Akhirnya Nyoba Flying Fox di Ciseeng…

Bulan Oktober lalu, TK anak saya mengadakan field trip. Dan kali ini orang tua wajib ikut, karena aneka games dan aktivitas yang telah dirancang pada paket ini, selalu melibatkan anak dan ortu.

Tahun ini TK melakukan field trip ke Ciseeng. Mungkin sudah banyak yang tau, bahwa di Ciseeng memang ada arena edukasi sekaligus wisata. Terkenal dengan nama Pelita Desa Ciseeng. Terbagi menjadi 4 wilayah edukasi. Masing-masing diperuntukkan sesuai usia. Ada area edukasi khusus untuk siswa TK dan SD kelas 1. Ada pula yang diperuntukkan bagi anak-anak yang lebih besar usianya, sekitar kelas 5-6 SD. Ada pula area yang diperuntukkan bagi wisawatan umum. Dan sama seperti di tempat ekowisata lainnya di seputaran Jabotabek, di sini pun aktivitas yang tersedia tidak jauh-jauh dari outbound, bercocok tanam, dan beternak. Oiya yang dimaksud tempat lainnya itu misalnya Kuntum Farmfield, Ecopark Ancol, dan D’Farm Mekarsari.

Rombongan sekolah kami tiba di Ciseeng kurang lebih pukul 08.00 WIB pagi. Sampai di sana, disambut dengan welcome drink and snack berupa teh manis dalam gelas alumunium dan jagung rebus. Semua petugas yaitu kakak pembimbing di sini, untuk yang wanitanya, menggunakan pakaian hijab syar’i. Semua menggunakan rok panjang dan jilbab panjang juga. Dari sini saya menyimpulkan bahwa tempat wisata ini memangย  dikelola oleh pemilik yang juga syar’i. Walau demikian siapapun boleh datang berwisata ke sini tanpa memandang agama.

Kakak pembimbing menganjurkan semua orang tua dan anak-anak hanya menggunakan kaos kaki saja selama beraktivitas di area ini. Memang sejak satu minggu sebelumnya, ibu guru sudah nge-brief para ortu agar menggunakan kaos kaki bekas sekali pakai, karena sesudah bermain di dalam area Ciseeng, kaos kaki hampir dipastikan dibuang.

Kenapa?

Karena hampir semua permainan bersentuhan dengan air dan becek-becek euy.

Permainan pertama adalah adu kompak, antar tim per kelas. Orang tua dan murid bermain lomba bakiak, lomba mengisi air dalam pipa, tarik tambang, sampai yang benar-benar berbasah ria yaitu lomba…………….mendorong rakit!
Jadi anak-anak dipakaikan pelampung oleh kakak pembimbing dan diminta duduk di dalam rakit. Kemudian orang tua dari masing-masing kelas yang berlomba diminta mendorong rakit sampai ke finish. Danau yang digunakan untuk permainan ini ternyata cetek, hanya sedalam 60 cm saja atau sepaha orang dewasa.

44742682_2234045323585233_5913082231764549632_o-800x531

Ngos-ngosan ndorong rakit. Foto ini diambil oleh fotografer sekolah

Lomba mendorong rakit lumayan menguras stamina. Ngos-ngosan. Namun hal itu lalu dibayar dengan bermain flying fox. Semua anak dan orang tua wajib mencoba karena ini memang sudah termasuk paket wisata.

Norak memang saya. Ini adalah pertama kalinya saya bermain flying fox dalam hidup saya. Dan ketika meluncur, ya Allah….ternyata bukannya takut, tapi saya ketagihan euy hahahahaha…… soenggoeh kampoengan sekali! Sayangnya kesempatan flying fox per orang hanya sekali saja, hiks hiks. Dan alhamdulilahnya, Lintang pun tidak takut ketika harus meluncur dengan flying fox. Awalnya saya meragukan, sebab anak ini kalau lagi main di waterboom aja gak pernah mau celupin kepala ke air karena takut. Eh ini melayang di udara dia malah senang ๐Ÿ™‚

44789897_2234080980248334_8378972743382597632_o-600x899

Alhamdulilah dia berani. Foto diambil oleh fotografer sekolah

1541070260751_44742086_2234081503581615_5228248450876833792_o-600x899

Mamak-mamak norak detected. Foto diambil oleh fotografer sekolah

Kegiatan selanjutnya sesudah flying fox, benar-benar dikhususkan untuk anak-anak. Btw makin siang area Ciseeng mulai ramai. Karena ribuan anak sekolah lainnya pun sudah berdatangan. FYI, dari salah satu petugas kami mendapatkan info bahwa kapasitas/daya tampung per hari adalah 1.500 orang. Untung areanya luas (kurang lebih 3 hektar) jadi gak sumpek ngeliat segitu banyak orang berwisata dalam satu wilayah.

Anak-anak selanjutnya bergiliran diajak kakak pembimbing mulai dari:

Mencoba naik bajak sawah
20181018_111315-800x600[1]

Menanam padi
20181018_111919-800x600[1]

Menumbuk beras

20181018_112400-600x800[1]

Menumbuk beras, tapi kok isinya alu semua ya?


Menampi beras
20181018_112619-1-600x1072[1]

Memerah susu sapi
20181018_113022-800x600[1]

Sampai mencoba susu sapi yang sudah jadi.
20181107_143212-600x800[1]

Tapi jangan diharap semua aktivitas bisa berjalan dengan penghayatan yaaa…

Soalnya yang antri kan bukan sekolah anakku aja, tapi banyak siswa dari sekolah lain. Akibatnya masing-masing aktivitas cuma dijalanin “asal sudah menjalani.”. Maksudnya gini: naik bajak sawah, cuma setengah putaran kolam yang mungkin kalo dihitung pake waktu ya cuma 30 detik kelar. Lalu gantian sama siswa lainnya. Begitu pula aktivitas nanam padi. Ketika kakak pembimbing memberi aba-aba 1,2,3 dan anak-anak mulai menancapkan padi ke sawah yang berlumpur, seketika itu pula selesai. Entah nancepinnya benar atau miring atau malah gak nancap samasekali, wis embuhlah, yang penting udah menanam padi. Kemudian buru-buru bergantian dengan yang lainnya. Merah susu juga begitu: hanya sekali tarikan perah pada susu sapi betina, kemudian selesai. Nah kalau ini saya setuju sih. Coba kita bayangkan, sapi-sapi yang sama setiap hari ditarik-tarik susunya, diperah oleh ratusan siswa. Wajar saja kalo satu siswa hanya diberi kesempatan satu kali tarikan. Kasian sapinya euy ๐Ÿ™‚

Di tengah kegiatan, kurang lebih pukul 10.00 WIB, kami semua diberi snack berupa semangkok mie bakso. Alhamdulilah abis ndorong rakit, dan aneka lomba yang cukup menguras energi, ada asupan bakso yang lumayan mengenyangkan.
Setelah ngebakso, kami lanjut lagi.

Kegiatan berikutnya adalah meniti aneka jembatan. Ada jembatan titian dari papan, ada yang dari tali, ada pula yang dari batu-batuan. Dan area ini antrenya lumayan. Karena terkadang satu anak lama sekali untuk berani melewati titian sampai akhir. Karena rata-rata di bawah jembatan adalah kolam/air. Padahal kolamnya itu dalamnya hanya sebetis anak saja.

20181018_121815-800x600[1]

 
20181018_114411-800x600[1]

Penutup kegiatan hari itu adalah nyebur ke kolam ikan. Sebetulnya anak-anak diharapkan menangkap ikan yang ada di kolam cetek (dalamnya lagi-lagi hanya sebetis anak saja) tersebut. Namun yang terjadi, anak-anak bersuka ria berenang-renang dan teriak kegirangan. Yo wis karepmu nduk, sing penting hepi ๐Ÿ™‚

20181018_122603-800x600[1]

Ini kolam ikannya

Selesai beraktivitas, waktunya mandi. Nah ini yang jadi highlight utama di tempat wisata model ekowisata begini. Jumlah kamar mandi jomplang dengan jumlah pengunjung. Kan sudah kebayang betapa ratusan siswa yang sudah berbasah ria itu akan membersihkan diri dalam waktu yang hampir bersamaan. Namun kamar mandinya hanya sedikit sekali. Saya sempat bertanya ke salah satu petugas yang lewat di depan saya tentang lokasi kamar mandi yang lain. Dan dijawab ada kumpulan kamar mandi lain, tetapi ia menunjuk ke arah nun jauh di sana. Karena luasnya area ini, maka lokasi kamar mandi memang tersebar di beberapa titik. Namun di satu titik hanya tersedia 4 kamar mandi, hiks hiks…..

Satu orang harus antre lumayan lama, karena ya memang anak-anak dan juga ortu yang mendampingi sebaiknya mandi full body. Keramas segala macam, karena udah bau amis, campur lumpur dll. Apa daya kamar mandi super terbatas.

Tersedia pula banyak keran semacam keran wudhu dengan kondisi outdoor. Dan tau apa yang selanjutnya terjadi? Para orang tua memandikan anaknya di keran itu, karena terlalu lama antre kamar mandi. Dengan alasan: ah masih kecil ini, para ortu tanpa risih memandikan anak-anaknya. Tanpa busana. Campur siswa laki-laki dan perempuan.

Jujur sekali saya risih banget. Tempat ini seperti yang saya sampaikan di awal, rasanya dikelola oleh pemilik yang syar’i. Ditambah TK anak saya ini adalah TK Islam. Aurat oh aurat…..
Ah sudahlah, saya rasa pembaca sudah tau ke mana arah paragraf ini.
Beberapa orang tua termasuk saya berkeluh kesah mengenai kamar mandi
Seandainya pengelola menambah jumlahnya lebih banyak lagi, karena sarana itu adalah kebutuhan vital berkaitan dengan aktivitas utama di area ekowisata yang mengharuskan tiap orang membersihkan diri dengan mandi sebersih-bersihnya untuk menghilangkan lumpur dan tetek bengeknya.

Saya bahkan ga mandi. Hanya cepat-cepat membersihkan lutut ke bawah dengan sabun, lalu berganti pakaian setelah antre kamar mandi hampir 30 menit.

Selesai beres-beres, kami dijamu makan siang berupa nasi kotak. Dan tak lupa sholat dzuhur.
Setelah semua aktivitas dinyatakan selesai, rombongan pulang. Dan tak lupa masing-masing anak diberikan oleh-oleh berupa satu ekor ikan hias. Senangnya Lintang dapat oleh-oleh macam begini. Field trip kali ini memang menyenangkan walaupun masih ada kekurangan di sana sini. Terima kasih bu gurunya Lintang udah ngadain acara ini. Kalo enggak, saya gak akan tau betapa serunya melayang main flying fox itu hahahaha……

Eh iya sampai di rumah, saya dapat “bonus” sementara Lintang alhamdulilah enggak. Apa bonusnya? Gatal-gatal dari lutut ke bawah. Mungkin gara-gara air danau yang memang bercampur tanah dan lumpur. Huhuhuhu…lumayan ngalamin gatal-gatal lokal selama 2 harian setelah field trip.

Untuk yang ingin berwisata ke Ciseeng, silakan kunjungi dulu website-nya untuk mengetahui paket-paket wisata yang tersedia ya. Alamatnya diย ย Jl. H. Miing, RT. 01 / RW. 03, Putat Nutug, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat 16117.

Terima kasih sudah membaca postingan ribuan karakter ini ya ๐Ÿ™‚ Semoga bermanfaat dan menginspirasi ๐Ÿ™‚
signature

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Akhirnya Nyoba Flying Fox di Ciseeng…

    • imeldasutarno says:

      Wow luar biasa, mas Deady mbaca postinganku cuepet tenan. Baru beberapa detik posting udah ada komen masuk. Alhamdulilah.

      Kalo Kuntum enaknya lebih bersih mas. Ciseeng ini relatif desa banget yang masih banyak tanah dan lumpur. Kuntum udah lebih tertata makanya mungkin mihil ya hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s