Tips Saat Mati Lampu (Mati Listrik)

Postingan kali ini masih berkaitan dengan peristiwa mati lampu 4 Agustus 2019 kemarin. Jika kemarin berbagi hikmahnya mati lampu berbelas-belas jam, kali ini cuma iseng pengen berbagi tips aja. Jadi, ketika terjadi kejadian darurat yaitu mati lampu dalam waktu yang lama, inilah yang kami lakukan kemarin di rumah:

1. Memilih emergency light dibanding lilin.
Pilihan ini memang balik lagi ke kondisi finansial masing-masing sih. Karena lilin relatif lebih murah dan mudah didapat di mana-mana. Sementara emergency light harganya lumayan. Sebetulnya jalan tengahnya bisa nabung dulu sih buat beli emergency light. Jadi sewaktu-waktu ada kondisi force major begini ya barangnya udah ada.
Kenapa milih lampu dibanding lilin? Risikonya jauh lebih kecil. Lilin kalo kita gak pinter-pinter naronya dan waspada, alamat bisa mendatangkan bahaya. Dikutip dari media online, saat mati lampu massal 4 Agustus kemarin, 50 rumah terbakar di Menteng Atas-Jakarta Pusat akibat lilin. Entah cara meletakkan yang salah, atau karena ditinggal tidur dalam kondisi lilin menyala, yang pasti penggunaan lilin sebaiknya dihindari untuk keselamatan.

2. Menghemat air dengan beberapa cara.
Air sama dengan listrik. Keduanya sudah semacam nyawa untuk kita. Gak ada air dan listrik, kelar hidup ini (walaupun masih banyak daerah di pedalaman Indonesia yang belum dialiri listrik dan penduduknya baik-baik saja ya. Saya ngomong ini dalam konteks kita yang sudah terbiasa dengan listrik sehari-harinya). Nah saat mati lampu belasan jam beberapa hari lalu, inilah yang kami lakukan demi menghemat air:

– Hanya makan makanan yang praktis saja.
Kemarin kami hanya goreng nugget dan telur untuk makan. Gak masak yang heboh-heboh misalnya masak opor ayam, sop ayam atau lainnya. Karena proses memasak akan melibatkan banyak perkakas dapur yang akan kotor dan ujung-ujungnya butuh dicuci. Padahal kondisi air juga gak memungkinkan.

– Memandikan anak-anak. 
Anak-anak yang sudah besar dan seharusnya sudah mandi sendiri, terpaksa kemarin saya mandikan. Kalau mereka dibiarkan mandi sendiri dan kita cuma ngomong “airnya dihemat ya nak” kayaknya gak bakal berhasil. Tetep aja penggunaan airnya bakalan banyak. Daripada berisiko, lebih baik saya take action dengan memandikan mereka.

– Menggunakan piring dan gelas bersama-sama.
Untuk mengurangi cucian piring, anak-anak saya kasih 1 piring dan 1 gelas plus sendok garpu untuk makan. Dan mereka bergantian menggunakannya. Begitu pula saya dan suami yang makanannya mengandung cabe dan pedes-pedes, kami bergantian memakai satu set alat makan yang sama. Sesudah makan pun, tidak kami cuci. Simpan saja di atas meja untuk nanti dipakai lagi pas makan malam. Terpaksa begini supaya hemat air buat cuci piring. Untungnya ga ada yang berpenyakit menular, jadi lumayan aman gantian satu alat makan bersama-sama

– Tidak makan menggunakan tangan.
Makan pakai sendok dan garpu, untuk mengurangi aktivitas cuci tangan pakai sabun yang sudah tentu butuh air.

– Mengoptimalkan pemakaian hand sanitizer dan tissue basah.
Ini juga terpaksa. Yang paling bagus memanglah mencuci tangan dengan air dan sabun. Namun apa daya, demi hemat air langkah ini dilakukan. Terutama anak bungsu saya yang memang agak clean maniac. Dikit-dikit cuci tangan, padahal kadang cuma abis megang kertas bersih doang hahahaha…..kebiasaan bagus sih tapi kalo kondisi kepepet gini ya terpaksa ganti pake tissue basah atau hand sanitizer dulu ya, nak.

– Meminta anak-anak untuk tidak main yang kotor-kotoran.
Si sulung demen main bola sama teman-temannya. Tau sendiri kalo udah main bola kan? Baju kotor plus keringatan. Bukan cuma main bola aja sih. Permainan yang melibatkan fisik kayak main kejar-kejaran, main sepeda, dll juga bikin baju kotor ya guys. Nah kemarin itu kami minta ke anak-anak supaya main dalam rumah aja, supaya gak sering-sering ganti baju. Jadi cucian kotor juga enggak numpuk.

3. Memanfaatkan aki mobil sebagai pengganti listrik.
Saran saya: ini benar-benar hanya untuk kebutuhan yang urgent saja ya. Jadi, oleh pak suami mobil dinyalakan, kap mesin dibuka, lalu listrik dari aki disambungkan ke dalam rumah. Karena listrik yang dihasilkan tidak besar, maka penggunaannya hanya untuk yang penting saja. Kemarin kami gunakan untuk men-charge salah satu emergency light (kami punya dua), lalu charge hape (ngapain jugaaa dicharge lha wong sinyal juga gak ada, hahahaha), dan…..menonton MotoGP di TV. Waduh yang terakhir jangan ditiru ya pemirsa. Pak suami emang fans berat MotoGP jadi dia berusaha melakukan apapun demi nonton hahaha. Tapi lumayan sih, dengan menyetel TV akhirnya kami jadi tau perkembangan berita mati lampu di sebagian Pulau Jawa ini. Jadi tau step by step recovery yang dilakukan pihak PLN sampai berita gimana penumpang MRT dievakuasi dari bawah tanah. Karena ga bisa akses internet, maka perkembangan berita dinikmati lewat TV, kayak zaman dulu lagi 🙂
Aki mobil ini pun tidak terus menerus kami gunakan. Dikasih jeda. Mobil dimatikan pada saat-saat tertentu agar tidak membahayakan kami juga yang ada dalam rumah.

Semoga mati lampu massal tidak akan terjadi ke depannya ya temans. Kalian ada tips lain menghadapi force major mati lampu seperti kemarin?
signature

3 thoughts on “Tips Saat Mati Lampu (Mati Listrik)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s