Galau

Masa transisi. Sesungguhnya membuat galau. Katanya masih pembatasan namun banyak sektor sudah dibuka tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Misalnya mall, tempat wisata, Car Free Day. Di sisi lain angka penambahan positif corona bukannya menurun, tetapi menggila.

Selalu manteng di angka 1.000 per hari. Gimana saya gak galau ya? Jadi bingung sendiri, ini Pemerintah mulai buka sana buka sini tapi yang positif corona juga nambah banyak, emang gak ngerasa serem gitu ya?

Screenshot_2020-06-27-20-34-44-1

Kegalauan ini makin bertambah karena kangen. Iya, udah berbulan-bulan ga ketemu fisik sama ortu dan sodara. Lebaran cuma by video call WA. Tentu beda rasanya kalo kita hadir secara fisik bersama mereka. Akhirnya kami mencoba memberanikan diri datang ke rumah ortu di Bogor. Mengucap bismillah, banyakin berdoa, kami sekeluarga bermobil ke sana. Kenapa banyakin berdoa? Ya kita sama-sama ga tau…siapa tau kami yang OTG atau sebaliknya orang-orang di rumah ortulah yang OTG.

Tiba di rumah ortu, reaksi yang saya dapat terbalik dengan apa yang saya pikirkan. Selama dalam perjalanan, saya udah feeling: ini pasti mereka seneng banget ketemu cucu-cucunya terutama. Pasti akan berpelukan bertangisan khasnya orang yang sudah sangat lama gak ketemu.

Dan saya salah. Menjejak ke dalam rumah, pertanyaan pertama nyokap adalah: “Aduuh ini kok udah pada berani jalan-jalan sih? Emang gak papa ya?”
Nah lo! Gak disangka, beliau malah lebih ketat protokolnya dibanding saya sekeluarga dong. Padahal ini anaknya sendiri yang datang dan cuma ke rumah beliau, gak pake mampir kiri kanan dulu, eh malah ditegur begitu haha.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah salah tingkah. Saya salah tingkah antara mau salaman dan peluk cium beliau, dan beliau pun dengan salah tingkah hanya menyodorkan salam tinju saja. Maksudnya untuk meminimalisir bersentuhan. Akhirnya saya mencium tinju yang beliau sodorkan.

Tiba-tiba saya merasa nyess dan sedih di hati. Ini gak seharusnya terjadi. Gara-gara corona kok jadi gini ya? Kami gak bisa peluk cium sewajarnya. Sampai kapan? Asli aneh banget rasanya. Dan ketika beliau melihat cucunya, salah tingkah kembali terjadi. Akhirnya saya inisiatif, membolehkan beliau mencium anak-anak. Beliau agak kikuk dan memilih mencium rambut anak-anak saya sembari berujar kalau cucunya udah nambah besar dll.

Enggak ngerti lagilah akutu. Anak-anak tiba-tiba harus sekolah online, saya masih bisa terima dengan wajar. Disuruh diam berbulan-bulan di rumah saya masih bisa terima dengan wajar. Banyak masyarakat biasa tiba-tiba berface shield ria di mana-mana, pun saya bisa menerima dengan wajar. Tapi enggak dengan bertemu ortu kandung sendiri dalam keadaan aneh seperti ini.

Sekali lagi, sedih. Tapi ya mau bagaimana lagi?

Jakarta, 27 Juni 2020

Yang sedang galau
signature

2 thoughts on “Galau

  1. jessmite says:

    Jadi kikuk ya ketemu orang tua sendiri karena takut melangkahi batas yang mereka buat untuk perlindungan juga sebagai bentuk sayang kepada anaknya juga supaya sama-sama tetap sehat. Di kantor juga saya diajaki salam tempelin siku masing-masing gitu, mbak. 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s