Sebuah Blessing in Disguise

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang habit anak memperlakukan bekal sekolahnya. Bisa di baca di sini ya.
Nah ngobrolin soal bekal, ada kondisi blessing in disguise yang dialami anak-anak saya hampir setiap hari.

Jadi ceritanya nona kecil a.k.a si bungsu, adalah pribadi yang menyenangkan buat teman-teman perempuannya di kelas. Setidaknya statement ini diperkuat oleh wali kelasnya yang juga pernah menyampaikan ke kami sebagai orang tuanya, bahwa Lintang ini anaknya sholihah, suka jadi panutan buat teman-teman perempuannya, ga neko-neko, dan karena dia hobi gambar kadang-kadang suka ngegambarin apa aja dan dikasih ke temen-temen perempuannya. Makanya pada demen berteman sama dia.

Setiap hari si bungsu pulang sekolah membawa aneka ragam barang, yang ga pernah luput dipamerin ke saya dan bapaknya. Barang-barang tersebut ternyata dikasih sama teman-temannya. Mulai dari pensil motif sapi, penghapus, rautan lucu-lucu, gelang, kertas-kertas bermotif kartun, stiker, dan masih banyak lagi. Kadang amazing kenapa temannya pada gampang amat ngasih-ngasih benda milik mereka ke Lintang ya? Nanya ke anaknya, yah gitu deh namanyapun anak kicik baru kelas 1SD…polos-polos datar aja ekspresinya. Ditanya kenapa temannya pada suka kasih-kasih ya jawabannya cuma: “ga tau deh kenapa” nyambi ngeloyor pergi. Kadang sambil cengengesan, kadang wajahnya flat aja, hahahahha…..

Sejujurnya, emaknya rada was-was. Jangan-jangan segala pensil, rautan, etc itu dibelikan ortu anak masing-masing ya buat kebutuhan sekolah, bukan buat dibagi-bagiin ke temen. Akhirnya karena kepikiran, saya WA satu per satu para emak dari teman-temannya itu, yang suka pada kasih barang tentunya. Konfirmasi. Dan mereka cuma ketawa-ketawa aja sambil bilang biarin aja, mungkin emang anaknya pengen berbagi aja, gak usah diperhitungkan.

Nah, satu hal yang paling menyenangkan dan merupakan berkah tersembunyi adalah seorang temannya yang selalu memberikan Kokokrunch sachet hampir setiap hari. Sampai di rumah yang makan itu Kokokrunch siapa lagi kalau bukan kakaknya alias
si sulung. Nona kecil ga terlalu doyan Kokokrunch, bumi langit sama kakaknya yang addict. Karena tau dia addict Kokokrunch makanya saya justru gak pernah stok di rumah. Horor euy kalo dimakan udah macam makan kacang goreng. Horor buat kantong mamak maksudnya ……….
Emaknya enggak nyetok, anaknya dapat berkah dari teman si bungsu. Sementara yang dikasih kalo ditanya cuma jawab dengan polos “ga tau. Tau-tau si X tadi di kelas bilang ke aku ‘nih buat kamu aja”.

Awalnya saya pengen WA ibu dari si pemberi Kokokrunch rutin itu. Gak enak juga, tiap pulang sekolah dikira bekal si anak habis, padahal diberikan ke anak saya dan dinikmati si kakak di rumah. Tapi keinginan saya mau WA offcourse ditentang dong sama si kakak wahahahaha….karena kalo saya WA ada kemungkinan “setoran” Kokokrunch berkurang malah bisa-bisa ga ada selama-lamanya. Sudah tentu mengganggu stabilitas kesenangannya. Yasalam kalimat macam apa ini?

kokokrunch

Tersangka blessing in disguise tersebut. Sumber gambar: Tokopedia

Hahaha…postingan retjeh. Hanya menceritakan lucu-lucuan kejadian blessing in disguise tentang bekal. Gak papalah…itung-itung buat catatan funny memory-nya anak-anakku kelak. Simpan aja di sini dulu, ya kan? Hehehe…..

signature

One thought on “Sebuah Blessing in Disguise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s