Kisah Ali dan Mamat

Di suatu kota, tersebutlah seorang pria bernama Ali. Ia bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi kelas menengah di salah satu kota di Jawa Barat. Kantornya berupa sebuah rukan. Satu tahun setelah bekerja, Ali sering sakit. Bolak balik ke dokter. Awalnya ia mengira hanya karena kecapean, karena memang ia sering lembur untuk menyelesaikan deadline-deadline pekerjaannya. Belum lagi sering kerja lapangan, dan gak kenal waktu. Tengah malam pun ada di lapangan, kena angin malam.

Hingga di satu titik, dokter menyarankan untuk check up menyeluruh. Dan Ali pun divonis terkena ada tumor di kelenjar getah bening, dan stadium akut.

Dunia serasa runtuh saat itu juga. Sejak saat itu, Ali terpaksa beberapa kali izin bolak balik ke dokter untuk menjalani serangkaian perawatan. BPJSnya pun bermasalah. Sebagai perantau dari Banda Aceh, faskes rujukan pertama BPJSnya yang terdaftar masih dalam area Banda Aceh. Kemudian ketika akan pindah faskes, ada sedikit masalah, entah apa. Intinya BPJSnya masih belum bisa terpakai sementara waktu.

Ali tetap butuh berobat. Akhirnya yang ia lakukan adalah menggunakan uang pribadi. Uang pribadi dari gajinya yang tak seberapa, habis. Lalu mulailah ia menggunakan kartu kredit dan memanfaatkan beberapa pinjaman online.

Yang terjadi kemudian adalah, Ali dikejar debt collector. Karena seiring dengan membengkaknya utang, iapun kehabisan uang untuk melunasi. Saban ada uang, saban itu pula ia harus kontrol ke dokter. Bagaimana bisa melunasi utang?

Ali akhirnya meminta keringanan pada kantornya. Supervisor langsung Ali dan juga teman-temannya, sudah tentu iba dengan keadaannya. Ali berutang bukan untuk foya-foya, tapi memang untuk ikhtiar mengobati sakitnya.

Orang tua di Banda Aceh hanya bertani dan hasilnya pun tidak seberapa. Ali tak tega meminta bantuan orang tuanya, karena ia tau jumlah utangnya 10x lipat dibanding penghasilan ortunya.

Ali terpuruk. Ia berada di titik terendah. Bahkan untuk membeli nasi di warteg pun ia sudah tak punya uang lagi. Dengan terpaksa ia meminta bantuan ke beberapa teman. Yang memiliki kelebihan, meminjamkan sedikit uang ke Ali. Supervisor pun mengizinkan Ali untuk tinggal di rukan sementara, agar ia tidak perlu terbebani membayar kontrakan rumah. Uang untuk kontrakan bisa dialokasikan untuk membayar utang.

Satu minggu berlalu sejak keterpurukannya. Sampai Mamat, teman sekantor Ali, menangkap beberapa gelagat aneh. Ali tak kunjung “pindah rumah” ke kantor. Alasan demi alasan dikemukakan. Mulai dari malu dengan sesama teman karena yg lain punya rumah sementara ia harus tinggal di kantor, sampai alasan di kantor akan sering masuk angin karena hanya tidur beralas kasur Palembang nan tipis. Ya memang di satu sisi Ali wajib mempertahankan fit tubuhnya agar penyakit tidak semakin menggerogoti. Namun di sisi lain, dalam keadaan terdesak dan terpuruk begini, tawaran itu selayaknya diterima saja…..ini menurut Mamat. Mengapa masih menjaga gengsi?
Gelagat selanjutnya adalah ketika Mamat mendapati Ali membeli makanan mahal ketika jam makan siang. Makanan dari salah satu resto fast food terkenal yang buka gerai di seluruh Indonesia. Bukannya Mamat sirik atau gimana, namun berada dalam kondisi terhimpit begini, mungkin ada baiknya memprihatinkan diri dengan makan seadanya. Ibaratnya nasi+telor+kecap pun jadi, asalkan masih ada sisa uang untuk sedikit demi sedikit melunasi utang. Nanti jika kondisi perekonomian sudah stabil kembali, ya gak papa puas-puasin mau makan semahal apapun…..asal kuat bayar.
Dan puncaknya ketika di suatu sore, Mamat mendapati Ali tengah mengisap rokok menthol yang warna kemasannya hijau putih. Padahal saat baru divonis oleh dokter, Ali sempat bercerita ke teman-teman kantornya bahwa salah satu pantangannya adalah tidak boleh merokok, dan benar-benar harus menerapkan pola hidup sehat. Sekali lagi Mamat ngebatin….duh bukannya mengirit, malah membakar uang. Duh bukannya ada niatan untuk sembuh, kok malah memperburuk penyakitnya ya?

Mamat lalu menceritakan gelagat tersebut kepada teman-teman yang sudah meminjamkan uang ke Ali. Rasa geram menggelayuti hati mereka. Bahkan sebagian merasa bahwa Ali mungkin hanya bersandiwara tentang sakitnya.

Kemarin mengiba-iba hingga mendatangkan simpati semua orang. Simpati, empati dan prihatin atas penyakitnya. Lalu sekarang tampil seolah-olah tak ada apa-apa? Namun teman-teman ini berupaya bersikap bijak. Walau kesal, mereka tidak mendemo Ali untuk segera mengembalikan uang mereka, namun mereka akhirnya menjadi lebih berhati-hati/waspada menghadapi karakter Ali ini. Tetap berteman sebagaimana biasa, namun waspada jika suatu saat ia kembali memohon bantuan.

Cerita di atas diceritakan ulang oleh sepupu saya yang merupakan teman Mamat. Saya hanya bisa mengambil hikmahnya, bahwa kita pun perlu waspada dan cek ricek sebelum membantu teman. Jangan ikut terbawa panik dengan suasana lalu langsung mengambil tindakan pertolongan. Bukannya jahat atau gimana, karena kita gak pernah tau apa isi hati yang terdalam dari teman kita tersebut.
Cukuplah Mamat dkk yang mengalaminya. Semoga kalian tidak pernah mengalami ini dalam hidupmu ya guys 🙂

Have a nice weekend 🙂
signature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s