Mantan Karyawan dan Tagihan Kartu Kredit

Minggu lalu saya ngobrol via WA sama Sekar. Dia cerita kalau di kantornya, bagian resepsionis beberapa hari ini resah. Gimana enggak? Ada beberapa telepon masuk dari aneka bank dan menanyakan nama karyawan yang bekerja di situ. Karyawan yang bersangkutan rupanya punya tagihan kartu kredit dan belum dibayar, maka dikejarlah via telepon oleh bagian penagihan bank.

Yang bikin pusing katanya, semua karyawan-karyawan yang dicari itu, posisinya sudah resign lama. Ada yang sudah resign 1 tahun, ada yang resignnya baru 5 bulan lalu. Macam-macamlah.

Sebagai resepsionis, posisi teman Sekar itu serba gak enak. Si penagih sudah dijawab baik-baik bahwa karyawan yang dicari sudah resign lama, eh tetap ngotot maksa dan bertanya, pindahnya ke mana, nomor hapenya berapa? Intinya si resepsionis yang gak punya urusan malah semacam kena semprot sama penagih.

Pihak penagih juga mungkin memang sudah diset sama atasannya untuk mencecar sampai akhirnya bisa dapat info dan bisa terhubung dengan orang yang dimaksud. Sungguh belibet.

Beberapa penagih pun malah ngotot karena merasa mentok di resepsionis, mereka minta disambungkan ke pihak HRD. Berharap dari HRD bisa mendapat info ke mana karyawan tadi pindah.

Lalu pernah pula, saking udah keselnya masuk telepon dari pihak credit card, HRD kantor Sekar mencoba mengontak mantan karyawannya, sebut saja namanya Arif, dan suruh langsung beresin utang-utangnya di bank, jangan bawa-bawa lagi kantor lamanya. Dan Arif pun say sorry sembari menjelaskan bahwa sebetulnya yang memiliki masalah utang itu adalah adiknya namun menggunakan/minjem credit card beliau. Asli, hubungannya udah terlalu jauh ya, sampe ke adik mantan karyawan segala?

Bikin pusing ya? Saya yang WA-an sama Sekar aja ikutan gemas. Ada kemungkinan hape karyawan pengutang tidak diangkat-angkat alias menghindar dari pihak penagih, sehingga mau tidak mau penagih menghubungi nomor kantor.

Lalu akhirnya jalan keluar dari pihak kantor Sekar adalah: kalau ada penagih menelepon lagi, resepsionis langsung kasih saja nomor hape yang berutang. Toh data no hp masih tersimpan di database HRD. Mau tidak mau. Supaya nextnya kantor Sekar aman dari rang ring rang ring para penagih. HRD sudah tidak mau lagi bersusah payah  mengontak satu per satu macam kasus Arif tadi. Ngabisin energi padahal bukan kita juga yang punya urusan.

Moral of the story: jika suatu saat kita bekerja dan lepas ikatan dari kantor lama/mengundurkan diri , jangan kemudian masih melibatkan kantor tersebut apalagi dalam urusan utang begini. Usahakan resign dengan baik, meninggalkan kesan yang baik, dan bereskan semua urusan pribadi sesegera mungkin. Jika saya ada di posisi Arif, entah mau ditaruh di mana muka ini a.k.a malu.

Temans pernah mengalami kejadian seperti di kantor Sekar?
Mudah-mudahan enggak ya 🙂
signature

Advertisements

15 thoughts on “Mantan Karyawan dan Tagihan Kartu Kredit

  1. inlycampbell says:

    Aku ada pengalaman ini juga, nti kapan2 ku tulis.. kurleb, akunya yg dijadiin contact darurat, “diangkat” jadi sepupu.. alhasil tuh org ngabur ga mau bayar, aku yg dikejar2, di tlp ke hp gak bisa, neror kerumah.. mau marah banget deh pokoknya..

    Liked by 1 person

  2. tattock says:

    pernah ngalami. kebetulan mantan karyawan yang dicari sudah meninggal dunia. eh, masih gak percaya saja. nanya makamnya dimana …. hihihi, kacau para debt collector itu. kata teman, biasanya mereka dari pihak ketiga yang di-hire pihak bank terutang. nah karena pendapatannya berdasarkan komisi atas utang yang tertagih, jadilah semangat nagih utangnya kelewatan …

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s