Melewati 2020

Tahun 2020 tinggal 2 hari lagi. Kerasa banget atau malah gak kerasa, teman-teman? Kalau saya sih…..kerasa banget.
Seperti yang kita semua rasakan, tahun ini seolah-olah berhenti di bulan Maret. Pada bulan tersebut semua berubah drastis. Awal-awal harus di rumah saja, semua terasa berjalan sangat lambat.

Segala rupa adaptasi berusaha kita lakukan di sana-sini. Adaptasi dengan teknologi demi terus terhubung dengan pekerjaan, dengan sekolah online anak. Adaptasi dengan stop bepergian ke mana-mana kalo gak urgent, enggak mudik ke kampung halaman dan lebaran via Zoom saja sama keluarga besar. Adaptasi dengan ke mana-mana pakai masker dan faceshield lengkap dengan hand sanitizer. Adaptasi stay di rumah dan tetap bekerja. Dan seabrek adaptasi lainnya. Terus terang, situasi WFH membuat detik demi detik waktu melambat.

Situasi pun serba unpredictable. Terutama untuk saya pribadi. Bingung sih. Sebentar PSBB total, sebentar transisi. Kasus bukannya menurun tapi terus menanjak bahkan ga jelas sampai kapan ini akan berakhir atau setidaknya menurun. Jadi bingung mau susun plan ini itu karena di depan semua serba gak jelas.

Lelah psikis. Anak-anak yang semakin bosan dikarantina di rumah saja. Efek baiknya memang mereka sudah 10 bulan ini gak pernah sakit even cuma batuk pilek. Sementara emaknya udah 3x kena pilek lumayan berat dan anehnya walau kami serumah dan tidur masih satu kamar, anak-anak samasekali gak pernah ketularan sampe detik ini.

Blessing? Not really. Karena sejujurnya saya malah agak khawatir. Terlalu steril menurut saya kurang bagus untuk anak-anak. Mereka sebaiknya juga mesti “terpapar” dunia luar yang penuh kuman, yang justru bisa membuat mereka kebal.
Saya waktu zaman masih ngekost sebelum nikah, pernah punya teman yang super steril. Ilustrasinya: makan anggur atau jeruk aja, kulitnya mesti direndam dengan air matang/air mineral dulu. Setelah itu baru beliau makan. Gak pernah makan jorok juga beliau. Akibatnya, sekalinya beliau makan jorok sedikit saja, langsung masuk RS karena persoalan lambungnya yang mungkin ga bisa terima. Makan jorok tu apaan sih? Misalnya makan di warung kaki lima, warteg, abang-abang bakso lewat di pinggir jalan, yang kualitas dan kebersihannya juga gak bisa kita jamin. Lalu saya juga punya teman yang waktu kecil sebetulnya dia alergi udang. Gatal-gatallah badannya kalau makan seafood yg endolita itu. Kemudian sama ibunya, justru dia “dicekokin” udang. Pelan-pelan, dan sedikit-sedikit porsinya. Lama-lama teman saya itu malah kebal alias gak alergi lagi saban makan udang.

Tahun 2020 ini juga benar-benar membuat kita semua jadi lebih menghargai apa yang kita punya. Alih-alih mengutuk sebagai tahun sial, let’s focus pada hikmah yang terhampar di depan mata. Dulu sebelum ada corona, abai sama kesehatan. Jarang olahraga, males makan sehat, males berjemur, dan ngandelin obat dokter karena ngerasa hampir semua penyakit ada obat penawarnya. Dulu sebelum corona datang, mubazir sama yang namanya makanan. Kenyang lalu sisa nasi pun terbuang. Dan berpikir “toh besok masih bisa beli beras lagi buat makan.”
Hadirnya corona sukses memutar balik semuanya. Menghargai kesehatan, menghargai setiap detik sinar matahari pagi yang bisa menyentuh kulit kita dan memberikan asupan vitamin D yang baik bagi tubuh. Gaji yang dipotong membuat kita putar otak bagaimana menjalani hidup sehari-hari. Yang semula mubazir, sekarang jadi berhemat. Yang dulu suka buang sisa makanan, sekarang menghargai setiap butir nasi yang bisa ditelan lewat kerongkongan yang sehat ini. Alhamdulilah untuk semuanya.

Lepas dari semua kekesalan terhadap orang-orang yang masih kontra dengan corona ini (yang abai pada prokes, yang menganggap corona ini teori konspirasi dan pembohongan massal), liburan natal dan tahun baru ini, kami sekeluarga bertahan mengikuti anjuran pemerintah yaitu di rumah saja. Sementara banyak kerabat, teman dan keluarga sudah berada di luar kota untuk hepi-hepi, kami mungkin hanya menghabiskan waktu nonton TV Cable di rumah sambil makan snack menunggu pergantian tahun.  Untuk resolusi 2021…ah sudahlah. Situasi masih gak jelas begini. Satu-satunya resolusi yang terlintas di pikiran adalah tetap menjaga kesehatan aja.

2021, please be nice to us. Let us through that year with all happiness, cheers, and prosperity. Insya Allah.

Kalian malam tahun baruan ada rencana mau ngapain guys? Share di komen yuks 🙂

13 thoughts on “Melewati 2020

    • imeldasutarno says:

      Yes you right mbak Grant. Wahahahah meratulela, istilah yang keren buat nyaingin si merajalela. Selamat tahun baru buat mbak Grant dan keluarga ya. Semoga 2021 menjadi tahun yang membahagiakan untuk kita semua. Amiin

      Like

    • Putri Maria says:

      “Tahun 2020 ini juga benar-benar membuat kita semua jadi lebih menghargai apa yang kita punya” setujuu skalii sama kalimat di atas, benar-benar hal sepele yang selama ini ga begitu kita hargain, berasa lebih bermakna.. welcome 2021..

      Like

  1. Rahma Balci says:

    saya semenjak menikah ga pernah lg merayakan pergantian tahun, mending tidur, apalag, akhir tahun termasuk musim dingin. ngapain coba cuma liat kembang api keluar di suhu minus heheh, liat aja di TV bisa sambil rebahan tanpa kedinginan. Buat saya 2020 , circle pertemanan jd mengecil udah jarang ngumpul sama teman dan waktu lbh banyak sama suami dan anak2. antara nguji kesabaran dan cinta hahah ketemu muka dia lagi2 24 jam.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Oh iya ya, kalau di Turki pas Desember pas winter ya mbak Rahma. Makanya mempengaruhi niatan buat menikmati party party tahun baruan kayak rang orang (minimal barbeque-an atau begadang sampe pagi) hehe….
      Hahaha iyaaaaa gara-gara corona 24 jam jadinya sama keluarga dan elo lagi elo lagi ya mbak. Sama, aku juga begitu tu hampir tiap hari. Apalagi sekarang kasus corona Jakarta bukannya turun, malah naik pesat. Alamat PSBB total lagi, alamat WFH total lagi, alamat ketemu suami lagi 24 jam 🙂
      Selamat tahun baru buat mbah Rahma dan keluarga ya. Sehat terus dan selalu jalankan 3M ya mbak. Semoga corona segera berakhir di 2021, amiiin

      Like

  2. ndu.t.yke says:

    Tahun baruan ya sama saja seperti hari2 biasanya. Berusaha tidur secepat mungkin walo tentu itu tergantung anak2 bobo jam berapa, hehehe. Anak2ku btw, apalagi yg besar, dulu sebelum Corona mesti sebulan sekali batuk pilek. Sampe sungkan sama dokternya, hahaha. Kesana mulu, mentang-mentang tetangga. Tp alhamdulillah sama seperti ceritamu, mereka sekarang jd jarang sekali sakit. Alhamdulillah. Klo dibilang krn lingkungannya terlalu steril sih tentu saja tidak. Wong bocah berdua juga males cuci tangan sblm makan snack, lgsg comot aje.

    Liked by 1 person

      • ndu.t.yke says:

        Aku lama2, ga ta’ minumin obatnya sampe habis mbak. Lha piye, sebulan sekali ke dokter. Asal menurut dokter, gak parah, yowes ta’ biarin sembuh sendiri, minum obat palingan cm 1-2 hari. Dan emg sembuh sendiri sih, namanya batuk pilek.

        Liked by 1 person

  3. Agung Pushandaka says:

    Tahun 2020 adalah tahun terberat untuk saya pribadi, karena saat ini saya hadapi bukan lagi sebagai anak, tapi sebagai bapak dan suami. Jsdi tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga.

    Tapi dibalik semuanya, tahun 2020 ini mengingatkan saya lagi, bahwa saya ini kecil, lemah dan tak berdaya kalau Tuhan sudah berkehendak. Kalaupun sampai saat ini saya masih bisa bertahan untuk tetap sehat (meskipun pernah dua kali demam tinggi, tapi hasil PCR Swab negatif), itu bukanlah karena saya yang kuat dan hebat, tapi karena Tuhan yang mengizinkan saya dan keluarga saya tetap sehat.

    Semoga mbak Imelda dan keluarga juga selalu sehat di tahun yang baru. Setidaknya kalau kita sehat, kita bisa berpikir lebih sehat juga. Dari pikiran yang sehat akan lahir harapan dan ide atau solusi yang baik untuk bertahan di tengah kesulitan.

    Maaf mbak, malah kotbah saya di sini.

    Selamat tahun baru mbak. Tetap sehat dan semangat ya bersama keluarga tercinta.

    Like

    • imeldasutarno says:

      Mas Agung mohon maaf komenmu malah masuk spam, entah kenapa.
      Selamat tahun baru juga untuk mas Agung dan keluarga ya.
      Semoga tahun 2021 ini kita semua diberikan kesehatan dan kemudahan dalam segala hal oleh Allah SWT. Amiiin….

      Like

  4. Putri Maria says:

    “Tahun 2020 ini juga benar-benar membuat kita semua jadi lebih menghargai apa yang kita punya” setujuu skalii sama kalimat di atas, benar-benar hal sepele yang selama ini ga begitu kita hargain, berasa lebih bermakna.. welcome 2021..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s