk sekolah, di situ saya mulai menyaring dan mikir ulang 7x sebelum posting sesuatu di sosmed. Beberapa kali sering lupa, karena jumlah teman yang banyak. Lupa kalau 2 atau 3 di antaranya adalah wali kelas dan kepala sekolah anak saya. Ketika memposting dan mendapat like dari mereka, barulah tersadar sembari malu. Saya pun belajar dari sosmed para guru tersebut. Melihat postingan mereka yang biasa saja, gak ada sesuatu yang kontroversial terutama dalam foto-fotonya membuat saya  pun ikutan berbuat seperti mereka. Kalau mereka sudah tentu wajib jaga wibawa ya terutama di mata orang tua murid, makanya berupaya sebaik mungkin tampil di sosmed. Kalaupun ada masalah, entah di rumah tangga atau personal sudah tentu dijaga agar tidak asal umbar via sosmed. Syukurlah bisa berteman dengan beliau-beliau ini di dunia maya.

3. Teman-teman suami.
Iya, saya pun berteman dengan beberapa di antara teman-teman suami. Karena suami saya orangnya berkarakter lempeng baik di mata saya maupun semua temannya, saya gak kepengen ke”lempeng”annya dia ini kemudian berubah total gara-gara istrinya posting ngasal di sosmed. Gimana coba kalo tiba-tiba eikeh mengungkapkan kemarahan, nyinyir, atau maki-maki orang di sosmed misalnya, trus kebaca sama teman suami? Lalu mereka nyindir suamiku bahwa istrinya orangnya baperan dll dll. Duh gak kebayang…..

4. Orang jahat di luar sana.
Bisa penipu, pedofil dan masih banyak lagi. Mereka inilah yang membuat saya dan mungkin jutaan orang yang aktif bersosmed, mesti super waspada dan memilah benar apa yang akan diposting. Berkat mereka, saya mengerem untuk menampilkan wajah anak-anak saya di sosmed. Sesekali masih, tapi kadang saya pilah dulu anglenya yang gak terlalu direct memperlihatkan wajah bagai pas foto gitu. Kalaupun foto lainnya dicuri, misalnya foto lokasi destinasi wisata yang saya kunjungi, atau foto hasil masakan saya masih mending ya. Asalkan jangan anak-anakku…duh Gusti kumohon lindungi anak-anakku.

5. Anak sendiri.
Banyak baca di sana sini dan mulai mikir, bahwa ada benarnya juga: apakah anak setuju kalau fotonya diupload ke sosmed emaknya? Buat kita lucu ngeliat pose dia lagi monyongin mulut, atau pake helm kegedean dll. Buat kita penting banget upload foto anak pas lagi dirawat di RS lengkap dengan infus dan muka sayunya. Kita berharap akan ada banyak doa terucap untuk kesembuhan anak kita. Namun belum tentu buat si anak. Bisa jadi anak malah merasa dipermalukan dengan “pemberitahuan ke seluruh dunia” lewat upload-an emak bapaknya.
Sekarang ini mulai lebih mikirin perasaan anak-anak. Apalagi semakin mereka besar, semakin paham, semakin nambah rasa tengsin dan gengsinya. Nah kalau kita yang di posisi mereka kira-kira gimana, hayo?

6. Umur.
Akhirnya kembali ke diri sendiri. Ya, umur juga menjadi pemicu saya makin memilah milah mana yang pantas, mana yang tidak. Kayaknya malu aja gitu, udah semakin tua tapi perilaku bersosmed masih macam ABG. Saya punya teman yang usianya sudah 42 tahun namun nama Facebooknya itu semacam begini: ArdyCayankMizziCelalu. Belum lagi jika menulis kata iya menjadi “eaa..” atau “gue” hanya ditulis “w” tapi dalam konteks serius. Kadang speechless ngeliatnya, dengan usia yang tak lagi muda tapi identitas sosmednya begitu. Namun apa daya…itu kan sosmed beliau jadi saya juga ya mau rusuh protes langsung atau gimana gitu.

pexels-photo-238480

Foto dari pexels.com

Setelah enam hal tersebut mungkin banyak yang merasa bahwa dengan mengerem sana sini, menjadi jaim atau apapun namanya, pada akhirnya kita tampil menjadi pribadi yang bukan “kita yang sebenarnya” di sosmed. Aslinya di rumah tukang ngambek, tapi di sosmed demi tampil berwibawa di depan guru anak-anak di sekolah, maka menjadi pribadi yang santun dan share link yang positif-positif aja. Tak apalah jika ada yang berpendapat demikian. Saya pribadi hanya berharap, sukur-sukur wibawa dan perilaku bijak yang kita tampilkan di sosmed pelan-pelan bisa beneran diterapkan di keseharian alias di dunia nyata.
Nah temans ada yang mau menambahkan lagi? Monggo share di komen ya 🙂
signature

Advertisements

11 thoughts on “6 Rem Saya di Sosmed

  1. denaldd says:

    Kalau aku sejauh ini yang paling manjur adalah dua hal. Pertama diri sendiri. Semakin tua semakin bener2 memfilter apa2 yang mau diposting. Bukan hanya foto tapi juga tulisan bahkan status2 di media sosial. Sebelum diposting, mikir jauh kira2 10 atau 20 tahun ke depan kalau aku baca ini, malu ga, pantas ga. Atau kalau melibatkan anggota keluarga lain dalam cerita, menjadi batu sandungan buat mereka ga di masa depan. Dan satu lagi, kalau misalkan aku meninggal, segala yang ada di dunia maya akan meninggalkan kebaikan atau ga. Nah alasan kedua masih terkait dengan yang pertama yaitu tentang jejak digital. Karena jejak digital ga bisa dihapus sampai kapanpun, maka aku benar2 sangat berhati2 dengan segala postingan yang menyangkut bukan aku. Kalau postingan (balik lagi termasuk foto, tulisan, atau status2) tentang aku, ga masalah karena aku dengan sadar mempostingnya dan sadar akan jejak digital. Tapi kalau aku sudah melibatkan dalam postingan misalkan anak2 yang belum bisa menyuarakan pendapatnya, kira2 nanti mereka keberatan nggak dijadikan bahan tulisan atau fotonya diunggah tanpa seijin mereka. Seperti yang Mbak bilang buat kita lucu belum tentu buat mereka lucu kalau menemukan 10 tahun atau 20 tahun lagi misalnya. Kita ga tahu di masa depan mereka akan jadi apa. Aku ga mau apapun yang berhubungan dengan aktifitas dunia mayaku akan jadi sandungan di masa depan mereka karena pada saat mempostingnya tanpa setahu atau seijin mereka. Kalau tidak bisa 100% bebas dari internet, tapi paling nggak sangat meminimalisir dan sangat berhati2 memilih mana yang kira2 dalam kategori aman.

    Liked by 1 person

  2. Seaマ says:

    Kalau aku apa ya, memang pasrahan sih haha…dalam bersosmed nggak dikenal juga gak apa-apa, yang penting prioritas utama hidup tenang aja hahaha..Dan kalau punya masalah yang dibagi keluar mending kisah2 yang ada hikmahnya atau sudah bisa ketemu solusinya. Foto anak di medsos? Wah karena sering menyaksikan kasus2 mending nggak deh. Lagipula menurutku anak punya hak penuh atas privasi, sampai mereka sdh bisa memutuskan dgn nalar sendiri apa yg ingin di share dan tidak ke publik..

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      halo mamasea…iya zaman sekarang makin serem makanya mending direm dulu deh mau posting wajah anak-anak. Kalopun pengen ya harus izin mereka dulu dan mempertimbangkankan nanti in the future dampaknya gimana terutama buat mereka 🙂

      Like

    • imeldasutarno says:

      Halo mbak Vani terima kasih sudah menjejak di sini. Wah iya Trio Detektif, Lima Sekawan dan Sapta Siaga, andalan anak zaman baheula ya hehe.
      Iya malu ama umur banget ya apalagi kalo nama akun masih alay begitu hiks 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s