Cerita dari Pasar Kemarin

Jadi begini. Setelah saya amati…ko saban eikeh nulis postingan tentang medsos, rata-rata komen yang masuk lumayan banyak ya? Untukku yang faqir komen begini, hal tersebut soenggoehlah menggembirakan.

Baca juga:
Background Check via Sosmed
Hal-hal Menarik Ketika Main Instagram
6 Rem Saya di Sosmed

Apa kita posting macam-macam hal seputaran sosmed aje ye saban ari? Ahahaha….

Tapi memanglah ya pemirsah, apapun yang berhubungan dengan sosmed itu selalu menarik untuk dibicarakan. Perilaku kita, aplikasi apa yang kita gunakan, tak habis-habis dan tak bosan-bosannya dibahas dan dibaca orang.

Yasutlah, nanti kapan-kapan posting yang nyerempet soal sosmed lagi. Kali ini postingan iseng, mengenai pengalaman saya ke pasar tradisional dekat kantor kemarin.

Kebetulan kantor saya letaknya memang dekat dengan riuh rendahnya pasar tradisional, minimarket, puskesmas, dan aneka bank baik swasta maupun BUMN. Sungguh menggembirakan bukan? Mau jajan tinggal cus ke Alfa atau Indomaret. Butuh ke ATM, ada banyak. Kehadiran pasar tradisional apalagi. Duh surga dunia buat emak-emak macam saya. Di situ saya bisa beli sayur, ikan asin, kue tradisional, buah, sampai keperluan lain seperti seragam anak-anak, tukang jahit, sampe servis hp.
Nah kemarin saya habis beli seragam anak di pasar, kemudian saya harus ke tukang jahit untuk menjahit atribut aneka badge di seragam tersebut. Maklum,…seragam pramuka. Karena males bolak-balik, akhirnya sembari si tukang jahit menyelesaikan pekerjaannya, saya nungguin aja.

Lagi asyik nungguin, datang seorang pelanggan. Ibu-ibu juga. Dia nagih hasil jahitannya yang sudah dikasih beberapa waktu lalu. Si tukang jahit bilang kalau kemarin ada orang yang datang dan sudah mengambil barang tersebut. Jadi semacam orang suruhan si ibu. Sontak si ibu kaget. Sampai mengucap Demi Allah bahwa ga pernah ngirim orang buat ngambil baju jahitannya. Sempat eyel-eyelan antara tukang jahit dan ibu, sampai akhirnya ibu bilang si penjahit wajib ganti kalau barang itu memang hilang. Sebab baju itu mau dipakai hari Senin depan. Penjahit sempat menyebut bahwa kemungkinan orang suruhan itu adalah anak si ibu. Si ibu langsung agak tinggi nadanya bilang bahwa anaknya ga pernah ia suruh datang ke tukang jahit itu.

Endingnya adalah: si penjahit rupanya salah alias miskom. Baju si ibu itu ada kok. Yang kemarin dia kasih ke orang yang diduga orang suruhan adalah another story another clothes. Oke, akhirnya beres dong. Bungkusan baju diserahkan ke si ibu dan penjahit tersenyum lega. Saya yang menyaksikan peristiwa itu ikutan nimbrung sambil senyum-senyum

Saya: (sambil senyum lepas) Hehehehe….lega ya bu. Udah ga panik lagi, bajunya udah ketemu

Ibu: (sambil senyum juga) saya mah gak akan panik. Mau saya maki-maki kok dia (tukang jahit maksudnya) tadi kalo emang beneran ilang heheheh ….

Si ibu ngomongnya santai sambil senyum, sayanya yang langsung “deg!” dalam hati. Agak mencelos juga.

Lalu si ibu melanjutkan:

Ibu: (sambil senyum) Saya mah orangnya apa-apa gak disimpen bu. Ditumpahin semua, termasuk unek-unek. Makanya badannya “jadi” kayak gini (sambil menunjuk ke badannya sendiri yang mohon maaf gemuk sekali).

Trus saya bingung: apakah ada hubungan antara badan menggemuk dengan menumpahkan semua perasaan tanpa ada yang ditutup-tutupi samasekali? Ada yang tau?

Itulah postingan tidak berguna di siang hari ini. Monmap buat yang udah capek-capek baca dari atas dan ujung-ujungnya cuma disuguhi pertanyaan macam itu πŸ™‚

signature

Advertisements

14 thoughts on “Cerita dari Pasar Kemarin

  1. Susleni says:

    Kan kalo semua ditumpahkan langsung keluar, dia gak punya beban pikiran lagi mbak. Makanya makanan yang masuk gak kepake. Beda sama yang suka nyimpen dalam hati sendiri. Jadi kepikiran, trus makanan yg masuk diserap maksimal untuk tenaga mikir.

    Demikian penjelasan yg pernah kudapat, waktu aku menemukan pernyataan kek gitu.
    Hehe

    Liked by 1 person

  2. sunglow mama says:

    Salam, Menurut saya hubungannya dia ga ada yang dipendam dlm pikiran dan stres. biasanya yang begitu rata2 kurus atau terlalu kurus. cuma klo berat badan berlebih bs jadi terlalu banyak makan, jadi problemanya berbeda.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s