Remaja di Pintu Air

Di masa pandemi begini, pak suami selalu encourage semua anggota keluarganya untuk bergerak, cari keringat cari matahari. Senin sampai Jumat anak-anak dari pagi udah manteng depan layar laptop belajar online sampai siang, dan lanjut ngerjain tugas/pe er. Praktis selama hari sekolah benar-benar dalam rumah aja. Nah Sabtu Minggu selalu digunakan untuk aktivitas olahraga.

Berhubung rumah kami dekat dengan track sepeda/olahraga Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Timur, maka ya tujuannya selalu ke situ lagi ke situ lagi. Maklum, gowes dan bawa anak-anak yang masih tergolong kicik. Belum berani jauh-jauh.

Setiap hari, track olahraga BKT ini selalu dikunjungi masyarakat. Paling ramai ya memang Minggu. Sabtu malah ga seberapa ramai. Mungkin karena di hari Sabtu masih banyak juga masyarakat yang ngantor ya. Dengan pertimbangan tersebut, Sabtu kami biasanya akan bawa anak-anak untuk gowes. Tapi di Minggu, biasanya kami gowes berdua aja.
Rutenya ya nyusuri sepanjang kali BKT mulai dari arah Pondok Kopi sampai ke Pondok Bambu.

Ada satu titik bernama Pintu Air Malaka.  Di sinilah, pusat keramaian berlangsung. Sebelum pandemi, yang paling banyak nongkrong di sini adalah rombongan pesepeda dari berbagai komunitas.

Foto di atas diambil tahun lalu, sebelum Covid menyerang.

Namun sekarang? Yang memenuhi tempat ini adalah remaja tanggung (mohon maaf) alay. Jumlah mereka? Bisa ratusan kalau di hari Minggu! Belum lagi ada orang yang berdagang, pengamen ondel-ondel, masyarakat yang memang niat olahraga, dan persewaan delman.

Beberapa kali kami lewat di situ sambil menuntun sepeda, dan berjalan cepat-cepat karena jatuhnya itu sudah berkerumun ya guys. Para remaja ini gak olahraga tapi lebih kepada kumpul sesama teman, nongkrong-nongkrong, pacaran, sejenis itulah. Udah ga terheran-heran ngeliat mereka banyak yang dandan heboh kekinian,  dan ujung-ujungnya membuat video joget Tiktok. Yang paling mengganggu sebetulnya adalah attitude mereka dalam berbicara. Volume keras, bahkan  berteriak, dan kata-kata kotor meluncur tanpa sensor dari mulut mereka. Tak peduli pria maupun wanita, mereka dengan bebasnya ngobrol diselipi kata-kata kasar.
Usia mereka  berkisar SD sampai setingkat SMA. Semua tumplek blek di situ. Memanglah di sekitaran area Banjir Kanal Timur ini didominasi pemukiman masyarakat menengah ke bawah.

test

Inilah kondisi Pintu Air Malaka setiap minggu. Sumber foto dari detik.com

Sebetulnya rada kaget juga, kok ketika pandemi mereka malah ramai kumpul di Pintu Air? Salah satu prediksi kami adalah: karena nongkrong kumpul-kumpul malam mingguan mereka “terganggu” oleh razia PSBB Satpol PP, yang bergerak sampai pelosok pemukiman warga terutama di gang-gang.

Gak usah jauh-jauh, contohnya 50 meter dari pagar belakang rumah kami adalah tempat yang biasa dipakai remaja alay sekitar lingkungan untuk nongkrong sampai larut malam. Jumlahnya bisa di atas sepuluh orang, ga seorang pun pakai masker, gitar-gitaran, ketawa-ketawa, buang sampah sembarangan, yah begitu deh. Ketika PSBB, tiba-tiba sunyi senyap. Usut punya usut dari cerita para tetangga, mereka dirazia satpol PP dan tidak diperbolehkan nongkrong berkerumun lagi di titik tersebut. Nah mungkin remaja yang pada tumpah ruah di Pintu Air tiap hari Minggu ini, mengalami nasib yang sama. Makanya begitu ketemu Minggu pagi langsung melampiaskan.

Lho katanya PSBB? Lalu ke mana Satpol PP saat area Pintu Air penuh? Ada kok Satpol PP tapi sepengamatan saya saban lewat situ, yah Satpolnya hanya mengawasi dan ga bertindak apa-apa. Padahal ramainya sudah sama seperti pasar malam di kala menjelang Idul Fitri. Dugaan kami, Satpol PP gak berdaya mengingat keterbatasan jumlah personil dibanding jumlah manusia yang hiruk pikuk di situ ya. Dan ternyata memang benar! Baca di detik.com, Kasatpol PP Jakarta Timur, Bapak Budhi Novian mengatakan bahwa Satpol PP sebenarnya sudah berupaya mengurai kepadatan itu namun jumlah anggotanya kalah banyak dengan warga yang datang. “Jadi artinya gini bukan kita mau menyalahkan warga, warga itu sebetulnya tidak bisa disalahkan, yang disalahkan itu pemerintah, termasuk saya aparat pemerintah. Tetapi saya curhat, kita nggak mampu mengendalikan 3 juta orang warga Jakarta Timur kalau mereka tidak disipin,” ujar beliau kepada jurnalis detik.com.

Mulai minggu depan, nampaknya kami ingin sedikit mengubah rute sepeda. Tetap seputaran BKT namun ketika sampai di Pintu Air Malaka kami akan ambil rute jalan raya besar, demi menghindari hiruk pikuk para remaja.

Terkadang melihat remaja-remaja ini, sejujurnya banyak mbatinnya. Ya mbatin soal PSBB yang terasa sia-sia. Ya mbatin soal perilaku remaja lengkap dengan perbendaharaan kata kebun binatang dan serangkaian kata tak senonoh lainnya. Namanya udah jadi ortu begini, pasti harapannya punya anak solih dan solihah, terjaga akhlaknya dari perilaku seperti para remaja tersebut.

Ah sudahlah. Mari terus berdoa saja, dan terus berusaha menerapkan protokol kesehatan Covid 19, karena kita semua sudah lelah delapan bulan berturut-turut berusaha #dirumahsaja demi melandainya kurva.

Oh ya sebelum saya tutup postingan ini, saya ingin memperlihatkan sisi track sepeda Banjir Kanal Timur yang super sepi. Sudah lumayan menjauh dari Pintu Air Malaka guys. Ini fotonya.

5 thoughts on “Remaja di Pintu Air

  1. andyekopranoto says:

    Begitu ramai dan padatnya di depan pintu Malaka ya kak, oh iya ini pertama kali nya komentar saya kak. Salam kenal salam persahabatan. Terima kasih kak Imel.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s