Banyak yang Sakit

Belakangan ini saya sedih. Mendengar orang-orang di sekeliling saya sakit. Beberapa di antaranya sakit yang gak main-main.

Yang terdekat adalah rekan kerja yang masih muda. Usianya bahkan belum ada seperempat abad. Lagi senang dan semangat-semangatnya kerja, sampai sebuah vonis datang padanya.

Leukimia.

Saya langsung berusaha memposisikan diri, gimana kalo saya jadi ortunya? Sudah pasti begitu banyak air mata yang tumpah. Yang menderita sakit sendiri nampak begitu tegar, walau saya tau sudah pasti ia shock berat. Tapi senyum tetap tersungging di wajahnya. Setiap hari. Dan karena memang sakitnya tidak sampai mengganggu aktivitas fisik, beliau tetap ngantor. Kecuali saat sakit sudah tak bisa ditahan atau harus kontrol ke dokter. Ndilalah berita ini berbarengan dengan penyakit yang sama, yang diderita anak penyanyi Denada.

Beberapa minggu sebelum rekan yang leukimia ini, ada pula teman yang dulu pernah satu kantor, menderita gagal ginjal stadium 5.

Datang tiba-tiba, dan sudah tentu membuat shock karena vonis dokter sudah stadium 5. Usianya bahkan belum ada 36 tahun. Posisi beliau ini kepala keluarga dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Setahu saya istri beliau alhamdulilah masih bekerja juga. Dengan kondisi gagal ginjal stadium tinggi begini, otomatis beliau harus mencari pekerjaan “aman”. Yang dimaksud aman di sini adalah jauh dari lembur, capek, stress. Padahal sebelumnya adalah anak creative agency. Taulah kalian gimana ritme kerja anak agency. Dan tau-tau sekarang harus banting stir mencari pekerjaan berwaktu tetap dan tanpa overtime, agar badan tetap fit. Dua kali seminggu sudah pasti jadwal hemodialisa.

Masih ada lagi. Seorang teman yang usianya belum genap 29 tahun, terkena batu ginjal. Alhamdulilah sudah melalui proses laser, tanpa operasi. Sudah kembali bekerja walau harus benar-benar menjaga kebugaran tubuh agar tidak tumbang lagi.

Tadinya saya kira sudah selesai. Dua hari lalu membuka Facebook dan mendapati teman main masa kecil kena serangan jantung ringan. Terbaring di UGD dan sudah menjalani EKG. Beliau seorang working mom plus pemilik usaha kuliner online yang dikerjakan sepulang kantor.

Duh ya Allah….ini penyakitnya ga ada yang ringan aja macam korengan atau batuk pilek gitu ya? *ngarep.

Semua sudah pasti ada hikmah dan pelajaran di dalamnya. Terjadi di sekeliling saya agar saya bisa belajar dari mereka.

Ya benar, semua karena gaya hidup. Beliau yang leukimia mengaku tak satupun di keluarganya yang menderita leukimia (seperti kita ketahui, leukimia ini bukan penyakit menular dan lebih ke arah diturunkan secara genetik). Rupanya dokter berkata bahwa faktor pencetusnya dari pola hidup. Dan teman saya ini mengakui ya memang gaya hidupnya kurang baik. Ia merokok dan jam istirahatnya kadang terbalik. Yang harusnya malam tidur terkadang malah begadang lembur ngerjain deadline di kantor.

Pun teman yang menderita gagal ginjal. Beliau rupanya punya darah tinggi yang selama ini dicuekin. Kalo mulai ngerasa sakit-sakit badan atau pusing, dicuekin karena dikira sakit biasa. Puncaknya, si darah tinggi menjelma menjadi gagal ginjal.

Lalu yang terkena batu ginjal pola hidupnya pun kurang baik….jarang sekali minum air putih, doyan kopi dan minuman manis kemasan. Akhirnya sekarang beliau hanya diperkenankan minum air putih walau batunya sudah dilaser.

Teman masa kecil yang di-EKG pun dipantang makan asin-asin. Beliau pun rupanya ada darah tinggi yang tidak pernah dirasa, ditambah aktivitas seabregnya di bisnis kuliner, plus masih punya waktu bikin buku antologi bareng teman-temannya. *mbaca aktivitasnya udah bikin saya ngos-ngosan apalagi kalo saya yang disuruh ngelakoni?

Saya tuliskan quote dari teman masa kecil saya tersebut (udah izin sama orangnya):

Mempunyai resistensi yang tinggi terhadap rasa lelah dan sakit itu baik. Hanya saja hal itu kadang membuat kita jadi kurang peka terhadap alarm tubuh. Saat tubuh lelah, kita bertahan ah masih kuat.. Saat terasa sakit, kita sok jago.. ah nggak apa-apa.
Sejatinya raga ini punya hak untuk istirahat dan dimanjakan. Berikan haknya, jangan didzolimi.

Nampol banget kalimat terakhirnya. Kadang ini yang bikin kita lupa ya guys. Mentang-mentang badan punya sendiri, kemudian kita lupa bahwa ia gak punya mulut dan gak bisa teriak “please saya butuh istirahat.”

Untuk semua temanku yang sakit, kalian lekas sembuh ya. Tetap semangat dan tetap makan sehat selalu. Postingan ini juga reminder untuk diri sendiri yang walopun sering masak makanan sendiri tapi sesekali masih makan gak sehat dan minum kopi sasetan (udah tau efeknya jahat masih aja diminum…. *sigh).
signature

Advertisements

20 thoughts on “Banyak yang Sakit

  1. deadyrizky says:

    Mempunyai resistensi yang tinggi terhadap rasa lelah dan sakit itu baik. Hanya saja hal itu kadang membuat kita jadi kurang peka terhadap alarm tubuh. Saat tubuh lelah, kita bertahan ah masih kuat.. Saat terasa sakit, kita sok jago.. ah nggak apa-apa.
    Sejatinya raga ini punya hak untuk istirahat dan dimanjakan. Berikan haknya, jangan didzolimi.

    kadang” saya egois
    istri udah capek ngurus rumah
    pengen spa buat manjain badan
    malah gak saya kabulin
    penting sekali ya berarti manjain badan

    Liked by 1 person

  2. Emaknya Benjamin br. Silaen says:

    Sekarang makanan makin modern makin banyak kandungannya yg malah bikin tubuh ga sehat mba, misalnya aja fast food. Walau sdh masak sendiri, namanya penyakit bisa datang kapan aja dari mana aja. Sudah makan sehat masakan rumah, tp kerja sampai dini hari atau maen game online misalnya sampai dini hari tuh spt adik cowoku dan suamiku klo ga kerja, bisa jadi pemicu penyakit juga. Bagusnya makana makanan sehat dan menjaga pola hidup sehat 😉 idealnya begitu, kenyataannya ga melulu bisa ya mbak haha 😀 .

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      nah bener Nell…susyeeee banget nerapin secara seimbang. Udah coba makan sehat tapi olahraganya kurang, ya sami mawon ya. Semoga adik cowokmu dan suami enggak sampe kecanduan game online kayak orang2 ya.

      Like

  3. Seaマ says:

    Quote yang bagus. Kalau jaman dulu orang usianya panjang2 karena nggak ngoyo kali ya. Oya sama rajin cek kesehatan, darah, EKG, papsmear dsb…penting juga dijadwalkan rutin. Bukan karena knp2 itu ibaratnya rapor kesehatan yang bisa bikin insyaf bila ada yang perlu diperbaiki.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Nah itulah mamasea…..kadang rasa males jauh lebih menguasai. Jadinya enggak jadi jadi deh cek papsmear EKG dll dll, huhuhuhu…..
      Bener, dan orang zaman dulu makanannya lebih sehat, polusi juga masih kurang dan masih banyak faktor lain yang membuat hidup mereka lebih bahagia dan sehat ya

      Like

  4. Yos Adya says:

    Wah, jadi diingetin buat jaga kesehatan badan nih. Walaupun aku masih muda, tapi aku punya jam tidur yang bisa dibilang berubah-ubah tiap harinya. Kadang juga kurang minum, jadi sering emosian.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      halo Yos…bener. Apalagi zaman sekarang ya, gaya hidup manusia berubah, jadinya kita harus pandai2 memilah mana yang baik/sehat dan mana yang tidak. Ayo banyakin minum air putih, jangan minum kemasan melulu hehe

      Liked by 1 person

  5. vanidiana_wordpress says:

    Sama mbak… kalau dengar cerita suami tentang junior2nya di kantor yang sakit, saya jadi ikutan sedih. Mereka lebih muda, sedang produktif, tiba2 sakit. Mungkin sdh suratan dari Tuhan ya, tp setidaknya bisa jadi pembelajaran buat yg sehat. Saya jg sering tidur malam, tahu sih nggak baik, tp kok suka penasaran ngoprekin blog… kebiasaan ga bagus ini.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s