Edisi Dibuang Sayang- All About Screen

Kembali lagi di edisi dibuang sayang. Udah part 11 aja. Ya iyalah, namanyapun kumpulan tulisan receh-receh, udah pasti banyak jumlahnya. Ibaratnya kita ngumpulin uang koin gopean, kan lebih banyak ya jumlahnya ketimbang lembaran merah seratus ribuan? (ya gak usah nyindir kemiskinan sendiri gitu dong jeng).
Ada cerita receh apa saja selama ini?

1. Menerima e-mail yang variatif dari pelamar.
Tadinya mau dibuat postingan khusus, tapi ah udahlah masukin aja ke dalam kumpulan tulisan receh ini.
Jadi dua hari lalu, saya nerima e-mail dari pelamar. Anak fresh grad. Mungkin males, atau gimana, doski abis ngelamar ke perusahaan — let’s say nama perusahaannya PT ABC– lalu e-mail ke PT ABC itu diforward plek ketiplek ke saya. Jadi kalimat pembukanya gini: Dear HRD PT ABC,……
Kemudian ada pula yang mengirim CVnya borongan ke banyak perusahaan dalam satu e-mail yang sama.
Yang saya lakukan: mereply e-mail mereka sembari memberikan saran. Biar next timenya e-mail mereka ke perusahaan lain bisa lebih sopan. Terlihat sungguh sotoy, sungguh sok tau ya saya? Tapi saya yakin, perbuatan saya ini dilakukan dengan harapan sang pelamar bisa lebih baik dan memperhatikan etika melamar ke perusahaan lain. Cukuplah ke perusahaan saya saja mereka berlaku seperti itu. Mudah-mudahan besok lusa ke perusahaan lain mereka bisa lebih baik dan profesional lagi.

Nah jika yang tadi adalah e-mail yang  main forward dan borongan, ada lagi e-mail yg berbeda dari another candidate (udah terlihat anak Jaksel gak nih gaya nulisnya, bwahahaaha…..). Biasanya surat pengantar CV bahasanya formal dan standar, kali ini berbeda. Tapi gapapa, karena ini cerminan kreativitas sang kandidat.

20180912_162019

E-mailnya masih panjang ke bawah, makanya saya potong aja.

2. Cerita teman soal medsos orang lain
Seorang teman kuliah saya bercerita mengenai medsos teman mengajinya di mesjid. Teman saya ini wanita, dan temannya lagi sebut aja namanya Mbak Cantik. Menurut teman saya, Mbak Cantik ini sedikit membingungkan. Di satu sisi beliau tidak ingin mempertontonkan wajahnya ke khalayak ramai. Karena menurut beliau, jangan sampai wajah istri dilihat dan “dinikmati” via medsos oleh laki-laki lain terutama yang bukan muhrimnya. Sehingga isi medsos Mbak Cantik seringkali hanya foto tentang keindahan alam.
Namun belakangan, Mbak Cantik pun banyak memposting wajahnya, selfie, namun bagian hidung ke bawah ditutupi stiker (stiker dari apps Android). Entah stiker bentuk hati, icon senyum, dan lain-lain.
Di satu sisi Mbak Cantik pengen eksis, di sisi lain beliau juga terikat pada aturan yang beliau yakini, sebagaimana sudah saya jelaskan di atas. Mungkin cara yang ditempuhnya itu (menutupi wajah dengan stiker) adalah win win solutionnya. Saya bilang ke teman kuliah saya, ya udahlah biarin aja. Gak usah dipuyengin, gak usah dinyinyirin. Kalau memang gak suka cukup diunfollow, kalau masih mau temenan ya udah gak usah ngomongin di belakang. Hehehe…sok bijak banget ya eikeh?

3. Masih tentang medsos, difollow akun tak dikenal.
Saya ini gaptek. Main medsos bisa, tapi banyakan gak ngertinya. Sampai kemarin, akun IG saya tiba-tiba memfollow akun lain yang saya gak kenal dan gak pernah merasa mengklik follow. Ketauannya ketika postingan akun tersebut muncul di timeline IG saya. Akunnya akun jualan/promosi gitu. Ketika bertanya lewat IG Story, kesimpulan yang saya dapat dari jawaban beberapa teman adalah:
1. Kemungkinan itu akun teman saya yang kemudian diganti namanya dan peruntukannya jadi buat promo/jualan.
2. Praktik jual beli followers yang menggunakan apps, dan akun saya “keseret” via apps tersebut sehingga saya seolah-olah sudah memfollownya.
Entahlah….yang pasti saya langsung unfollow. Dan ternyata banyak teman lainnya yang juga mengalami hal yang sama loh.

4. #TimIGStory atau #TimTimelineIG?
Saya memang rada jarang ber-IG Story ria. Lebih banyak “ngasih makan” ke feeds, walopun foto-foto saya buram kurang cahaya semua wahahahaha. Nah ketika saya ber IG Story ria, saya melihat ada sebuah kecenderungan. Mungkin sudah lama terjadi namun buat saya yang sekali lagi jarang ber-story, baru keliatan sekarang.
Bisa jadi penyebabnya IG story ini gak semua orang melakukannya. Katakanlah kita follow 100 orang, lalu yang hari ini ber IG Story ria hanya 5. Otomatis si lima orang ini muncul di deret atas IG Story ya. Sisanya mungkin lebih banyak posting foto di feeds. Karena hanya sedikit, mata dan jari pun mau tidak mau mengklik yang sedikit ini. Dan mungkin, IG Story jauh lebih menarik ketimbang melihat postingan di timeline. Biasanya orang memposting hal-hal receh namun menghibur.
Nah beberapa followers saya perhatikan, jauh lebih suka melihat-lihat IG Story saja. Padahal di saat yang bersamaan terkadang saya menghujani feeds saya dengan foto-foto. Namun mereka konsisten hanya melihat story tanpa mengklik like pada foto di feeds. Terjadi berulang kali. Orangnya pun konsisten itu-itu juga.
Nah kalau saya, selain suka melihat story, juga suka me-like foto orang-orang yang saya follow apalagi kalau foto-fotonya bagus. Kalau kalian tim yang mana? #TimIGStory atau #TimTimelineIG?

Wah ternyata Edisi Dibuang Sayang hari ini semuanya cerita berbau screen ya. Mulai dari e-mail sampai medsos. Kalau kalian punya cerita apa hari ini?
signature

Advertisements

2 thoughts on “Edisi Dibuang Sayang- All About Screen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s