Postingan di Status Whatsapp (Bukan Whatsapp-ku)

Whatsapp tak dipungkiri saat ini menjadi salah satu platform sosial media yang digunakan banyak orang untuk eksis dan mengekspresikan diri. Sama seperti IG story, umur status di WA kurang lebih 24 jam saja. Setelah itu bubar jalan.

Saya juga suka pasang status di WA. Walau tetap membatasi diri dalam hal konten yang diposting. Sudah pernah saya ceritakan di sini.

Nah di salah satu contact list saya, yang seringkali pasang status adalah para guru sekolahnya anak-anak. Sebetulnya ga ada larangan sih, karena itu WA nya beliau-beliau semua, bebaslah mengekspresikan dirinya lewat postingan status. Namun tidak demikian halnya dengan pendapat pak suami ketika saya bercerita padanya malamΒ  ini, yang akhirnya memicu saya mencurahkannya di postingan ini.

Jadi, ada salah satu guru yang saya perhatikan senantiasa memposting status yang berkaitan dengan politik. Ini masih terkait kontestasi 01 dan 02 pada pilpres kemarin. Isi postingannya gak jauh-jauh dari nyinyir dan nyindir ke kubu yang menang, dan memuji kubu yang kalah yang beliau dukung. Berbagai screenshot berita-berita yang kemudian ditambahkan caption sindiran dari beliau, memenuhi statusnya.

Saya hanya maklum. Pak suami? Protes dong. Menurut paksu, gak layak seorang guru yang sewajarnya menjadi teladan bagi anak murid, mengunggah status-status politik sindir-sindiran seperti itu. Bagaimana jika status tersebut terbaca oleh anak didik dan juga ortu anak? Anak gak paham politik tapi dijejali dengan pemandangan kurang sedap macam itu. Saya bilang ke paksu: kan yang lihat hanya ortu, anak-enak enggak (karena anak-anak kami memang belum punya hape). Paksu bilang tetap tak elok. Wibawa guru terusik jika mereka malah ikut terjerumus dalam kondisi-kondisi politik begitu.

Ya memang, profesi-profesi semacam pendidik (guru/dosen), aparatur negara (pemimpin daerah, anggota TNI, polisi) rasanya memikul beban untuk menjaga nama baik profesinya ya. Gak bisa sebebas rakyat sipil biasa, termasuk dalam bersosmed ria.

Paksu malah menyarankan agar saya WA ke bagian Humas sekolah, minimal menjelaskan bahwa kami tidak nyaman jika anak-anak kami diajar oleh guru dengan habit posting seperti itu. Saya bilang bahwa kok rasanya agak berlebihan sampai melapor segala? Apalagi selama handle anak kami di sekolah online, beliau gak pernah macam-macam kok. Mengajar sewajarnya saja. Sekali lagi paksu tekankan bahwa ini terkait dengan wibawa dan profesi guru yang selayaknya ga perlu ikut-ikutan dalam politik.

Sampai saat ini saya memang gak melapor. Dilema juga ya: gak dilaporkan ya beliau akan tetap begitu. Dilaporkan kok rasanya agak gimana gitu? Hehe……

Bagaimana dengan pengalaman kalian? Pernahkan bersinggungan dengan hal-hal seperti cerita saya di atas?

8 thoughts on “Postingan di Status Whatsapp (Bukan Whatsapp-ku)

  1. mrs muhandoko says:

    setuju dengan paksu nya mbak imelda. kurang elok jika profesi tertentu share mengenai politik. kalau cuma status mungkin gpp ya, tinggal mute aja. tapi jangan sampe anak2 ntar diceritain juga tentang politik πŸ˜›

    apa nggak dijapri aja mbak? mungkin disampaikan uneg unegnya. kalau lapor ke humas, agak berat juga ya πŸ˜€

    ehm… aku pernah dulu sampe unfriend dan blok beberapa teman karena postingannya politik meleee, dukung salah satu dan menyudutkan pihak lain.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Kalo sampe diceritain politik sebetulnya malah sudah pernah pas pilkada Jakarta yang Ahok vs Anies itu. Anakku baru kelas 1 atau 2 gt, lupa, pulang-pulang dari sekolah bilang kalo tadi di kelasnya diumumin besok libur dan kita besok akan memilih kandidat Anies dalam pilkada. Gitu2lah pokoknya….hahaha ngebatin aja masih pada kelas 1 SD malah disusupi pesan-pesan sponsor begitu ya. Ngarti juga kagak murid-muridnya.

      Kalo soal japri, malah akunya yang pakewuh euy, makanya pengen via humas/divisi kritik dan saran aja gitu, Na.

      Soal unfriend, wah aku mah udah dari zaman Jokowi vs Prabowo yang pilpres pertama banget udah rajin delete-delete list friend di FB yang tiba-tiba jadi ahli politik semua. Kocak sih sebetulnya, mereka berapi-api berantem sesama rakyat buat ngebela kandidat pilihannya, sementara kandidatnya adem ayem aja. Apa gak habis ya energi mereka begitu2 melulu?

      Maaf jadi panjang balesan komennya hehe

      Like

  2. Phebie | Life Essentially says:

    Idealnya begitu mba. Tapi kondisi sekarang sudah banyak orang stress..termasuk yg gagal move on. Saya yang suka vokal saja sudah mengendorkan pita suara πŸ˜‚ simpan untuk isu yg lbh penting..

    Ortu lain ada yang protes nggak? Paling enak itu kalau rame2….heuheuheu.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Phebie | Life Essentially Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s