Pas Males Ngobrol

Menjelang siang. Naik ojek online dari rumah ke kantor.

Abang ojek: Neng berangkat kantor atau ke mana?
Saya: Kantor pak
Abang ojek: Siang amat neng ngantornya?
Saya: hehe…iya pak hari ini izin sama bos datang siang, ada urusan dulu soalnya tadi.

(Padahal aslinya emang berangkatnya rada siang. Gak ada urusan apa-apa. Abang ojek mindsetnya kalo berangkat kerja tu pagi, ya jam 7 kek, jam 8 kek. Bukan lebih siang dari itu.)

Suatu hari sepulang kantor. Mau langsung ke rumah sakit ketemu dokter bedah. Waktu itu emang mau konsultasi soal tumor. Lengkapnya kenapa tumor, baca di sini. Naik ojek online lagi.

Abang ojek: ke rumah sakit neng? Mau periksa?
Saya: engga pak. Mau jenguk anaknya teman, sakit typhus.
Abang ojek: ooo gitu

(Karena kalau saya katakan yang sebenarnya ngobrolnya bakal panjang sama si abang ojek ini)

Di puskesmas ketika antri periksa dokter gigi. Lansia wanita di sebelah saya terlihat ngobrol cukup panjang dengan bapak di sebelahnya lagi. Saya kira itu keluarganya padahal orang lain. Ibu lansia cerita panjang lebar aneka topik atau lebih tepatnya menceritakan dirinya sendiri, yang bahkan gak ditanyakan samasekali sama orang di sebelahnya itu. Bapak tersebut hanya bisa menimpali dengan mengangguk-angguk, sesekali tersenyum. Kemudian orang tersebut sudah dipanggil ke ruang dokter, menyisakan saya dan si ibu lansia di bangku tunggu. Dan ketika si ibu ancang-ancang membuka percakapan dengan saya, di saat yang bersamaan saya khusyuk membaca hp saya. Baca berita aja.

Ibu lansia: nomor berapa mbak antriannya?
Saya: nomor 4 bu (lalu sesudah itu nunduk lagi ke hp)
Ibu lansia: oh saya nomor 5. Masih lama ya, itu bapak yang barusan dipanggil baru nomor 2
Saya: senyum lalu nunduk khusyuk lagi
Ibu lansia: terlihat awkward, gerakannya antara masih pengen ngajak ngobrol tapi karena yang diajak ngobrol ga merhatiin, dia gelisah gerak-gerak sendiri.

(Aslinya saya memang sengaja menghindari. Berbekal pengalaman bapak di sebelah ibu lansia tadi yang nampak bersusah payah menyudahi omongan si ibu tapi gak bisa-bisa, sayapun gercep/gerak cepat untuk menentukan tindakan agar terhindar menjadi korban berikutnya. Dan satu-satunya penyelamat adalah hp. Mungkin si ibu lansia ngebatin “anak zaman sekarang, kurang etika, hapean melulu, diajak ngobrol malah cuek dll dsb…”

Terkadang kita “terperangkap” dalam situasi “males cerita, males ngobrol, males komen.” Sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya yang terjadi adalah merespon dengan kebohongan, kekurangajaran, dan segenap yang negatif-negatif lainnya….

Siapa yang juga pernah dalam situasi kayak saya? 🙂

signature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s