Uneg-Uneg saat Pandemi

Kita semua memang tidak pernah menduga bahwa hanya menikmati tahun 2020 ini tiga bulan saja. Januari sampai Maret. Dan virus tersebut mengubah semua aspek kehidupan kita. Bisa jadi sampai akhir tahun, atau bahkan hingga 2021. Entah sampai kapan.

Di awal-awal pemberlakuan PSBB  dan pengetatan di sana-sini pada bulan Maret, kita masih bisa mengikuti dan patuh. Bulan demi bulan berganti. Lama kelamaan banyak orang merasa sumpek juga. Ya, sangat bisa dipahami karena kita semua makhluk sosial yang terbiasa berinteraksi dan memiliki kebutuhan akan perubahan, pelepasan, suasana dan pengalaman baru (menurut teori Maslow dalam bukunya Motivation & Personality kebutuhan ini ada di urutan ketujuh).

Pada akhirnya yang terjadi: sebagian besar masyarakat sudah abai karena sudah capek menghadapi kondisi harus di rumah saja. Padahal di lain pihak, kita masih butuh sekali banyak berdiam diri di rumah karena kurva kasus negeri ini tak kunjung melandai.

Di tengah kondisi ini, saya ingin menumpahkan uneg-uneg yang selama ini saya pendam. Petjah di sini akhirnya, ahahaha…..ga tahan men kalo gak dituangkan ke postingan.
Apakah itu?

1. Nemu orang-orang yang mengajak untuk berbuat sebaliknya. 
Rasa frustrasi karena diam di rumah saja memang kita semua rasakan. Pada akhirnya ada saja manusia yang mengajak untuk tidak diam di rumah saja. Beberapa yang saya temui di media sosial terang-terangan mengungkapkan kekesalan dan frustrasinya terhadap kondisi PSBB dan sejenisnya dengan mengajak orang lain untuk jalan-jalan, dengan alasan bahwa manusia butuh relaksasi supaya imun tubuh pun meningkat. Ada pula yang terang-terangan mempersuasi agar  bepergian ke luar Jakarta yang lagi PSBB. Pergi ke daerah yang tempat-tempat wisata dan tempat makan masih pada dibuka dan bisa makan di tempat alias nongki-nongki. Disertai ajakan “jangan mau ditakut-takuti dan di rumah aja”. Jadi mungkin semua data soal kenaikan angka kasus dan kematian akibat corona dianggap menakut-nakuti saja. Semakin kita takut, imun tubuh semakin drop. Ajakan tersebut juga dilengkapi dengan memposting angka kesembuhan pasien corona. For me: yaelah apa artinya kesembuhan mencapai ribuan kalau jumlah yang positif pun nambah ribuan? Kalau yang sembuh ribuan trus kenaikan kasus positif cuma 10 orang secara nasional, nah bolehlah tu diangkat ke postingan sosmed. Saya juga pasti akan berbahagia ikutan mosting karena kurva melandai banget kan? (ya Allah ngarep banget akutu…). Dan oh ya…tentu hampir semua postingan tersebut diupload dengan foto tanpa memakai masker. Kalaupun pake, yah yang dimaskerin bagian dagunya 😦
Buat saya pribadi, okelah kalian frustrasi tapi akan jauh lebih baik gak usah menyeret orang lain untuk berbuat hal yang sama. Kapan mau kelar ini covid kalau semakin banyak yang mencontoh perbuatan mereka?

2. Nemu orang yang sibuk memposting bahayanya covid, tapi doi juga posting jalan-jalan dan kumpul-kumpul berkerumun sama keluarga teman-temannya, bebas ndak pake masker.  Mbatin aku jadinya kan…..Standar ganda kali ya mereka itu hehe. Entahlah. Ngumpul rame pas acara ultah, staycation rame-rame sama anak masing-masing yang usianya masih pada balita, tapi abis itu mosting opini betapa kita harus menjaga keluarga kita dari covid, harus pake masker, dll. Pengen banget teriak di depannya: lha kemarin iku sampeyan ngapain aja guys? Jadi maumu piye tho jal?

Dua itu aja deh. Lega juga udah ditumpahkan di sini.

Akupun bukan manusia sempurna. Ke tukang sayur pun walaupun bermasker sesekali menghadapi kondisi tak terhindarkan yaitu kerumunan kecil sesama emak-emak pembeli sayur. Sepedaan alias olahraga outdoor masih saya lakukan walaupun benar-benar cuma berdua suami atau sama anak-anak. Liatin aja tu di IG-ku kalo ndak percaya. Masih gak sempurna di sana sini. Tapi sekuat tenaga berusaha untuk tetap melakukan protokol kesehatan, berusaha tahan-tahan diri nyari kegiatan yang masih bisa bikin waras jiwa raga meskipun dalam rumah aja. Nahan rindu gak ketemu ortu entah udah berapa bulan. Karena pengen banget semua ini berakhir.

Udah. Sekian. Cuma mau cerita begitu aja. Terima kasih sudah membaca.

5 thoughts on “Uneg-Uneg saat Pandemi

  1. nhfauziah says:

    Yg kedua itu saya rasakan banget. Dan yg nyesek, mereka itu nakes lho. Satu hari sambat nakes pada jadi korban, lain hari jalan sama anak makan di luar. Lha wong yg orang biasa gini aja empati banget, ga brani ngajak anak jalan2. Ya sudahlah. 😬

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s