Pelajaran dari Toko Kelontong

Nikmatnya naik kendaraan umum tanpa “menunduk” alias main hape, salah satunya adalah bisa ngeliat kondisi lingkungan sekitar. Salah satunya soal bagaimana manusia mencari rezekinya masing-masing. Dengan gak main hape, bisa lihat ada keluarga pemulung yang tengah bersama-sama berjalan sambil narik gerobaknya. Anak-anak mereka di dalam gerobak asyik bercanda, sementara sang bapak yang narik. Ibu berjalan mendampingi bapak.

Lalu di pinggir jalan ada tukang siomay yang kewalahan melayani antrean pembeli yang menyerbunya di saat jam pulang kantor. Dan masih banyak lagi. Alhamdulilah…….

Di antara sekian banyak pemandangan di sepanjang jalan, ada yang menarik perhatian saya. Bagi yang tau daerah stasiun kereta api Tebet-Jakarta Selatan, mungkin tau jika di stasiun tersebut berjejer Alfamart dan Indomaret seperti biasa. Kata “seperti biasa” merujuk pada betapa jamaknya kedua minimarket ini ditemui saling berjejer sebelah-sebelahan atau seberang-seberangan, di daerah manapun di Indonesia ini hahahaha…..
Nah balik lagi ke area stasiun Tebet….hanya berkisar 50 meter dari kedua minimarket tersebut, tepatnya di Jalan Asem Baris, ada sebuah toko kelontong yang baru mulai beroperasi. Saya bilang baru mulai beroperasi karena 12 tahun selalu lewat situ saban pulang kantor, ya baru kemarinlah saya melihat ada toko kelontong. Dan memang tampilan, cat dan bangunannya masih baru banget. Sudah pasti isi dan barang yang dijual ya sebagian besar plek ketiplek sama dengan minimarket. Perbedaannya mungkin cuma di: kalo di toko kelontong bisa beli ketengan (terutama untuk rokok) dan bisa ngutang hihihi….

Tak jauh dari daerah Tebet yaitu di Kampung Melayu tepatnya di terminal bis, ada pula Alfa dan Indomaret berdampingan. Lalu hanya berbeda 3 bangunan dari kedua mini market tersebut ada sebuah toko kelontong yang lumayan besar.

Itu masih ada jaraknya ya guys, walau 50 meter. Ada lagi yang lebih ekstrim (menurut saya). Jika temans tau RS Duren Sawit-Jakarta Timur, cobalah lihat ke seberangnya. Lingkungan komplek perumahan lumayan elit, dan beberapa rumah di situ dijadikan bangunan minimarket. Lagi-lagi 2 minimarket berjejer. Indomaretnya malah hanya beda tembok alias bersebelahan persis dengan sebuah toko kelontong sederhana. Setau saya, Indomaret ini baru berdiri sekitar 5 tahun lalu. Sejak sebelum Indomaret berdiri, sang toko kelontong sudah ada loh. Dan dengan kehadiran Indomaret di tembok sebelah rumahnya, ia tetap tegak berdiri, sampai hari ini. Pembelinya sudah tentu sedikit dan jarang. Saban saya melintas di situ kontras sekali perbedaannya. Parkiran Indomaret penuh, sementara penjaga toko kelontong tersebut nampak hanya menunggu pembeli yang jarang datang.

Semua cerita di atas, menyadarkan dan mengajarkan saya pada tiga hal: sabar, syukur dan yakin.
Sabar menunggu rezeki yang datang. Mensyukuri berapapun pemasukan toko di hari itu. Yakin bahwa rezeki gak akan pernah tertukar. Tetap semangat dan berikhtiar. Allah SWT sudah ngatur semuanya. Kalau memang sudah rezekinya dia, pasti ada aja pembeli yang malah belanja di situ ketimbang minimarket sebelah.

Coba deh kalo misalnya saya yang jadi pemilik toko kelontong itu….huuuuuu boro-boro deh. Yang ada langsung pesimis dan buru-buru gulung tikar alias nutup toko selama-lamanya, mengingat kuatnya superioritas para minimarket tersebut. Belum lagi mesti nahan perasaan saban ngeliat betapa ramenya minimarket ketimbang toko saya sendiri.

Pelajaran hidup bisa datang dari mana saja. Salut pada para pemilik toko kelontong tersebut. Terima kasih sudah mengingatkan saya, sehingga tiap kali saya merasa down, rezeki kok sedikit, dan berbagai hal yang saya rasakan sebagai kekurangan. Kurang-kurangi ngeluh, karena di sekeliling kita banyak yang masih tidak beruntung dibanding kita.

Dan marilah kita tutup postingan ini dengan mengucapkan alhamdulilahirobbil alamin…..

signature

7 thoughts on “Pelajaran dari Toko Kelontong

  1. Bawangijo says:

    Alhamdulillah…

    Aku kalo pagi pas berangkat ke tempat nunggu jemputan suka ketemu bpk pengumpul brg bekas yg lg narik gerobak. Aku inget banget bapaknya dari jaman aku masih sekolah dulu suka lewat dpn rumahku. Dari situ aku belajar untuk bersyukur, kadang kalo lg down aku suka ngeluh. Bapaknya lho setia dengan profesinya dan semangat kerjanya

    Liked by 1 person

  2. masHP says:

    Waah… kalau bisa bersyukur apapun jadi nikmat ya mbak. Kadang kita tidak menduga rejeki datangnya dari arah yg gak kita sangka2. Bisa jadi rejeki Toko Kelontong itu tidak dari pembeli yang biasa datang dan beralih ke sepasang minimarket yg menjamur itu.

    Tahu gak mbak, aku membiayai 2 anakku yg kuliah.. kadang aku berharap dari kerjaan ini, eh ternyata muncul di kerjaan lain. Kadang getol ngumpulin dari jalanan, eh tiba2 ada proyek pas lagi dibutuhkan.

    Aku jadi malu kadang sama Tuhan.

    Inspiring certianya, mbak Imelda.

    Sabar dan bersyukur itu membawa nikmat pastinya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s