Patin dan Nila di Warung Dwi Sari

Berhubung jarang banget wiskul, makanya di blog ini pun tulisan tentang tempat makan dikit banget jumlahnya. Ya kumaha mau wiskulan ya, saban hari masak mulu di rumah. Biar kata cuman telor ceplok ama sambel kecap, yang penting irit masak makanan rumahan. Khas mamak-mamak kali bah! Mamak-mamak medit maksudnya, wahahaha kalimatnya belon kelar.

Aduh ini prolognya enggak enak banget ya. Supaya to the point, marilah kita langsung aja ke pokok masalah ya.

Jadi ceritanya di suatu hari sepulang kantor, saya boncengan sama suami. Dan melintas di depan sebuah warung makan yang spanduk menunya cukup menarique. Ikan patin dan nila bakar. Itulah yang tertulis di spanduk berwarna hijau yang terbentang di depan restonya. Paket ikan patin, nasi dan es teh manis cuma 22 ribuan. Pak suami kebetulan doyan sama pindang patin. Karena penasaran jadilah kami mampir.

Rupanya nama ya warungnya adalah Dwi Sari. Lokasinya di Jalan Raya Kalimalang Jakarta Timur, di pinggir jalan banget dan persis sebelahan banget sama tembok resto fast food KFC. Jadi gampil banget kan patokannya. Kalau dari arah Jatiwaringin atau Pondok Gede, kita tinggal ngelewatin lampu merah Pangkalan Jati, belok kanan, sampe deh.

Walau namanya warung, kayaknya lebih tepat disebut resto deh. Sebab tempat makan untuk pengunjung dibagi dua, smoking dan non smoking lengkap dengan AC. Kebetulan bangunannya pun masih baru, jadi masih bersih banget. Kami lalu memilih non smoking area.

Nah ini adalah deretan menunya. Pindang patinnya termasuk menu baru jadi gak tercantum di list ini.

rsz_20180725_192128

Kalau dilihat dari menunya, nampaknya cukup inovatif ya, karena ada nila geprek mozarella segala. Tapi karena emang anaknya receh, boro-boro nyobain menu baru, saya cuma mesen yang saya ngerti rasanya aja haha. Pesen nila goreng cabe ijo. Suami sudah tentu langsung pesen pindang patin.

Nah ini penampakan nila goreng cabe ijonya. Disajikan bersama satu mangkok sayur asem.

rsz_20180725_193456

Dan ini pesanan pak suami. Difotonya pas udah setengah makan, makanya udah jelek hihi.

rsz_20180725_194013

Pindang patinnya ada potongan nanas selain timun. Sudah ada nanas, ndilalah rasa bumbunya juga rada manis. Jadi terasa double manis di lidah. Saya yang nyicipin kuahnya pun berpendapat sama. Bagaimana dengan rasa nila goreng pesanan saya? Sama saja….sambel ijonya cenderung manis. Sayur asemnya? Saya cuma nyicip setengah sendok karena…muanis poll.

Lha ini issuenya soal manis semua dong? Hehehe…iya mungkin lidah setiap orang beda-beda ya. Di lidah kami terasa manis, mungkin untuk orang lain kadar manisnya biasa aja.
Secara keseluruhan, lumayan kok makan di sini. Apalagi ikan nila saya itu juga rasanya manis, ciri khas ikan yang memang masih segar dan langsung dimasak. Kayaknya memang selalu berasal dari stok ikan baru, bukan ikan 2 hari lalu yang disimpan di freezer kemudian disajikan buat pembeli.
Harganya pun lumayan terjangkau. Walaupun memang kalah rame sama tembok sebelah yang rasanya lebih familiar terutama untuk anak-anak hehehe.

Bisa menjadi salah satu warung yang direkomendasikan juga, saat lidah bosan sama makanan standar macam pecel lele, soto, mie ayam, ayam geprek, dan lain-lain.

Kalo kapan-kapan ke sini lagi, pengen nyobain nila bumbu rujaknya. Penasaran rasanya kayak apa. Sekian postingan kuliner kali ini. Semoga bermanfaat dan terima transferan  kasih sudah membaca 🙂
signature

 

Advertisements

4 thoughts on “Patin dan Nila di Warung Dwi Sari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s