Operasi Tumor Jinak Parotis menggunakan BPJS

Sudah lama sekali saya gak pernah menginap di rumah sakit. Ya kalo bisa mah jangan selama-lamanya ya alias sehat selalu. Terakhir yang saya ingat, saya dirawat karena sakit typus sekitar 9 tahun lalu.
Sampai akhirnya pertengahan September 2019 kemarin saya kembali menginap di RS.

Bukan…bukan saya yang dirawat. Melainkan ibu saya.

Singkat cerita beliau ada semacam benjolan tumbuh di leher sebelah kiri. Letaknya lebih dekat ke arah dagu dibanding ke batang leher. Banyak orang mengira tiroid ataupun kelenjar getah bening. Anehnya, ibu gak merasakan sakit apapun sejak benjolan itu muncul. Tapi ya tetap mengganggu ya makanya beliau memeriksakan diri ke dokter.

Berhubung kami sekeluarga peserta BPJS, jadi beliau pun menempuh jalur BPJS untuk berobat. Tentunya diawali dari puskesmas, kemudian dirujuk ke dokter bedah di rumah sakit. Yang namanya peserta BPJS, ya antrinya itu yang kudu banyak sabar. Misalnya mengambil nomor antrian subuh, untuk periksa ke dokter yang akan praktik mulai jam 10 pagi. Sesudah periksa antri lama lagi untuk pengambilan obat. Belum lagi beberapa kali terjadi missed comm antar sesama petugas yang tentunya merugikan pasien yang kudu bolak balik rumah-RS. Misalnya petugas 1 mengatakan periksa darahnya besok. Pas esoknya kembali ke RS eh petugas 2 bilang kalau lusa saja karena dokter yang akan memeriksa hasil laboratorium ya baru ada lusa.

Kakak saya yang memang tinggal serumah dengan ibu bapaklah yang mengurus sana sini sampai akhirnya ibu bertemu dokter bedah dan berkonsultasi. Sementara saya belum bisa banyak membantu karena terkendala jarak dan saya harus ngantor juga. Ibu gak masalah karena sakitnya ini memang bukan yang membutuhkan perawatan khusus atau bantuan fisik dari orang lain.

Singkat cerita keluarlah keputusan dari dokter bedah bahwa benjolan tersebut ya harus diambil, karena kita gak bakal tau apakah itu sampai diambil dan dicek di laboratorium.
Ibu yang punya riwayat hipertensi, sempat naik tensinya. Mungkin kepikiran, yah namanya juga mau dioperasi pasti ada rasa tegang juga. Lalu oleh dokter penyakit dalam (prosedur sebelum bedah kan memang harus cek darah dan seluruh organ dalam dulu) diberikan obat penurun tekanan darah. Setelah sekitar 1 minggu diminum plus diimbangi dengan minum jus belimbing dan seledri, ibu pun ditentukan skedul operasinya oleh dokter bedah.

Gantian saya yang ambil alih. Kasihan kalau kakak saya semua yang urus (FYI: saya cuma berdua bersaudara). Jadi ibu wajib nginap di RS mulai jam 9 malam dan operasi direncanakan keesokan harinya pukul 11 siang.
Sepulang kantor, saya langsung siap-siap dan diantar pak suami beserta krucils ke RS di daerah Cibinong dekat rumah ibu saya. Jam 19.30 WIB berangkat dari Jakarta ke arah Cibinong. Sampai di RS sekitar pukul 20.30 WIB. Saya suruh kakak saya pulang saja istirahat. Toh saya udah ambil cuti 2 hari buat ngurusi ibu. Lalu saya juga menyuruh anak-anak dan pak suami pulang, gak usah berlama-lama di RS. Karena esoknya anak-anak masih harus sekolah juga. Praktis dua hari selama saya cuti, pak suami yang mengurus anak-anak di rumah.

Dan malam itu saya menginap di RS lagi, setelah 9 tahun yang lalu πŸ™‚ Saya tidur menggunakan sleeping bag punya pak suami. Berduaan aja sama ibu di RS. Dapat kamar kelas 1 tapi isi ruangannya 3 bed.

20190913_051528-800x600

Sempat deg-deg an operasi tidak jadi, sebab suster yang mengukur tekanan darah ibu malam itu juga, mengatakan bahwa hasil tensi tinggi yaitu 160. Duh….namanya orang tua ya guys, ngakunya santai gak kepikiran apa-apaan, tapi dalam hati dan otaknya mana kita tau? Kayaknya ibu emang tegang dan mikir macam-macam gak bisa rileks makanya tensinya naik. Suster bilang kalau sampai besok tensi masih di atas 150 ya tidak bisa operasi karena risikonya tinggi sekali. Gantian saya yang gelisah kalau begini caranya. Segala macam cara saya lakukan biar ibu rileks. Saya ajak becanda-canda aja biar beliau gak tegang. Dalam kondisi beliau lagi puasa, dokter terpaksa meminta beliau minum obat penurun darah tinggi dan hanya boleh dengan dua sendok air putih saja. Lha iya wong sejatinya orang mau operasi kudu puasa tho?

Esok harinya, jam 09.00 WIB kakak saya datang lagi ke RS. Karena pengen nemenin ibu operasi juga. Tekanan darah masih 150 pas tapi suster bilang sudah mendapat perintah dari kamar operasi agar ibu segera menuju ke sana. Sekitar jam 11.00 WIB ibu masuk kamar operasi. Langsung dioperasi? Oh cencu tydaack…..Buat yang belum punya pengalaman operasi, ketauilah ketika kita masuk ke area kamar operasi, ada yang namanya ruang tunggu dan ruang pemulihan. Jadi….pasien yang udah masuk ke situ nunggu dulu dong di ruang tunggu karena kamar operasi yang jumlahnya terbatas mungkin belum selesai dipakai oleh dokter lain. Dan yang namanya menunggu gak sebentar. Sejam atau bahkan lebih. Ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dioperasi 2 tahun lalu loh ya. Dan ternyata hal yang sama pun terjadi pada ibu. Beliau nunggu sekitar sejam katanya sebelum akhirnya dioperasi. Selesai operasi juga mesti nunggu lagi di ruang pemulihan sampai biusnya benar-benar habis dan kondisi pasien dinyatakan stabil.

20190912_114022-600x800

Nah kita yang nungguin di luar kan ga tau ya…jadi terasa sangat lama. Masuk jam 11 kok sampe jam 14.30 WIB belum keluar juga? Sebetulnya saya rada tegang, kuatir operasi di dalam ada kendala. Kakak saya ngajakin becanda, katanya jangan-jangan si dokter lupa makanya gak di”kerjain” samasekali, hahahaha…..

Ketika jam hampir menunjukkan waktu di angka 15.00 WIB barulah tempat tidur ibu didorong keluar oleh suster. Alhamdulilah operasinya lancar, ibu sadar 100% dan bilang everything is ok. Sesampainya di kamar pun beliau sudah boleh makan minum dan itupun juga ga ada kendala seperti mual atau efek bius lainnya.
Sementara itu, benjolan yang sudah diambil dari leher ibu, sejatinya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Kami diberikan sebuah toples yang berisi air keras dan si benjolan oleh suster, kemudian diinfokan bahwa untuk pemeriksaan laboratorium patologi memang tidak dicover BPJS. Sehingga harus membayar Rp440,000 untuk pemeriksaan dan hasilnya ke luar dalam waktu satu minggu.
Benjolannya dari luar toples mirip biji pala baik tekstur maupun warnanya. Lebih besar sedikit ding dari biji pala. Saya bawa toples ke laboratorium patologi. Setelah dibuatkan kuitansi dan melakukan pembayaran, saya kembali ke kamar rawat inap ibu.

Malam kedua saya kembali menginap di RS. Kabar baiknya adalah besok ibu sudah boleh pulang. Nanti kontrol lagi satu minggu kemudian sambil dokter membacakan hasil laboratorium.

Keesokan harinya, pagi-pagi kakak saya datang ke RS. Lalu setelah suster mencabut infus, menyiapkan obat-obatan untuk dibawa pulang, kakak mengurus admin di loket BPJS. Total yang harus kami keluarkan hanyalah Rp400,000 untuk cek lab tadi, plus Rp3,000 untuk membeli semacam perlak plastik di apotik saat ibu mau mulai operasi. Empat ratus tiga ribu Rupiah saja. Setelah kakak selesai tandatangan segala macam di loket, kami melenggang pulang.

Wuih….di tengah pro kontra soal kenaikan iuran BPJS, dan pelayanannya yang antri serta membutuhkan stok sabar yang besar, kok kami merasa manfaatnya masya Allah banget ya untuk kondisi sakitnya ibu ini? Melenggang pulang (berasa) gratis. Mungkin saja biaya cash untuk operasi ibu ini adalah sekian belas atau bahkan puluh juta. Saya gak tau (karena emang ga minta perincian biaya aslinya ke loket, mengingat di loket BPJS juga banyak banget orang lagi pada antri mau berobat. Jadi niat itu saya urungkan).

Satu minggu sesudahnya ibu kontrol. Kali ini lagi-lagi hanya ditemani kakak saya. Dan dokter membacakan hasil lab-nya. Benjolannya bukan tiroid, bukan getah bening dan tidak memiliki sifat ganas. Dokter bilang bahwa ini semacam kelenjar ludah yang mampet makanya membentuk benjolan dan kemungkinan tidak akan muncul lagi selamanya. Alhamdulilah jika memang demikian.

IMG-20190919-WA0005-1

Mudah-mudahan ini yang terakhir kalinya kami sekeluarga menggunakan fasilitas BPJS. Alias sehat selalu. Kalau kalian ada pengalaman dirawat di RS dengan fasilitas BPJS juga gak? Share di komen ya kalau punya πŸ™‚
signature

12 thoughts on “Operasi Tumor Jinak Parotis menggunakan BPJS

  1. maureenmoz says:

    semoga ibu sehat selalu mbak.. dan kita semua tentunya.. sudah sejak lama orang tua sy menggunakan bpjs, ibu sy masih sampai sekarang untuk berobat rutin ke rs.. syukur to the max ini, ya antre antre dikit tak apalah..

    Liked by 1 person

  2. Bawangijo says:

    Alhamdulillah udah sehat ibuknya.

    BPJS itu ngebantu banget. Bapakku pernah kena serangan jantung dan harus pasang ring, aku kira bakalan bayar mahal gak taunya malah gratis. Disaat seperti itu kuingin menangis karena gak percaya. Terima kasih BPJS.

    Semoga kita sehat2 terus ya, amin.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s