Parno Ketika di Bawah Tanah

Masih terkait dengan peristiwa padamnya listrik di sebagian Pulau Jawa selama belasan (bahkan puluhan di beberapa tempat) jam tanggal 4 Agustus 2019 kemarin. Jika kita lihat berita baik di media online maupun TV, banyak kendala dan dampak di sana sini. Transportasi umum salah satunya. KRL Jabodetabek berhenti beroperasi, demikian pula MRT.

Ngobrolin soal MRT, sejujurnya sejak MRT mulai dibangun, bahkan hingga diresmikan dan pada akhirnya kini bisa dinikmati seluruh warga DKI Jakarta….saya pribadi tidak pernah menunjukkan ketertarikan apapun. Tidak punya passion samasekali untuk mencobanya.

Masalahnya sepele: saya takut berada di ruang bawah tanah. Yang dimaksud ruang bawah tanah ini bukan bunker ya. Tetapi segala tempat yang berada di bawah tanah. Basement parkiran, Carrefour yang juga di beberapa lokasi berada di basement, gua bawah tanah, dan yang terkini: stasiun bawah tanah. Gak tau apakah sudah kategori phobia atau belum, intinya saya takut. Selalu kuatir jika terjadi ambruk, ya sudah pasti langsung tertimbun. Kalau sudah tertimbun…ya kelar hidup ini. Alasannya itu doang.

Beberapa tahun lalu, kami mengunjungi Pacitan saat libur lebaran. Destinasi wisata di sana, selain begitu banyak pantai yang indah, juga terdapat banyak gua yang bisa dikunjungi. Pak suami ngajakin ke gua. Dan sayapun menolak. Asli gak berani.

Berada di Carrefour di beberapa mall tertentu juga sebetulnya membuat jiper hati ini. Tapi terkadang saya paksakan diri, karena ya memang ada yang sangat butuh dibeli di situ. Dan memang diusahakan gak pernah lama-lama berada di basement. Kalau soal parkiran mobil di basement mall, takut juga tapi kan namanya parkir enggak lama-lama ya. Habis parkir mobil ya kita masuk ke mall, lalu ke basement lagi untuk ambil mobil dan 5 menit kemudian sudah berada di luar gedung.

Nah, kemarin pas listrik padam massal, apa yang saya kuatirkan pun terjadi. MRT tidak bisa beroperasi, penumpang terjebak di bawah tanah dan dievakuasi oleh petugas. Nampak pada video amatir yang ditayangkan di beberapa stasiun TV, ada beberapa penumpang yang berhasil dievakuasi, berjalan menyusuri rel MRT yang gelap. Huhuhuhu…..gak kebayang kalo salah satu di antara penumpang itu saya. Mungkin udah panik-panik gak jelas kali ya.

Kehadiran MRT buat sebagian orang sangat menggembirakan. Semua berbondong-bondong ingin mencoba, tapi tidak dengan saya. Hiks hiks…terkadang ada keinginan untuk menghilangkan keparnoan ini.
Apakah ada temans yang mengalami seperti saya?
signature

Advertisements

8 thoughts on “Parno Ketika di Bawah Tanah

    • imeldasutarno says:

      ooo iya masuk phobia berarti ya mbak? Rasa-rasanya gak punya kenangan buruk masa kecil soal ruang tertutup sih…cuma suka ngebayang-bayangin sendiri kalo baca cerita soal orang-orang yang tertimbun di bawah tanah aja, kayak pekerja tambang dan sejenisnya. Terus dari situ ketakutan sendiri

      Like

  1. Grant Gloria says:

    Kalo di sana keretanya di bawah tanah. Di sini keretanya di atas. Mbak parno yg bawah tanah, aku parno yg di atas. Kita cocok banget mbak. Temenku cerita di Jakarta serem banget keretanya mati. Trus dia bandingkan sama Palembang. Kalo mati listrik pas lagi di atas kereta turunnya gimana katanya. Lo jalan di atas sana takut jatuh nggak. Hiiii seremnya. 😥

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s