Serunya Sekolah Online di Era New Normal

Udah gatel dari kemarin-kemarin pengen nulis ini. Tapi bener-bener tertunda lantaran sekolah daring anak-anakku sudah mulai. Flashback sedikit: waktu sebelum kenaikan kelas dan anak-anak sudah mulai Maret belajar dari rumah, pihak sekolah diprotes sama semua ortu siswa. Karena tugas daring yang dikasih gampil-gampil, cuma dikirim lewat WA, ga ada tantangannya, plus minim tatap muka via Zoom meet atau lainnya.

Padahal SPP jalan terus, tapi gak sepadan dengan tugas dan pelajaran yang didapat semua siswa. Akhirnya tinggal hitungan minggu menjelang kenaikan kelas, barulah sekolah bereaksi. Semua siswa mulai belajar menggunakan Google Classroom, udah jarang pakai WA lagi. Tugas-tugas lebih terkoordinir, dan bobotnya lebih berat. Anak-anak dan ortu pun beradaptasi menggunakan sistem Google Classroom yang mungkin buat banyak orang gaptek akan membingungkan (termasuk eikeh di awal-awal).

Protes menjadi pemicu bagi pihak sekolah untuk akhirnya memperbaiki semua sistem pembelajaran daring ini. Dan…eng ing eeeeng…..mulai tahun ajaran baru, tepatnya 13 Juli 2020, sekolah anak-anak kami benar-benar tancap gas poll! Gak pake rem, ga pake kelamaan adaptasi. Ortu murid? Saya pribadi puas dan senang luar biasa. Benar-benar selaras dengan uang SPP.

Mau tau setiap harinya seperti apa?

Start jam 07.00 teng semua siswa masuk ke Google Meet. Jadi Google Meet ini sama aja dengan Zoom tapi doi unlimited waktunya, plus syncronized dengan Google Classroom. Jam 07.00 WIB anak-anak berdoa dan diberi penjelasan awal oleh wali kelas mengenai materi apa saja yang akan diajarkan seharian ini. Semua memakai seragam sesuai harinya, termasuk guru yang mengajar.

07.15 WIB mulai materi pelajaran. Semua tetap stay di Google Meet ga pake leave. Dan….berakhir di jam 11.30 WIB. Setiap hari Senin-Jumat, non stop seperti itu, bahkan untuk kelas rendah (1 sampai 3) sholat dhuha berjamaah dituntun wali kelas via Google Meet ini.
Istirahat dalam arti mengistirahatkan mata dari layar gadget dilakukan setiap ada break 5 menit. Anak-anak diminta rehat 5 menit dan ga menatap layar samasekali. Boleh minum, makan, liat ijo-ijo dulu di halaman, dan kegiatan lain. Nanti kalo sudah lima menit, gabung lagi di kelas Google Meet. Selama pembelajaran, kadang guru memberikan latihan, dan juga ulangan. Pas ulangan: semua kamera siswa wajib dibuka, sehingga guru bisa melihat apakah siswa ada yang contek-contek ke buku atau tanya-tanya ke pendamping/ortu. Gak tau deh ini maksimal atau engga at least guru telah mencoba.

Berapa kuota yang habis 1 hari dengan sistem tethering? 1,5 sampai 2 GB untuk dua anak (kebetulan anak saya dua) per hari. Laptop running dua buah, diberi jarak supaya satu sama lain ga saling ganggu. Si kakak pakai headset, adik cukup pakai speaker laptop. Inilah yang akhirnya membuat saya mikir-mikir mo pasang wifi aja, mengingat sekolah online ini akan berlangsung sampai akhir tahun.

20200726_180947

Yang kakak santuy nyender, adiknya serius. Beginilah kondisi di rumah setiap hari sekolah

Seru gak? Sudah cencu. Masalah jaringan yang byar pet dan delay, anak-anak yang ga konsen karena bergaya semau-maunya di rumah (ada yang senderan, ga denger penjelasan guru, lupa nyiapin buku, dll) membuat sekolah online ini dipenuhi dengan aneka kehebohan:

“Ibu (guru) halaman berapa bu yang dikerjain?” Padahal bu guru masih nerangin dan belum masuk ke materi halaman berapa

“Ibu aku gak denger suara ibu kecil” Karena mic ibu guru bermasalah

“Ibu ini jam berapa selesai sekolahannya?” Padahal kelas baru mulai setengah jam. Banyak yang sudah bosan karena cuma duduk berjam-jam di depan laptop.

“Apa bu? Gak kedengeran.” Yang lain dengar, doi sendiri ga dengar karena sibuk sendiri ini itu di rumahnya

“Ibu kamera aku ga bisa, cuma suara (mic) aja” Ya sudah bu guru maklumin

Dan ibu guru pun:

“Tidak boleh chat yang enggak-enggak ya” Karena hampir semua anak pada bandel tetep nge-chat dan saling ngobrol ketik-ketik di chat. Ngobrol soal game online lah, ngobrol cuma saling say Hi lah.

“Tolong di-mute dulu ya, temannya mau bicara semua coba diam dulu” Karena masih pada gak mudeng, udah bolak balik disuruh mute tetep keukeuh berlomba-lomba ngomong.

” (menyebut nama seorang siswa) mana ya? Ini kok ada online tapi dipanggil-panggil tidak menyahut?” Ini terjadi saat siswa yang mungkin gak didampingi ortunya nyalain G-Meet lalu kamera dan mic di-off. Dia terlihat online tapi raganya bahkan engga ada di depan laptop, alias anaknya mabur embuh ke mana, wkwkwkwk.

“Sebentar laptop ibu lowbatt, ibu leave bentar ya.” Dan kesempatan ini digunakan semua siswa untuk bebas merdeka ngobrol satu sama lain persis di kelas offline sungguhan. Bahkan sampe share screen yang ga relevan dengan pelajaran, dan berakibat siswa yang melakukan mendapat teguran dari pihak sekolah.

Nah lalu bagaimana pendampingan ortu siswa? Dengan segala keterbatasan kondisi ini, pihak sekolah tetap fleksibel. Jika memang kedua ortu bekerja ga bisa mendampingi, gak masalah, bahkan ketika anak benar-benar tidak bisa bergabung di kelas Google Meet akibat ortu ga ada plus devicenya otomatis ga tersedia, it’s ok. Ada kok teman-teman anak saya yang setiap hari gak pernah ikutan Google Meet. Ortunya WFO dua-duanya, bisa jadi.
Semua latihan soal di-pull di inbox Gmail masing-masing siswa. Tinggal kerjakan dengan waktu pengumpulan yang juga fleksibel. Waktu pengumpulan bisa sampai jam 21.00 WIB bahkan beberapa guru memberi kelonggaran waktu lebih dari itu. Semampunya anak saja.

Alhamdulilahnya, sampai saat ini kantor saya masih fleksibel. Dipersilakan WFO dengan kapasitas gak boleh lebih dari 50% (sesuai aturan PSBB Transisi DKI Jakarta) namun tetap dibolehkan WFH jika karyawan ingin. Jadilah saya dari jam 07.00 dampingi anak-anak dulu sampai mereka selesai di 11.30 WIB, kemudian saya ngantor. Di sela-sela mereka mendengar penjelasan guru, saya curi-curi masak. Yang lebih banyak butuh pendampingan adalah anak bungsu karena baru kelas dua. Belum terlalu mengerti apa yang mesti diklik, link mana untuk masuk ke kelas, link mana untuk ikut quiz soal latihan, dll dll.

Hari ini sudah mau masuk minggu ketiga sekolah online. Capek? Sudah tentu. Kerja juga, jadi bu guru juga, masak juga, mesti pintar kelola emosi juga saat (terutama saat anak-anak cuek sama penjelasan bu guru, dan pas ada latihan soal malah manggil emaknya suruh bantuin. Lha doi yang dengerin guru kenapa ogut yang ditarik-tarik? Yang sekolah sopo tho?).
Running 5 hari seminggu. Bahu membahu sama pak suami untuk menghandle semua ini. Sudah tentu kerepotan ini jauh lebih baik ketimbang memperbolehkan anak kita masuk sekolah di tengah makin tingginya kasus Covid 19 di DKI Jakarta. Btw, saya pribadi merasa selama hampir 3 minggu ini maksimal kok pembelajaran yang disampaikan pihak sekolah. Padat materinya, bahkan untuk mata pelajaran Tematik di kelas si kakak, setiap Jumat adalah jadwal ulangan harian.
Anak-anak mau gak mau dipaksa belajar full ga pake leha-leha. Puaslah pokoknya.

Huffttt….udah  seribu kata aja ketak ketik dimari hahaha….Buat kalian yang mengalami hal yang serupa dengan saya, mari tetap semangat, sabar, dan berdoa semoga sistem sekolah online ini tetap membuat anak-anak kita sehat walau mata mereka harus bergaul setiap hari dengan gadget demi belajar.

Share juga ya pengalaman kalian selama mendampingi anak-anak sekolah online 🙂
Oh ya, mau mengutip salah satu status WA ibunya teman sekelas anak saya:

Anaknya yang daring
Ibunya yang darting 

wkwkwkwkw…..semangat semuanyaaa….!

signature

 

6 thoughts on “Serunya Sekolah Online di Era New Normal

  1. shintadaniel says:

    Iiioh samaan banget ini maah… jadual anakku jam 8 s.d jam 9 absen pagi dan sekolah daring, istirahat 10 menit, jam 9.10 – 11.50 lanjut belajar mandiri sm pendampingnya, jam 11.50 – 12.00 penutupan absen akhir, jam 12.00 – 13.00 ishoma. Jam 13.00 – 14.00 tentative belajar lanjutan bagi anak2 yg butuh remed/penjelasan. Kalau engga ya selesai di jam 12.00…. lucu amat itu ortu protes gara2 pelajaran krg berbobot, kalau aku mah malah seneng, walau gak sepadan sm SPP. Lumayan kasih napas buat anak2 dan ortu juga.

    Like

  2. Rahma Balci says:

    disini baru mau mulai 31 agustus mba, masih simpang siur bakal gmn, kalau menteri pendidikannya bilang: 2 hari masuk kelas, 3 hari daring. Yang dikuatirkan yang sekolah di kota2 bsar, kapasitas ruang kelasnya tidak memadai,apalagi kota seperti istanbul penduduknya saja 16 jutaan lebih, sekolah negeri dibagi jam pagi dan siang, krn kami di kota kecil, dan kasus covid jg hampir ga ada, saya malah pgn anak masuk sekolah normal, sekelas juga hanya 24 siswa, protokol kesehatannya msh bs dihandle :(emaknya ga mau pusing..upps) kadang kasian sama Fatih, baru masuk kelas 1, masih adaftasi dengan teman2 kelasnya, eh diputus sekolah online. dia jg mulai bosan kadang, lagi senang2nya sekolah, bergaul. smg wabah ini segera diangkat

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Mbak Rahma baca komenmu jadi tau yang terjadi di negara lain terkait kebijakan Corona. Masih lama ya sekolahnya mulai? Iya sih untuk anak seumur Fatih pasti bosen banget dikurung dalam rumah melulu walau internet online 24 jam ya mbak. Mbaca komenmu ikutan deg2an terutama sekolah masuk shift-shift an begitu. Karena banyak data membuktikan sekolah itu menciptakan klaster2 baru karena begitu banyaknya orang yg berada dalam satu area yang sama, hiks hiks…..semoga wabah ini segera berlalu ya. Sehat-sehat selalu di Turki ya mbak

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s