Aku Sedih di Museum Keprajuritan TMII

Masih dalam satu rangkaian cerita jalan-jalan libur lebaran. Masih satu paket sama ke Keong Mas yang sudah saya ceritakan di sini. Nah selepas nonton film di Keong Mas, kami memutuskan berkunjung ke Museum Keprajuritan. Penasaran aja sih karena bangunannya besar dan terlihat megah plus keren banget dari kejauhan.

Museum Keprajuritan memiliki bangunan utama berbentuk benteng pertahanan zaman dulu. Di bagian luarnya ada danau luas untuk menempatkan replika dua kapal, yaitu kapal Banten dan kapal Phinisi sebagai dua buah dari sekian banyak icon kebanggaan Indonesia. Jika musim hujan, air danau penuh dan kapal terlihat mengambang dengan sempurna. Namun saat musim kemarau seperti saat kami berkunjung, air sangat surut, bahkan di beberapa bagian dasar danau terlihat jelas.

20190610_143533-800x600

20190610_143342-800x600

20190610_142758-800x600

Kapal Phinisi

20190610_143324-800x600

20190610_145512-800x600

View dari pintu utama ke arah luar

Untuk masuk ke sini, tiap orang dikenakan biaya Rp4,000. Parkir kendaraan bermotor dalam area halaman museum dikenakan Rp5,000. Jika ingin masuk ke dalam bangunan utama, kita dapat melewati jembatan gantung yang sensasi goyangannya lumayan menjadi hiburan tersendiri, hehe….

Masuk melalui pintu utama, saya terus terang sempat bengong sejenak. Karena lantai satu museum ini terlihat kosong. Bangunannya berbentuk huruf O dengan taman terbuka di tengahnya. Lho kok hanya ada sebuah replika meriam di dekat pintu depan? Kemudian kami mencoba ke arah taman. Di sana banyak patung-patung para pejuang Indonesia dari abad lalu seperti Sultan Agung dan lain-lain. Selain patung, di taman ini juga ada panggung terbuka lengkap dengan tempat duduk penonton. Dari info yang saya baca, panggung ini seringkali dipakai saat ada event tertentu seperti hari peringatan Sumpah Pemuda dan sejenisnya.

20190610_143909-600x800

Meriam di pintu utama

 

20190610_143816-800x600

Panggung terbuka di tengah taman

20190610_144452-600x800

Yang hitam itu adalah deretan patung para pahlawan Indonesia

Setelah keliling melihat deretan patung para pahlawan, kami kembali ke dalam. Ada papan petunjuk yang mengarahkan ke lantai dua. Lalu kami naik tangga.

20190610_143921-800x600

Sedih. Itulah kesan saya selanjutnya. Bagaimana tidak? Sebagai bangsa besar yang menghargai jasa para pahlawannya, museum yang selayaknya menyajikan sejarah dan bukti kebesaran perjuangan mereka nampak usang tak terurus. Yang saya catat:

1. Cat tembok sudah usang, nampaknya memang lama tidak pernah direnovasi.
2. Tidak ada AC pendingin. Semua jendela dibuka lebar-lebar dan hanya mengandalkan angin saja untuk sirkulasi. Padahal cuaca musim kemarau ini sedang panas-panasnya. Jadi semua pengunjung terpaksa berkeringatan sambil keliling-keliling.
3. Entah mengapa, kaca di lantai dua dicat atau ditutup kertas hitam. menambah kesan suram museum.
4. Ada lift namun nampak sudah usang dan tidak berfungsi.
5. Debu di mana-mana termasuk di lemari-lemari pajangan. Sepertinya memang tidak ada petugas kebersihan atau bagaimana gitu.

20190610_144834-800x600

Ini kondisi cat tembok di lantai dua. Kusedih…..

Iya. Saya sampai sempat bingung sendiri apalagi yang menarik yang bisa kami lihat di museum ini? Karena hampir semua pajangannya hanyalah patung replika pejuang kita di zaman dulu lengkap dengan kostum dan senjatanya. Jadi misalnya baju keprajuritan di zaman Sultan Hasanudin itu seperti apa, lalu patungnya diletakkan dalam kotak kaca. Ada pula semacam maket pertempuran zaman dulu, misalnya era VOC, era Jepang menjajah Indonesia dan lain-lain.
Peletakan semua pajangan pun sangat monoton. Hanya berjajar saja sepanjang lorong. Tidak ada dimensi, tidak ada tata letak yang lebih menarik.

20190610_144334-600x800

Lorong yang nampak kosong

20190610_144600-800x600

Pajangan dalam kotak kaca. Sepanjang lorong isinya hanya seperti ini saja

20190610_144402-800x600

Jadi bisa disimpulkan, yang menarik dari museum ini hanyalah bagian luarnya saja, yaitu bentuk bangunan bentengnya plus dua kapal yang bisa dijadikan tempat berselfie ria. Oh ya, harap hati-hati jika berada di kapal ini, karena tangga-tangga kayunya sudah terlihat lapuk dan (lagi-lagi) usang.

Saya gak tau apakah memang Kementerian Pertahanan atau Pemerintah Republik Indonesia kurang memperhatikan maintenance museum ini, atau memang ada maintenance tapi terbatas pada anggaran. Yang pasti ya sedih aja ngeliat kondisi ini. Lalu tiba-tiba saya membayangkan waktu museum ini pertama kali diresmikan alm.Presiden Soeharto tahun 1987 lalu. Wah saat itu pasti semua fasilitasnya ciamik dan perfect banget ya, sehingga membuat nyaman untuk yang mengunjunginya.

Tigapuluh dua tahun sudah berlalu sejak hari pertama dibuka. Mudah-mudahan ke depannya ada perhatian lebih dari Pemerintah. Sayang banget soalnya, di area 4,5 hektar, bangunan nan gagah berdiri dan nampak membanggakan namun ketika masuk ke dalamnya di luar ekspektasi kita.
Ikut amin-in ya sodara-sodara 🙂
signature

Advertisements

3 thoughts on “Aku Sedih di Museum Keprajuritan TMII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s