Serba Serbi Sekolah Online – Bu Guru juga Wali Murid

Halo semua. Lama ga ngeblog gara-gara tingkat kemalasan semakin menjadi. Apalagi semenjak PSBB total yang akhirnya membuat kantor saya full WFH maning. Sebetulnya sudah capek mengikuti semua percovid-an ini, tapi apa daya doi masih ada di muka bumi, jadi mau gak mau kita harus lakukan semua yang kita bisa untuk melawannya. Tsaaahh…prolog macam apa ni? Hahaha….

Lagi-lagi kali ini saya mau cerita tentang serba serbi sekolah online yang entah sampai kapan ini. Kebetulan saya alhamdulilah selalu bisa mendampingi anak-anak selama mereka Google Meet, walau mesti wara wiri nyambi masak dan pekerjaan kantor. Jadi bisa mengikuti dan ikut memahami penjelasan yang disampaikan guru.

Bu guru sebetulnya sama saja dengan wali murid. Mereka juga adalah orang tua, wali murid bagi anak-anaknya. Jadi di saat bu guru mengajar, anak bu guru juga sekolah online dari rumah. Bagi yang rumahnya luas mungkin tidak menjadi masalah. Namun apabila kondisi terbatas, maka yang terjadi adalah suara pelajaran online anak bu guru yang ikut masuk dan meramaikan penjelasan di kelas anak saya.  Bukan hanya itu. Terkadang sembari menjelaskan, anak bu guru meminta pertolongan mamanya, karena tidak bisa masuk ke link atau gak ngerti pelajaran ini itu yang sedang dibahas. Bu guru sesekali bilang ke anak didiknya “Sebentar ya, anak bu guru butuh bantuan masuk ke link (nama pelajaran) dulu.”

Yang pernah terjadi pula: anak bu guru yang memang masih kelas 2 SD menangis gara-gara ketinggalan mengerjakan tugas langsung saat Google Meet berlangsung. Sang anak terus mendesak bu guru untuk mengatasi masalahnya padahal di saat yang bersamaan mamanya tengah menjelaskan pelajaran kepada anak saya dan teman-teman lain. Suara tangisan anak bu guru terdengar jelas oleh kami. Terpaksa kamera dan speaker bu guru di-off. Kelas anak saya idle untuk sementara, sampai bu guru hadir kembali. Pernah pula bu guru cepat-cepat mengakhiri tatap muka online dengan kelas anak saya, karena backsoundnya sudah terdengar rengekan sang anak yang meminta bantuan pelajaran. Padahal mungkin pemaparan yang disampaikan belum sepenuhnya dipahami siswa, namun apa daya ada “gangguan” 🙂

Lepas tatap muka online, sudah bisa ditebak: bu guru mungkin sibuk membantu anaknya mengerjakan tugas maupun pe-er. Di saat yang bersamaan tanggung jawabnya sebagai guru juga jalan, yaitu memeriksa tumpukan tugas dari puluhan siswanya. Belum lagi mendata siapa saja yang belum mengumpulkan tugas tepat waktu, sehingga bu guru juga harus japri ke ortu murid-muridnya satu per satu. Belum lagi jika ada pertanyaan lanjutan dari pihak ortu/murid tentang tugas yang mungkin belum terlalu jelas. Yang terakhir ini saya beberapa kali mengalami. Saya menjapri bu guru jika memang keterangan di soal pe-er anak gak bikin kami mudeng. Daripada salah mendingan konfirmasi ke gurunya, ya kan?

Suka duka menjadi guru sekaligus orang tua ya guys. Saya gak kebayang kalau ada di posisi beliau. Dan pada akhirnya saya sebagai orang tua murid maklum. Kondisi serba online begini memang serba penuh toleransi dari kedua belah pihak. Kalau kita sebagai ortu terutama ortu bekerja, juga mesti multitasking antara WFH, ndampingi anak sekolah online, ngurus rumah tangga juga, ndampingi anak bikin pe-er dan lain-lain, we are in the same shoes with the teachers. 

Ini opini pribadi saya. Banyak ortu di luar sana yang memiliki opini dan persepsi berbeda. Gak usah jauh-jauh, di grup WA kelas anak saya banyak yang pada curcol ke bu guru betapa rempongnya mendampingi anak sekolah online begini. Betapa banyak yang miss di sana sini, kelewatan baca pengumuman ini itu karena mesti multitasking juga. Energi terkuras lebih banyak dan ujung-ujungnya pusing. Lagi meeting WFH direcokin anak yang nanya soal Matematika. Lagi mau nyetrika dan masak tapi gak bisa lantaran anak merengek minta dibantuin ngerjain pe-er dan kondisinya gak punya ART di rumah. Banyak deh curcolan semacam itu 🙂

Yah begitulah cerita seputar sekolah online kali ini. Besok-besok saya update lagi ya kalo pas ada ide, hehehe…..

Semangat untuk sesama emak-emak! Yakinlah kondisi ini 100x lebih baik dibanding membiarkan anak sekolah tatap muka langsung di tengah pandemi yang belum ketauan ujungnya ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s