Pengalaman Bedah Minor Gigi Bungsu di RS Gigi dan Mulut Angkatan Udara-Halim (Part 2)

Sambungan dari part 1 ya

Besoknya saya datang kembali, lengkap sekeluarga nganterin saya haha. Suami dan anak-anak. Karena jam praktik dokter bertepatan dengan jam makan siang, saya rusuh nyuruh pak suami dan anak-anak pergi nyari makan siang aja. Bair anak-anak gak cranky. Sementara saya biarin aja sendirian ngantri.

Ndilalah sebelum datang ke RS, saya kan WA ke pak petugas baik hati tadi yang memang memberikan no WAnya ketika saya periksa di hari pertama. Lalu beliau bilang: nanti pas Sabtu datang langsung menuju ruang bedah gak perlu ke bagian pendaftaran lagi karena berkas saya udah beliau bantu untuk taruh di sana.
Wah luar biasa baik banget ya bantuannya 🙂

Ketika ngantri, ternyata Sabtu begini pasien kok sedikit ya. Saya nomor 4. Dan yang bedah rupanya hanya saya dan 1 orang gadis remaja saja. Sisanya hanya konsultasi dan mendapat resep saja dari dokter.

Gadis tersebut mendapat giliran sebelum saya. Mendengar bunyi alat bor dari luar, jiper juga rasanya. Dan saya sembari menunggu bukannya menenangkan hati, malah browsing youtube dan mencari video-video bedah gigi bungsu, baik yang berupa animasi maupun yang beneran live shoot. Rada gelo ya? Hahahaha…..Malah buka video yang ngeliatin gusi dibelek dll….di situ saya merasa sinting wkwkwkw.

Limabelas menit kemudian gadis tersebut selesai dan tibalah giliran saya. Dokternya laki-laki. Ramah namun memang irit ngomong. Alias kalo kita nanya pasti dijawab dengan ramah, namun kalau kita diam ya beliau juga ga berupaya memulai percakapan.

Duduk di kursi periksa, saya diminta berkumur. Lalu saya sampaikan bahwa saya mohon banget yang diatasi si gigi bungsu geraham kanan bawah dulu aja. Satu gigi dulu karena itu biang kerok darahnya. Beliau periksa dan langsung bilang bahwa benar itu penyebabnya. Huhuhuhu….

Dengan cekatan dokter menyuntikkan bius lokal ke beberapa bagian gusi saya. Cepat sekali bekerjanya. Suntikannya terasa berbunyi cetek cetek gitu. Gak berapa lama, saya pun mati rasa pada separuh wajah sebelah kanan. Bibir, pipi, hingga bagian dalam mulut yang semuanya berada di kanan, sudah mulai mati rasa. Mulailah beliau dan suster bekerja. Yang saya lakukan adalah menutup mata selama proses berlangsung. Gak pengen serem sendiri ngeliatin alat-alat saling berganti-ganti masuk dalam rongga mulut saya euy. Dan memang bener saya gak ngerasa sakit samasekali. Cuma merasa sesekali ditarik tapi ya gak sakit blas. Bau terbakar tercium hidung saya ketika bor mulai bekerja. Saat gigi ditarik ke atas pun, saking kuatnya akarnya, saya mengerang karena badan saya ikut ketarik ke arah gigi yang mau diambil. Jadi mengerang bukan kesakitan, tapi kok ya ketarik semua ini? Hehehehe…..

Setelah prosedur pengambilan gigi, dokter berseru: waduh gede amat itu bolongnya! Saya pun lega. Artinya proses pengambilan sudah selesai. Tibalah saat penjahitan. Dalam kondisi mata masih tertutup, saya merasakan benang keluar masuk “membelai” bibir saya. Saya tetap menguatkan hati. Keseluruhan prosedur berlangsung kurang lebih 15 menitan. Dan selama itu pula anehnya saya kuat membuka mulut tanpa terasa pegal sekalipun. Pertolongan Allah banget yekan?

Akhirnya proses penjahitan selesai. Saya melihat gigi saya rupanya dibelah tiga sama pak dokter agar lebih mudah diambil. Udah gak ada niatan buat foto-fotoin gigi, karena yang penting udah lega banget gigi dah keambil. Suster pun segera membuang gigi kdan membereskan peralatan yang sudah dipakai dalam operasi.
Saya langsung diminta menggigit kapan penuh betadine selama setengah jam. Tidak diberikan kapas pengganti samasekali. Beliau bilang sesudah setengah jam buang saja kapasnya gak perlu ganti lagi.
Selesai itu, saya disodorkan kuitansi. Dan suster saya dengar berbicara pada dokter : ini pasien yang dari si X. Nah X ini adalah nama bapak petugas baik hati yang kemarin mengantar saya terus itu. Kemudian saya diminta membayar di ruang itu juga, bukan di kasir (ruangan kasir ada di luar padahal). Sempat bingung tapi sudahlah saya ikuti saja prosedurnya.

Sampai selesai saya dioperasi, pak suami dan anak-anak masih asik-asik makan di warung padang dong hahahaha. Saya menelepon mereka, bilang bahwa saya sudah selesai.  Sembari menunggu saya menebus obat di apotik yang letaknya bersebelahan dengan ruang bedah. Apotiknya berkaca gelap, tanpa loket terbuka. Jadi ya kita harus masuk melalui pintu berkaca gelap tersebut sebelum menyerahkan resep.

Ketika bertemu anak-anak saya, dengan mulut yang masih susah berbicara saya bilang ke mereka bahwa wajah bagian kanan ini masih ada efek bius dan menyuruh mereka menjajal: saya suruh mereka nampar pipi saya haha. Gak berasa euy.

Tiga jam kemudian efek bius berakhir. Duh rasanya pengen ngamuk karena rasa sakit, ngilu campur jadi satu. Itu kondisinya udah pulang ke rumah. Buru-buru saya ambil es batu dari freezer dan kompres pipi saya yang bengkak. Ya, bengkak adalah efek samping yang normal setelah operasi gigi bungsu. Selain bengkak, efek samping yang juga normal adalah sulit menelan, macam orang kena radang tenggorokan. Karena kelenjar getah bening sekitar leher pun ikut bengkak. Rasanya gak karuan. Untung obat yang diminum bekerja. Berkurang rasa sakitnya. Ada tiga macam obat yang diberikan dokter yaitu antibiotik, obat untuk meredakan pembengkakan dan obat nyeri berupa ibuprofen.

Mulai dari selesai operasi hingga 3 hari selanjutnya saya hanya makan bubur dan yang dingin-dingin seperti es krim. Dan hanya menggunakan gigi sebelah kiri saja.  Hari keempat dan seterusnya baru berani makan nasi. Membersihkan mulut hanya berani dengan obat kumur Betadine, itupun tidak melakukan gerakan kumur-kumur. Yang penting obat kumur sudah berada lama di dalam mulut lalu saya buang. Kenapa gak melakukan gerakan kumur? Seperti yang saya tadi bilang di atas bahwa sebelum operasi saya banyak baca dari berbagai sumber, pengalaman plus do’s and dont’s pasca operasi gigi bungsu. Lengkapnya bisa dibaca di sini saja ya supaya gak kepanjangan nulisnya. Hari keempat kalau tidak salah, saya baru berani menyikat gigi itupun super pelan-pelan dan di depan kaca. Untuk menghindari bagian yang habis dioperasi tersikat.

Sisa hari Sabtu, lalu Minggu, saya pakai untuk istirahat. Senin pun saya terpaksa izin gak ngantor karena masih kliyengan. Maklum, gigi itu kan nyambungnya ke syaraf. Jadi wajar habis kondisi operasi ya masih suka berasa lemes, berkunang-kunang selain masih terasa ngilu. Ngilunya pun menjalar sampai gigi depan euy. Menderita lah pokoknya haha….

Hari ketiga pasca operasi saya beranikan diri ngaca dan mbuka mulut. Dengan bantuan senter saya bisa melihat sendiri jahitan di dalam sana. Jiper sih haha.

Kemudian setelah 7 hari, saya datang lagi ke RS untuk cabut jahitan. Seperti biasa, sehari sebelum ke sana, saya WA-an sama pak petugas baik hati. Beliau seperti biasa langsung menitipkan berkas saya ke suster dan bilang kalau besok datang gak usah ke pendaftaran lagi, langsung ke ruangan bedah.

Dan pas hari Sabtunya saya datang sekeluarga lagi. Anak dan suami lagi pada sholat dzuhur, saya dicabut jahitan. Prosesnya cuma sekitar 30 detik aja. Lalu saya diminta berkumur. Ludah saya bercampur darah dan dokter bilang bahwa memang setelah cabut jahitan akan ada darah sedikit namun lama kelamaan pasti hilang. saya tanya apakah ada infeksi di sekitar jahitan saya? Sebab saya merasa kayak ada bengkak lagi gitu. Namun dokter bilang tidak ada. Saya juga tanya ke dokter kenapa selama satu minggu yang ngilu itu bukannya lubang bekas gigi diambil tetapi justru ngilu di bagian gigi depannya? Dokter menjawab bahwa memang begitu karena syarafnya nyambung sampai depan. Waduuuuh……
Dan seperti biasa, pembayaran cabut jahitan lagi-lagi dilakukan langsung di ruang dokter.

Kayaknya lega luar biasa begitu dicabut. Sebab setelah itu dokter bilang bahwa sekarang semua bagian gigi sudah bisa dipakai makan. Berasa baru keluar dari penjara banget euy. Saya ajak pak suami dan anak-anak makan sate dan tongseng yang kebetulan ada di seberang RS. Seneng banget rasanya bisa makan macem-macem lagi. Dan yang paling membahagiakan adalah: sejak diambil gigi bungsu itu, keluhan berupa ludah berdarah benar-benar hilang. Alhamdulilah wa syukurillah…..
Dan semakin hari, sampai postingan ini saya tulis, tidak ada keluhan lagi. Yang saya anggap infeksi tadi perlahan hilang samasekali. Rasanya mulut benar-benar sudah biasa lagi.

Ini tulisannya terpaksa saya bagi-bagi ya jadi beberapa postingan sebab panjang banget. Belum sampe ke cerita suasana RS nya ya kan? Nanti saya bikin postingan selanjutnya yaaa…..

Oh ya, total yang dihabiskan untuk bedah minor gigi bungsu ini adalah:

Rontgen panoramic Rp150,000
Bedah minor gigi bungsu Rp2,600,000
Obat Rp150,000
Kontrol dan cabut jahitan Rp150,000
Total Rp3,050,000

Sementara jika menggunakan BPJS maka kita mengeluarkan Rp 0, tapi ya sabar antri.
Sampai jumpa di posting lanjutan ketiga ya 🙂
signature

 

Advertisements

4 thoughts on “Pengalaman Bedah Minor Gigi Bungsu di RS Gigi dan Mulut Angkatan Udara-Halim (Part 2)

    • imeldasutarno says:

      Waaah mbak Ella ternyata sama. Tenang aja mbak. Tutup mata aja selama proses, nanti tau-tau selesai kok. Dan gak sakit pastinya karena udah dibius. Semoga lancar ya mbak, nanti jangan lupa cerita2 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s