Jangan Marah-Marah Atuh

Asian Games gak kerasa tinggal 15 hari lagi ya. Bangga dong kita jadi tuan rumah lagi setelah 56 tahun yang lalu. Membayangkan Jakarta dan Palembang tiba-tiba disesaki ribuan atlet asing yang ganteng-ganteng  cukup membuat hati ini berasa gembira, walaupun mungkin saya hanya melihat via televisi.

Sehubungan Asian Games ini, kemarin saya baca sebuah artikel di salah satu website. Penulis menyinggung bahwa warga DKI dan Palembang pantas untuk marah pada pemerintah daerah masing-masing. Karena Asian Games 2018 lah pemerintah daerah jor-joran mempercantik kota. Yang paling mudah dijadikan contoh ya di Jakarta (karena saya warga Jakarta jadi kurang paham yang terjadi di Palembang): pemasangan waring di Kali Item/Kali Sentiong dan berujung pada penaburan bubuk DeoGone buat ngilangin bau busuk kali.
Lalu trotoar di Jakarta dipercantik dan diperluas. Belum lagi beberapa sudut kota yang dicat warna-warni dan jadi spot yang instagramable.

Penulis merasa layak menumpahkan kemarahan karena hanya gara-gara 44 negara alias tamu asing mau berkunjung ke Jakarta, barulah sebagian permasalah kota ini dibereskan. Kali Item yang sudah belasan tahun bau tiba-tiba dalam satu minggu kelar baunya hanya gara-gara ada tamu asing mau datang. Padahal anggaran mempercantik kota itu ada di APBD dari tahun ke tahun tapi baru dipakai sekarang demi image bangsa di depan tamu asing tersebut. Duh sedihnya si penulis sampe bawa-bawa kalimat bahwa kita ini masih menganggap orang asing superior. Giliran mereka mau datang dibela-belain bersih-bersih dll. Sampe keluar kata-kata mental inlander…. (sedih akutu bacanya 😦 )

Saya ngobrolin masalah ini sama pak suami.

Pak suami: Lhah penulisnya itu gimana?  Coba mikirnya begini: kalau rumahnya dia mau kedatangan tamu, dia bakal bela-belain gak bersih-bersih rumah? Nyiapin makanan yang biasanya enggak ada, dibela-belain beli? Contoh kecil, biasanya gak minum kopi, eh tau-tau besok temen-temen klub motornya pada mau main ke rumah, pada doyan ngopi. Bela-belain beli kopi, ngevakum semua sofa dll, karena menghargai tamu. Ya sebetulnya ini mah sama aja sama Pemda DKI dan Palembang. Jadi kudunya gak usah marah-marah.

Saya: Iya bener juga ya pak.

Pak suami: Belum lagi ditambah efek di kemudian hari yang mungkin gak terlintas di pikiran sang penulis: kotanya bersih, kece, dipercaya jadi tuan rumah event internasional, trus investor pada mau datang. Momen-momen kayak gini sebetulnya malah kudu dimanfaatin buat “ngejual” Indonesia biar dilirik banyak pihak yang pada akhirnya bisa nambah pemasukan negara.

Saya: Iya. Kalo aku sih udah syukur alhamdulilah banget kotanya dipercantik begini. Udah sukur banget Pemda mau turun tangan demi menghargai tamu yang mau datang. Sekarang sebetulnya tugas kita aja sebagai warga…gimana caranya supaya tetap bisa menjaga dan merawat apa yang udah cantik tadi. Jangan dirusak, dicoret-coret….
Kalo bisa sering-sering aja deh Jakarta jadi tuan rumah event internasional apapun, biar tetap terjaga kecantikannya 🙂

Intinya kalau saya sama pak suami ya bersyukur aja udah dipercantik. Namanya mau ada tamu, siapapun tamu itu. Yuks sama-sama bantu merawat dan ngejagain biar gak pada rusak dan kumuh lagi begitu Asian Gamesnya kelar 🙂

Selamat weekend semua 🙂
signature

Advertisements

5 thoughts on “Jangan Marah-Marah Atuh

    • imeldasutarno says:

      Huhuhuhu….hiks hiks, ya dia maunya pemda DKI itu harusnya udah dari zaman dulu ngurusi kota, percantik kota. Ga usah nunggu ada tamu dulu baru gerak bersih2in kota. Yg aku simpulkan maunya dia begitu mbak

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s