Blusukan ke Pasar Becek

Siapa yang suka pergi ke pasar becek? Semenjak punya anak, dan disupport oleh suami yang lebih doyan masak sendiri ketimbang jajan di luar, maka pasar becek menjadi salah satu idola kami berdua. Pasar becek itu maksudnya pasar tradisional ya temans. Soalnya sejak zaman dahulu pasar tradisional tuh kok ya identiknya sama becek dan basah melulu?
Walaupun sekarang udah banyak pasar modern di mana-mana, yang lebih bersih, teratur dan tetap berjualan aneka kebutuhan sayur mayur dan bahan-bahan masakan lainnya.

Kenapa demen ke pasar becek? Karena banyak barang-barang yang gak akan ditemukan di supermarket, dijual di pasar tersebut. Daun kunyit, jeruk peras, aneka kerupuk curah, adalah barang-barang yang jarang ditemukan di supermarket. Dan yang pasti bisa nawar harga dan pilihannya lebih banyak. Maksudnya pilihan lebih banyak itu gini: misalnya beli kentang. Di supermarket kentang sih ada tapi ya cuma ada yang di display aja. Sementara kalau ke pasar, pedagang sayurnya buanyak, jadi kita tinggal pilih mau beli di pedagang yang mana, dan kentang yang ukuran berapa.

Kebiasaan pergi ke pasar begini sebetulnya sudah ada semenjak kami pacaran. Yassalaaam…orang mah pacaran ngajak nonton atau makan di tempat romantis ya, lha saya diajak calon suami ke pasar induk Kramat Jati. Ini asli saya sambil nulis sambil senyum-senyum sendiri nginget zaman itu. Diajak malam-malam main ke pasar induk, beli sayur ini itu buat dia masak di kost-kostannya 🙂

Jadwal ke pasar becek pun sempat punya ketika sudah menikah. Tapi on off, jarang ditepati dengan benar alias kadang males, kadang ya rajin, hehe.
Nah belakangan, kami mengusahakan jadwal ini ditepati. Dan memang pasar yang kami sasar selalu pasar versi 24 jam seperti di Kramat Jati gitu. Tapi tentunya sekarang kami menyesuaikan dengan lokasi rumah dong. Gak ke sana lagi, tapi di pasar 24 jam yang relatif dekat tempat tinggal kami.

Nah salah satu pasar 24 jam dekat rumah itu, ramenya malah pas malam hari. Siang buka sih tapi ya sepi. Pedagangnya lebih banyak yang buka malam hari. Jadilah kami menjadwalkan ke sini hanya di malam hari. Dan gak pernah bisa beli ikan basah dan ayam, sebab kedua produk itu dijual jam 00.00 WIB ke atas…..huhuhu itu mah waktunya aku ngorok pemirsaaaa…..
Yang pada akhirnya bisa kami borong ya cuma sayur, tempe tahu, bumbu-bumbuan, dan buah aja.
Tiap ke pasar, biasanya kami belanja untuk kebutuhan sayur 1 minggu. Nyetok di kulkas istilahnya. Cara begini lumayan ajib, jadi gak tiap hari keluar energi nyambangin tukang sayur gerobak. Tinggal manfaatin aja bahan apa yang ada di kulkas. Selain itu, cara begini lebih irit karena mborong memang lebih murah ketimbang beli ngecer ya temans 🙂
Kalau bahan habis, kami merencanakan ke pasar lagi….kalau gak males, wahahaha….

Pasar Bulak adalah pasar langganan yang sering kami kunjungi untuk belanja malam. Pasar ini resminya bernama Pasar HS Agung. Namun masyarakat lebih familiar menyebutnya Pasar Bulak karena letaknya di Jalan Bulak Raya, Klender-Jakarta Timur. Tiap kali ke pasar, defaultnya kami beli tempe, tahu, cabe, bawang, buncis, kol, wortel, tomat merah, kacang panjang, ikan teri/ikan asin, ubi jalar, daun bawang seledri, dan beberapa items. Sayur yang berupa daun seperti bayam dan kangkung malah gak beli di sini. Karena gak bisa beli ngeteng. Mesti beli sekaligus 5 ikat ke atas gitu. Pisang juga di sini dijual tandan, bukan sisiran. Toge juga gak bisa beli ukuran seribu perak gitu.

Senangnya di pasar begini, harganya bisa murah banget. Jagung itu kalau di tukang sayur, per pcs nya bisa 3-4 ribu. Sementara di pasar, ada aneka ukuran. Kalau mau beli yang per pcs nya 2 ribu perak pun ada, dan ukurannya gak beda jauh banget sama yang 3 ribu. Pepaya California pun ada yang ukuran super kecil-kecil, kayak reject-an gitu tapi kok ya isinya malah masih bagus. Harganya juga mursidawati. Bisa dapat 4-5 ribu per kilo. Wuiiiih senangnya hatiku.

Pernah suatu kali kami ajak anak-anak ke sini. Dan membiarkan mereka membantu kami memilih-milih bahan yang akan dibeli. Berebutanlah mereka memasukkan buncis, kentang dll ke plastik. Tapi ya abis itu misuh-misuh karena ngerasa capek diajak bapak ibunya muter-muter dalam pasar.

20181005_201600-800x600

Bapaknya anak-anak lagi milih kentang

20181005_201612-800x600

 

20181005_201901-800x600

IMG-20180922-WA0001-800x450

IMG-20180922-WA0003

Semoga kami tetap istiqomah berbelanja ke pasar becek/tradisional. Selain memajukan perekonomian para pelaku UKM, blusukan ke pasar seperti ini percaya atau tidak membawa suasana dan pengalaman baru, termasuk belajar berinteraksi serta tawar menawar dengan para pedagang.
Jadi, kamu suka juga gak blusukan ke pasar becek?
signature

 

Advertisements

3 thoughts on “Blusukan ke Pasar Becek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s