Nano-Nano Seputar Pandemi

Pandemi ini memang semacam permen Nano-nano. Bukan hanya membuat keadaan menjadi asem dan asin, namun di balik itu semua ada saja yang manis-manisnya. Pada postingan kali ini, saya cuma ingin menuliskan hal-hal yang saya terjadi di sekeliling saya saat Corona, yang tentunya membuahkan rasa Nano-nano, baik untuk saya maupun yang membaca.

1. Ini cerita dari temannya teman. Sebutlah temannya teman itu bernama mbak Keren. Beberapa bulan sebelum Corona terjadi di Indonesia, mbak Keren baru saja diangkat menjadi karyawan tetap di kantornya. Ah senangnya. Dan di saat tandatangan kontrak, mbak Keren tengah hamil 3 bulan. Sebulan setelah ttd kontrak, sayangnya mbak Keren keguguran. Sedihnya bukan main. Dokter mendiagnosa salah satu penyebabnya adalah kandungan beliau memang lemah dan dokter menyarankan harus lebih banyak istirahat mengingat kondisi tubuhnya tidak sekuat ibu hamil lainnya. Mbak Keren dilema. Bagaimana tidak? Posisi beliau di kantor memang seringkali mengharuskannya kerja extra time, menyelesaikan deadline dari klien-klien yang demanding dan super cerewet. Tak jarang mbak Keren lembur sampai tengah malam di kantor. Di satu sisi beban pekerjaan tinggi, di sisi lain beliau wajib banyak istirahat kalau mau tetap sehat dan (tentunya) hamil lagi.
Setelah dikuret, tiba-tiba Corona terdeteksi di Indonesia pada bulan Maret 2020. Praktis kantor mbak Keren langsung ambil langkah WFH. Lumayan banget, beliau bisa kerja sembari istirahat dari rumah. Dan bulan berikutnya kantor beliau terkena dampak yang mengguncang finansial. Banyak karyawan yang dirumahkan, kondisi keuangan kantor pun ga stabil. Hal ini pun banyak sekali terjadi di perusahahaan-perusahan di seluruh dunia. Situasi ini tentunya menguntungkan dari sisi mbak Keren. Dengan perasaan lega, mbak Keren mengajukan resign yang tentunya langsung diiyakan pihak kantor, mengingat kantor pun gak punya bargain power yang cukup untuk membuat banyak karyawan mereka bertahan dalam situasi ini. Akhirnya beliau saat ini tidak bekerja, full jadi IRT dan berharap bisa hamil kedua kali dengan sehat selamat.

2. Seorang ayah yang disambut girang seluruh anggota keluarga karena WFH. Awalnya menyenangkan karena menjadi lebih dekat dengan anak-anak, yang selama ini seringkali ditinggal kerja lembur bagai quda. Lama kelamaan sang ayah merasa sedikit tersiksa. Bagaimana tidak? Sang istri belum sepenuhnya dapat memahami bahwa suaminya ada di rumah bukan sedang liburan atau senggang, melainkan Senin-Jumat ya tetap kerja hanya fisiknya berpindah ke rumah saja. Setiap hari ada saja yang membuat sang ayah mendapat komplain dari rekan kerja lain yang terhubung via online (WA, e-mail), akibat sering delay merespon pekerjaan. Usut punya usut, sang ayah sering dimintai bantuan istri untuk momong anaknya yang masih bayi. Kalau ga diturutin, kadang sang istri suka cemberut, menganggap pak suami ga pengertian dll. Miskomunikasi ya guys. Fisik kita kebetulan berpindah ke rumah tapi yang namanya jam kerja ya tetap wajib bekerja. Idealnya begitu. Bedakan dengan saat kita di rumah pada hari Sabtu-Minggu. Dan akhirnya sang ayah kini terus berharap “duh mudah-mudahan aku cepat WFO lagi kayak dulu.”

3. Sekolah online menyebabkan paradoks. Pemerintah tidak memperbolehkan sekolah dibuka untuk menghindari penularan antar siswa. Namun yang terjadi, siswa bukannya #dirumahaja, melainkan #dimanaaja untuk bersekolah. Kan online, jadi bisa dari mana aja. Salah satunya adalah ke rumah nenek di kampung. Sekalian liburan, dan sekolah online. Saya yang dengar cerita ini dari seorang teman kok membayangkan repotnya mboyong buku pelajaran ke kampung nenek ya? Selain itu, bukannya dianjurkan di rumah untuk memutus rantai penularan, lha kok malah berkunjung ke rumah keluarga? Ada pula keluarga yang memanfaatkan situasi WFH dan SFH (School From Home) ini dengan berwisata ke kota lain, staycation di hotel, dan anak-anak mereka bersekolah online dari hotel. Selesai tatap muka online,  sudah tentu have their leisure time at the hotel. Ya udahlah, keyakinan tiap keluarga memang berbeda-beda menghadapi kondisi pandemi ini ya guys.

4. Tidak punya ART malah lega. Sejak sebelum Corona rumah kami tidak lagi ber-ART. Asisten Rumah Tangga yang terakhir hamil dan mau tidak mau berenti bekerja. Entah kenapa, sejak saat itu kami sudah hilang keinginan meng-hire ART lainnya. Semua diurus gotong royong sama pak suami bergantian. Hingga Corona datang, ada peraturan PSBB dan pengetatan di sana-sini. Kami mengucap syukur alhamdulilah. Gak kebayang kalau ART masih ada di rumah. Tipe ART yang selama ini bekerja di rumah kami adalah tipe gaul. Malam mingguan selalu hang out sama temen-temennya walau sekadar ngebakso sekitar rumah. Malam weekdays pun kalau ada pasar malam rakyat dekat rumah, selalu main ke sana bareng teman se-geng. Tentunya setelah mendapat izin dari saya dan pak suami :).
Dengan pengetatan dan anjuran Pemerintah untuk #dirumahaja, dijamin ART gak akan betah. Dan kalau ART tetap keukeuh atau malah sembunyi-sembunyi ketemuan sama teman-temannya, lalu pulang ke rumah kami….yah kita gak pernah bisa tau jangan-jangan ada virus yang ikut terbawa. Jangan-jangan malah OTG, dan segenap “jangan-jangan” lainnya.

5. Masih soal ART. Pas pandemi, pas saya gak punya ART, pas gajian pun di kantor dipotong. Imbas pandemi terhadap banyak perusahaan di dunia ini luar biasa. Sudah jamak rasanya mendengar berita soal PHk, dirumahkan, dan pengurangan gaji. Sepupu pak suami yang kebetulan masih punya 2 ART di rumahnya pusing 7 keliling. Gaji beliau dipotong 50% oleh kantornya. Sementara para ART tak mau tau: gajian tetap 100% gak mau disunat. Mau cuma pakai 1 ART dilema, karena memang kedua ART itu masing-masing tugasnya beda. Yang satu khusus mengurus bayi dan satu lagi khusus urusan rumah tangga (masak, bebenah, cuci setrika).
Makanya kok rasanya ngepas ya situasi keluarga saya gak pakai ART ketika Corona semakin mewabah. Bersyukur tentunya.

Wuih udah banyak aja ya ceritanya. Memanglah pandemi ini membawa suka duka dalam kehidupan kita. Bagi yang suka alias manis, jangan lupa terus bersyukur dan bantu mendoakan orang lain yang mengalami duka alias asem dan asin, agar selalu diberikan kemudahan oleh Allah SWT.  Semoga cerita-cerita receh Nano-Nano tadi ada manfaatnya. Jangan lupa selalu melakukan protokol 3M ya guys. Sampai jumpa di postingan berikutnya 🙂

One thought on “Nano-Nano Seputar Pandemi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s