Pemaksaan yang Membahagiakan

Bapaknya anak-anak itu memang Graphic Designer. Darah seni memang nurun di keluarganya. Adik-adik pak suami pun semuanya Graphic Designer profesinya. Apalagi adik bungsu…waduh guratannya di atas kertas maupun komputer, maut punya, menurut perspektif saya.


Sampai detik ini, darah seni dari pak suami hanya turun ke anak kami yang bungsu. Buat teman-teman yang udah sering nengokin IG saya, udah pahamlah gambar-gambar si bungsu. Kadang emaknya lagi masak atau ngapain, tau-tau dia udah kelar ngegambar penuh satu HVS ukuran A4. Gambarnya kompleks alias banyak bener detil kecil-kecil yang dia perhatikan, plus bisa banget menggambar ekspresi manusia kayak senyum, merengut, gembira, dll. Tentunya dengan standar anak-anak ya guys.

Sementara si sulung? Beuuuh….360 derajat. Tapi apa yang terjadi? Karena ketidaksukaannya dengan menggambar, membuat anak lanang frustasi. Yap, frustasi saat ada tugas sekolah yang mewajibkan menggambar. Misalnya gambar urutan rantai makanan. Bu guru bukan mau menilai seberapa bagusnya gambar. Tapi siswa diharapkan bisa paham gimana sih alur rantai makanan itu? Atau suatu ketika ada tugas membuat komik (lagi-lagi bukan bagus tidaknya gambar yang dinilai) untuk menjelaskan hak dan kewajiban pada pelajaran PPKN. Lanang yang frustasi lalu diberi pemahaman oleh pak suami. Dan setelah pemahaman berlanjut dengan pemaksaan.

Pemaksaan apaan?

Pak suami mewajibkan Alun si sulung untuk menggambar setidaknya satu jam dalam satu hari. Selain gambar suka-suka, wajib pula membuat gambar bangun ruang (kubus, balok, lingkaran) berulang-ulang. Tujuan utamanya melatih luwesnya jari jemari menggores pensil membuat aneka bentuk. Di samping itu tujuannya adalah melatih logika terutama dalam menghadapi soal cerita Matematika. Lho apa hubungannya sama Matematika?

Coba bayangkan ada soal kayak gini:  Pak Adi mempunya sebidang tanah. Bentuknya segitiga. Dari titik A ke B panjang tanah pak Adi 10 meter. Lalu dari titik B ke C panjang tanah pak Adi 5 meter. Berapa panjang tanah dari titik A ke C? Atau soal: ibu membeli satu loyang pizza. Kemudian pizza tersebut dipotong empat bagian sama besar. Berapa banyak pizza yang bisa dibagikan ke setiap anak?
Soal cerita model begini jauuuuh lebih mudah kalau langsung digambarkan ketimbang mencerna kata per kata. Gak usah anak kecil, emaknya aja pasti bakal langsung nggambar kalo ketemu soal Matematika seperti contoh di atas.

Pak suami menekankan sama seperti bu guru: bukan bagus tidaknya yang dinilai, tapi tekun dan niatan untuk bisa setidaknya menggambar. Bukan hanya berhenti di situ, kewajiban menggambar ini juga menjadi “tiket” bagi anak-anak (gak si sulung maupun bungsu) untuk bisa….bermain game online. Di tengah pandemi yang makin menggila ini, praktis anak-anak saya dikekep banget dalam rumah. Akibatnya mereka lebih banyak bersentuhan dengan dunia online. Agar gak kebablasan, dibuatlah kesepakatan sama bapaknya, bahwa “kalau mau main game online satu jam, maka wajib pula menggambar selama satu jam. Gak gambar, jangan harap dapat kesempatan main.” Deal.

Pemaksaan ini awalnya sempat menimbulkan sedikit konflik di antara saya dan pak suami. Saya berpendapat bahwa kalau memang anaknya tidak passion di situ ya jangan dipaksakan. Toh kesuksesan hidupnya ke depan bukan ditentukan dari bisa menggambar atau tidak. Namun pak suami keukeuh. Buat dia ke depannya keterampilan menggambar ini sangat penting. Pernah si sulung kagum berat sama game online kesayangannya dan punya harapan bisa jadi game developer gitu. Celah ini langsung disamber pak suami dengan menjelaskan ke sulung bahwa game online itu ya basicnya dari nggambar dulu. Bukan tau-tau si developer kutak katik programmingnya, tapi semua tokoh/karakter, ambience, dll itu butuh digambar dulu. Gak tiba-tiba jadi.

Akhirnya di rumah saya begitu banyak tumpukan kertas. Karena setiap mau main satu jam kudu nggambar, bayangin kalau anak-anak ingin main lebih dari satu kali sehari (let’s say sore main satu jam, lalu malam sesudah belajar main satu jam lagi) artinya ada lebih dari satu gambar yang harus mereka selesaikan. Inspirasi gambar silakan lihat dari mana saja. Nyontek di internet, liat di majalah, apa aja terserah.

Awal-awal gambar, si sulung hanya menghasilkan gambar super standar. Nggambar orang ya gak bisa, cuma bisa membuat bentuk orang lidi. 

Namun karena setiap hari dilatih tangannya untuk terus menggambar, lama kelamaan menurut kami berdua, kok gambarnya semakin baik ya? Udah makin ngebentuk, udah makin kuat dan jelas garis-garisnya.  Ini beberapa hasil gambarnya yang menurut kami semakin membaik.

Kamar tidur

 

dapur

 

Ice bear

 

rumah

 

gedung

Jangan ditanya bosannya anak-anak sama kewajiban menggambar itu. Kadang stuck ide, jenuh, tap berhubung itu adalah tiket menuju main game online, mau gak mau mereka lakoni.

Sampai suatu hari saya membaca di blognya mbak Eno bahwa ada lomba menggambar. Hadiahnya juga gak main-main: uang 500 ribu Rupiah. Saya sampaikan ke Alun, dan dia langsung antusias berat mengingat nominal uang tersebut. Jangankan buat anak usia 11 tahun seperti Alun…..buat emaknya aja, uang segitu mah cukup banget buat belanja kebutuhan bulanan wahahahaha……

Akhirnya dengan semangat, anak lanang pun mempersiapkan diri. Dan pilihan pun jatuh pada menggambar hiu martil dan suasana di bawah laut. Setelah selesai, langsung foto dan kirim. Dan hari demi hari sembari menunggu pengumuman hasil lomba, Alun gak berenti berdoa semoga ia menang.

Dan alhamdulilah, ternyata menang jadi juara 1. Bukan main senangnya anakku. Dan pak suami dengan bijak hanya bilang: Alun udah rasa sendiri kan manfaat dari menggambar? Coba kalau Alun cuek sama latihan gambar tiap hari, gak mungkin hasilnya kayak begini. Alun sekarang sudah bisa merasakan dapat sesuatu dari jerih payah kamu sendiri. Seneng gak sekarang?
Yang diajak ngomong pun ketawa senang sambil manggut-manggut.

Pemaksaan yang membahagiakan.

Iya endingnya bahagia guys.

Pengumumannya
Ini gambar yang Alun setor

Dan yang bikin speechles, kami semua mengira hadiahnya hanya uang 500 ribu saja. Gak disangka yang datang ke rumah hampers yang isinya segambreng. Sampe bingung mau balesnya gimana ya semua kebaikan mbak Eno ini?

Isi hampersnya mbak Eno
Soft Cookiesnya endolita banget
Surat yang membuat haru


Saya pribadi mohon maaf banget untuk Mbak Eno karena setelah sekian lama baru sempat membuat postingan terkait hasil lomba menggambar ini. Terima kasih banyak ya mbak untuk semua hadiah untuk Alun 🙂 Semoga bisa terus menjadi pemicu motivasi Alun untuk lebih bagus lagi dalam menggambar.

14 thoughts on “Pemaksaan yang Membahagiakan

  1. Emaknya Benjamin br. Silaen says:

    Bagus semua gambar anakmu mbak Imel, klo ga ada bakat menurutku ga akan bisa ngerjain gambar semua yg mbak tunjukin tsb deh. Terkadang memang ada bakat anak yang tertutupi “malas” mbak hehe makanya perlu “tekanan” dari ortu nya. Si anak bisa aja jadi kesal bahkan benci sm ortunya, namun dimasa depan akan bersyukur. Saya dirumah juga bikin pemaksaan buat anakku “kalau ga kerjain sekian halaman ga boleh lihat film di tablet” walau terpaksa dan pakai adu mulut dulu ya dikerjain bocah juga 😀 .

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Terima kasih banyak ya Mama Benjamin untuk komplimennya. Iya mungkin ya….habis selama ini aku mikirnya kalau dia bakat, pasti setidaknya ada passion untuk menggores2 di kertas. Lha ini blas ga ada samasekali euy ga kayak adeknya hehe.

      Iya anak-anak kita zaman sekarang mesti sedikit “ditekan” biar mereka gak kebablasan ngapa-ngapain terutama main game hehehe….

      Liked by 1 person

  2. Putri Maria says:

    Bagus banget gambarnya mbak, anak sulungku juga hobi banget nggambar padahal ortunya sama sekali ampun kalau diminta gambar. bakatnya menurun dari kakak saya, pakdhe nya pandai melukis. semoga bakat anak saya juga bisa berkembang seperti anak2 mbak 😊😊

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s