Free Bleeding – Duh Aku kok Jijik Yo?

Asli saya baru tau bahwa ada gerakan yang namanya Free Bleeding. Jadi, gara-gara iseng scrolling di Quora, eh nemu pembahasan tentang gerakan feminisme ini.
Singkatnya gerakan ini menganut paham bahwa perempuan bebas untuk tidak menggunakan pembalut atau alat bantu apapun saat ia menstruasi. Darah dibiarkan menembus pakaian, menodainya, menetes ke kaki kita, ah sudahlah. Membayangkan dan menulis ini pun sesungguhnya saya menahan rasa mual.

Saya baca dari beberapa sumber, gerakan ini diawali sebuah blogpost tahun 2004 yang mencetuskan pembahasan terkait Free Bleeding ini. Sayangnya, ketika saya klik link blogpost tersebut, sudah gak bisa diakses.

Gerakan feminisme ini bukan tanpa penyebab. Ada lima sejauh ini yang saya rangkum dari berbagai sumber:

1. Bahwa wanita berhak penuh atas tubuhnya. Wanita berhak untuk mengekspresikan kebebasan atas apa yang dimilikinya, sama seperti pria. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ada gerakan feminisme di Amerika (kalau tidak salah) yang menuntut hak bahwa jika pria diperbolehkan telanjang dada di tempat umum, maka wanita juga punya hak yang sama. Gak perlu ada yang ditutupi hanya karena dia berjenis kelamin wanita. Nah Free Bleeding ini kurang lebih sama. Intinya menuntut persamaan hak, specifically hak atas tubuh.

2. Adanya penyakit Toxic Shock Syndrome (TSS). Dilansir dari healthline.com, penyakit infeksi akibat bakteri ini ada kaitannya dengan penggunaan tampon saat menstruasi. Makanya untuk menghindarinya, lebih baik gak pakai tools apapun samasekali saat datang bulan tiba.

3. Berkurangnya rasa kram yang selalu datang saat mens. Dari beberapa sumber dikatakan, penggunaan tampon malah membuat kram mudah datang. Sementara ketika penganut Free Bleeding tidak memakai apapun, mereka merasakan kram malah hilang samasekali.

4. Persoalan sulitnya akses terhadap menstrual kit di banyak negara, termasuk di beberapa negara di mana menstrual kit dibebani pajak yang tidak sedikit. Belum lagi di negara-negara miskin, kemungkinan para wanita di pelosok pedesaan yang begitu kesulitan walau hanya sekedar membeli pembalut (kalo di bahasa kita mah beli Softex ya guys. Apapun merk pembalutnya, teteeep disebut Softex haha), tampon, atau menstrual cup.

5. Isu lingkungan. Saya pribadi kalau mens biasanya 7 hari. Bayangkan betapa banyaknya pembalut yang dibuang ke lingkungan ini. Kalikan dengan mens yang selalu rutin datang sebulan sekali. Sebuah penelitian mengungkap, di Amerika Utara setiap tahun sekitar 20 miliar tampon dan pembalut dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di Indonesia saya belum menemukan komunitas atau wanita yang mengikuti isme ini. Namun di Barat sana, sudah banyak sekali wanita yang kesehariannya menerapkan Free Bleeding. Jika kita buka IG dan ketik hashtag #freebleeding, kita akan menemukan banyak feminis yang memposting foto berkaitan dengan aktivitas datang bulan mereka. Salah satunya adalah Kiran Gandhi, drummer grup musik M.I.A, seorang lulusan Harvard University bergelar M.B.A. Kiran mengikuti lomba lari London Marathon 2015 saat menstruasi, dan membiarkan pakaiannya tembus oleh darah mens. Saya gak mau posting di sini foto-fotonya. Karena buat saya…menjijikkan. Silakan pemirsa browsing sendiri ya.

Meskipun, dari apa yang saya baca, beberapa penggiatnya menerapkan aturan-aturan dalam diri mereka sendiri, agar paham yang mereka anut ini juga tidak mengganggu orang lain yang kontra. Misalnya, ada yang mengakalinya dengan minum setiap 30 menit sekali. Akibatnya dia akan sering ke toilet buang air dan saat itulah sekaligus mengganti dalamannya yang sudah kena darah mens. Jadi ga keburu luber ke kursi atau tempat ia duduk. Lalu ada pula yang hanya menjalankan Free Bleeding ini ketika ia di rumah saja. Pas ke luar (kantor, hang out dll) ya tetap pakai pembalut atau tools menstruasi lainnya. Lalu ada pula yang mengakalinya dengan memakai bawahan hitam plus underwear khusus yang bisa menampung darah agar tidak banyak tembus dan berceceran.

Namun tetaplah, apapun aturan yang mereka terapkan, gerakan ini cukup membuat kepala puyeng buat saya pribadi. Dari sisi etika, dan terutama juga hygienitas. Kebebasan macam apa yang dituntut? Kebebasan yang justru membatasi kebebasan orang lain untuk berhak memperoleh kondisi yang bersih?
Bayangin kalau penganut Free Bleeding makan di restoran, duduk, dan mengotori kursi tersebut dengan darah menstruasinya. Walau hanya sedikit, tapi bagi yang tidak sepaham akan merasa betapa tidak sopannya wanita tersebut. Gimana dengan restonya? Apakah mereka harus sigap membersihkan darah tersebut dari kursi, for the sake of menghormati kebebasan yang dianut Free Bleeding ini? Dan pengunjung berikutnya yang datang kemudian harus duduk di bekas Free Bleeders itu duduk? Ugh,…kutak berani membayangkannya.
Lalu masalah hygienitas. Kita semua paham, mens adalah darah kotor. Sekali lagi ya: darah kotor. Ketika darah tersebut ke luar dari tubuh kita, dan bersinggungan dengan udara, maka akan menimbulkan bau tak sedap. Lalu darah kotor ini juga bukan tak mungkin membawa kuman, bakteri atau virus yang kita tidak pernah tau, lalu menyebar di udara dan menulari orang lain.

Feminisme yang mungkin kebablasan ya guys. Sebelas duabelas kayak yang pernah saya tulis tentang Bekal Untuk Suami
Kalau sudah begini, saya berbalik kasihan dengan feminisme yang beneran. Yang berjuang untuk hal-hal “bener” yang memang layak diperjuangkan seperti kesetaraan gender dalam hak memperoleh pendidikan yang layak, soal kekerasan seksual terhadap perempuan, human trafficking, pernikahan anak, dan masih banyak lagi. Beberapa yang kebablasan seolah menodai perjuangan mereka.

Sebelum saya tutup postingan ini, saya ingin menyampaikan salah satu komentar netizen tentang Free Bleeding ini: Duh lama-lama semua dituntut. Sekarang nuntut bebas menstruasi di muka umum, besok-besok kebebasan Buang Air Besar (BAB) di ranah publik. 
Gusti Allah, saya ngakak baca komen itu netizen 🙂

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan postingan ini. Sekali lagi ini opini super duper subjektif dari saya. Terima kasih sudah membaca 🙂

 

16 thoughts on “Free Bleeding – Duh Aku kok Jijik Yo?

  1. ndiievania says:

    Aku bacanya kok ikutan geli ya. Apalagi kalo sampe ke kaki2 omg.
    Bahkan org jaman dulu atau di desa pasti pakai kain loh demi aman.

    Tp aku jd paham pas kapan itu liat underware for menstrual. Ternyata karena iniii..

    Jadi tahu ada gerakan model gini jg deh

    Liked by 1 person

  2. Phebie | Life Essentially says:

    Kalau gini caranya apa perempuan nanti gak dikucilkan oleh laki2 kyk jmn baheula dulu setiap drg bulan?

    Kl isunya lingkungan kan tinggal pakai pembalut kain. Resikonya ya hrs rajin2 nyuci.

    Lama2 gerakan yg aneh2 itu membuat kita ngeliat seolah2 mereka menyesal lahir jadi perempuan ketimbang sebaliknya.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Iya ya mbak…lama2 kok kayak nyesal jadi perempuan gitu ya karena bagi mereka perempuan serba ga bebas dalam banyak hal, gak kayak laki-laki. Semoga pengikut gerakan ini lama-lama tersadarkan dan kembali ke jalan yg benar,

      Like

  3. Rahma Balci says:

    skrg rasanya banyak yg kebablasan berbalut feminisme, ngebayanginnya free bleeding, astaga…saya tembus aja meski di rumah, risih. Sbg muslimah ya apalagi, iseng cek hastagh freebleeding, aduh risih banget..masa darah2 haidh dijadiin konten gerakan ini-.-‘ entah bener atau ga, celana dalem bekas berdarah gitu ya difoto

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Bener mbak, apa2 atas nama feminisme. Yg penting menyuarakan kebebasan…itu kata mereka. Aku begitu cek hestek di IG itu cuma sempat scroll bentar abis itu jijik dan mau muntah. Buru2 pindah ngeliat akun2 IG recehan biar gak kepikiran lagi haha.

      Like

  4. Ditaa says:

    Wow! Kudos for those who do it! Aku kayaknya ga berani deh free bleeding begini, lagian kalo kita berdarah dari bagian manapun kan memang biasanya ditutupi juga. Tapi terus terang aku setuju dengan ide untuk memandang menstruasi sebagai bagian kehidupan wanita yang normal. Bukan hal yang menjijikkan, kotor atau minggu yang salah. Aku ga setuju darah menstruasi dilabeli darah kotor, karena sejatinya menstruasi bukan darah melainkan jaringan tubuh yang luruh dan warnanya memang seperti darah, kandungannya juga CMIIW. Aku setuju dengan membicarakan menstruasi sebagai hal yang normal, ga usah sembunyi-sembunyi dan laki-laki harus tahu dan sadar, karena memang seperti inilah siklus wanita 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s