Tiga yang Bahagia di Bulan Dua

Kalau orang bilang bulan Februari itu bulan cinta dan bahagia, iya mungkin ada benarnya karena tanggal 14 Februari banyak yang merayakan Valentine’s Day. Tapi buat banyak orang juga, setiap hari setiap bulan ya kita harus dipenuhi dengan cinta dan bahagia dong ah. Masa Februari doang? Hehehehe…..

Pengennya tiap hari ngeblog, nulis dan menyebarkan positive things, menyebar manfaat. Apa daya mesti bagi-bagi waktu juga sama kehidupan dunia nyata. Pengennya tiap bulan bikin semacam review “udah ada pencapaian atau moment apa aja sih di tiap bulan yang penting untuk diingat?

Nah mumpung lagi ada waktu luang banget nih, saya pengen nulis momen apa aja yang paling bikin hepi di bulan Februari ini. Kenapa momen itu yang dipilih? Supaya yang pada baca jadi ikut ketularan senangΒ  juga. Ah kepanjangan di prolog nih.

Saya share ya tiga moment yang membahagiakanku di bulan dua tahun 2021 ini:

1. Sulungku Lulus Sertifikasi
Sejak Alun, anak sulung saya, masuk di sekolah dasar berbasis agama, yaitu SDIT, otomatis pelajaran sehari-harinya bukan hanya mata pelajaran umum. Tapi waktu terbanyak dikuasai oleh hafalan Quran dan belajar mengaji. Kenapa masuk ke SDIT? Karena ini satu-satunya SD yang lokasinya aman, dalam komplek dan deket dari rumah. Pertimbangan keamanan dan kenyamanan tentunya membuat kami berdua memilih sekolah ini untuk Alun.
Anak saya ini tipikalnya kebetulan “yang sedang sedang saja”. Bukan anak berprestasi banget tipikal anak rangking 1 gitu. Malah cenderung lebih ke arah anak yang rada males belajar. Apalagi kalo mata pelajarannya yang susah macam Matematika, IPA, waduh emaknya mesti tarik urat leher dulu semi berantem kalo ngajarin doi. Nilai-nilainya juga kadang jeblok, kadang bagus. Yah pokoknya gitu deh.
Soal hafalan Quran, target dari sekolah adalah: siswa wajib hafal juz 30, maksimal ketika ia lulus nanti. Lebih dini bisa khatam juz 30 lebih bagus. Dari kelas 1, saya perhatikan Alun ini kayak ga ada masalah sama hafalan. Dia cepat dan bisa santai, gak panik menghadapi hafalan ayat demi ayat surat-surat yang panjang sekalipun. Daya hafalnya bisa dikatakan baik.

Singkat cerita, di kelas 5 Alun sudah hafal semua surat juz 30 walaupun beberapa terutama yang panjang-panjang masih harus sering diulang-ulang. Sampai tibalah saat di mana ustad pembimbing menjadwalkan Alun dan beberapa temannya ikut ujian sertifikasi selama 3 hari. Karena dianggap sudah mampu dan selesai hafalan semua surat juz 30 tersebut. Itu sekitar 2 minggu lalu, saya lupa tanggal pastinya.

Cuma dikasih waktu kurang dari satu minggu buat melancarkan hafalan 37 surat (panjang dan pendek) lalu ujian online. Cara ujiannya dengan menggunakan Google Meet dan mata harus ditutup kain untuk menghindari kecurangan (Alun pakai masker aja). Semua surat itu dibagi dalam 3 hari setor hafalan. Di hari H sampai selesai, saya memantapkan diri samasekali tidak menemani Alun online di kamar. Kebetulan anaknya pun percaya diri dan Alun sendiri yang tutup pintu kamar. Saya dan bapaknya nguping dari luar untuk setiap ayat yangΒ  Alun hafalkan. Dalam hati terus mendoakan agar ia lancar dan bisa. Paling berat hari pertama dan kedua karena banyak surat panjang. Beda dengan hari terakhir yang hanya surat pendek seperti Al Ikhlas, An-Naas dll.
Hari terakhir, saya suruh Alun tanya sama ustad apakah ada surat yang harus remedial karena masih terbata-bata? Ternyata ada dua surat panjang. Dan di-remedial di hari keempat. Setelah selesai………..Alun dinyatakan lulus sertifikasi juz 30.

Jangan ditanya bahagianya saya dan bapaknya. Doa kami dikabulkan. Kami berdua ini bukan yang agamanya kuat banget. Islam yang biasa-biasa saja, kalau saya mengistilahkannya begitu. Sholat 5 waktu insya Allah iya, ngaji iya walau blangbentong kadang ngaji kadang kagak, pake jilbab juga kagak kalo saya. Jadi, bangga rasanya kalau anak bisa achieve sampai sejauh ini untuk ilmu agama. Walaupun harapannya adalah lebih ke pengamalan dalam hidup sehari-hari ketimbang mampu menghafal Al Quran berjuz-juz tapi minim action.
Pokoknya seneng bangetlah atas pencapaian Alun ini. Saya dan bapaknya kasih reward ke Alun berupa tambahan uang tabungan untuknya. Walau nilainya gak besar, tapi anaknya senang πŸ™‚

2. Membiarkan Anak, Gak Terlalu Ngemong
Buat yang sering baca blog saya dari dulu, mungkin udah cukup paham kalau saya ini tipe ortu yang pengennya terlibat banget sama aktivitas belajar mengajar anak di sekolah. Embisiyeus banget, sist! Silakan baca di sini kalau gak percaya

5 Alasan Masih Membuat Soal Ujian Sendiri

Ortunya Ikutan Belajar Lagi

Tips Mendampingi anak Ulangan bagi Ibu Bekerja

Life Skill dalam Materi Pelajaran Sekolah

Banyak juga ya guys ternyata artikel yang pernah eikeh posting. Kenapa sih alasan simplenya? Karena saya bekerja, dan gak kepengen saya cuma jadi ortu yang terkesan cuma nitip anak ke sekolah trus lepas tangan dan terima beres soal pendidikan formal anak. Eh ada loh yang kayak gitu. Teman saya sendiri, saking sibuknya sebagai mama bekerja, jadi dia sangat berharap ketika menyekolahkan anak di satu institusi pendidikan tertentu, semua beres. Makanya dia sekarang super keteteran ketika anaknya sekolah online dari rumah. Karena sekolah online mau gak mau membalikkan semua aktivitas yang semula dihandle guru di sekolah, jadi dikerjain di rumah semua. Tugas, ulangan, pe er, kabeh wis tumplek blek dari rumah. Siapa lagi yang harus bantu handle kalau bukan ortu ya?

Dan keterlibatan aktif saya di pembelajaran anak ini mendapat protes dari pak suami. Alasannya masuk akal: anak menjadi tergantung sama ibunya. Anak jadi sangat tidak mandiri. Gak mau kerjain tugas kalo gak dibantu ibu. Gak percaya diri menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam proses pembelajaran karena selalu didampingi ibu. Terlibat itu bagus, tapi gak boleh kebanyakan. Pelan-pelan kudu tarik diri sampai samasekali gak mbantu apa-apa. dan lihat nanti perbedaan hasilnya terutama pada skill anak menyelesaikan problemnya sendiri.
Itu mantra suami yang selalu gak pernah bosan dia ucapkan pada istrinya nan ndablek ini.
Dan memang kenyataannya saya malah jadi stress sendiri, capek sendiri. Gimana gak capek? Jadi mama bekerja, ibu rumah tangga, ngurusin belajarnya anak-anak juga sampai mendalam.Β  Ruginya lebih banyak daripada benefitnya. Stress malah bikin marah-marah mulu. Anak-anak juga malah ga nyaman diajarin ama ibu guru a.k.a emaknya sendiri yang dikit-dikit tegangan tinggi.
Lalu di bulan ini, setelah cukup menyerah, saya memutuskan untuk pelan-pelan membiarkan anak-anak belajar sendiri. Saya cukup “mengawal” mereka dari belakang, terus memompa semangat mereka menyelesaikan masalah yang ada dengan mantra “kalian harus punya inisiatif” sembari sesekali mencontohkan inisiatif tu kayak apa. Selama mereka online Zoom atau Google Meet, saya cuma sesekali melihat aja, gak mendampingi full. Bahkan pernah saya tinggal tidur cantik wahahaha. Jadi mereka sibuk online sama kelas masing-masing, termasuk mengerjakan tugas-tugas, lalu saya tidur pagi kurang lebih 1,5 jam. Bangun-bangun mereka sudah beres dengan tugas harian dari sekolah. Udah deh, mamak tinggal urusan setor ke guru (karena setor memang masih via ortu semua lewat Google Classroom). Tidur cantik di pagi hari ternyata enak juga ya πŸ™‚
Terus terang terkadang masih ada khawatirnya. Tapi demi kebaikan saya dan khususnya mereka, saya harus kuatkan hati. Terbukti saat ini stress rasanya berkurang banget, mood jadi lebih baik, dan saya lebih banyak punya waktu luang. Teringat masa kecil kita-kita dulu ((KITA? ELU KALI HAHAHA)) kalau sekolah ya sekolah sendiri aja, ga pernah ortu terlibat sampe dalam banget dengan segala aktivitas pe-er dan tetek bengeknya kita. Paling cuma support kayak misalnya mesti beli tools untuk bikin kerajinan tangan kek, beli buku dan alat tulis kek, dan semacam itu. Sisanya kita dituntut untuk mandiri dalam belajar dan berprestasi. Kok dulu zaman kecil ogut bisa? Harusnya bisa juga nih diterapin ya ke anak-anak. Bismillah pasti bisa.

3. We Survived for One Year
Sebetulnya gak persis di bulan Februari. Kalau mau tepat banget ya 2 Maret 2020. Itu adalah tanggal pertama kali Covid terdeteksi di Indonesia. Gak usahlah cerita panjang lebar suasana kita di kala itu ya guys. Mulai dari panic buying termometer masker hand sanitizer dan sembako, PSBB super ketat, ekonomi kita yang down, ditambah entah berapa banyak air mata yang keluar untuk semua kondisi mulai dari PHK, layoff, merumahkan karyawan, usaha yang tutup , gak bisa mudik blas, Idul Fitri cuma lewat Zoom,Β  kematian pasien Covid yang meningkat, RS yang hampir kolaps, whatever you name it. Ujian kesabaran untuk kita semua.

Dan….sekarang sudah setahun kita berusaha hidup penuh kesabaran dan berdampingan dengan Covid. Untuk kita dan kalian semua yang saat ini masih bisa ngeblog, sharing tulisan bermanfaat satu sama lain, menebar kebahagiaan dan kehangatan lewat silaturahmi online ini….we survived guys! Satu tahun loh. Asli gak berasa. Bersyukur kita masih diberi kesehatan, masih bisa berbagi manfaat dengan yang membutuhkan, masih bisa diberi kekuatan oleh Allah untuk mendoakan saudara-saudara kita yang saat ini terimbas Covid-19 (entah menjadi pasien maupun yang ekonominya terimbas secara langsung akibat pandemi ini).Β  Fa bi ayyi ālā’i Rabbikumā tukaΕΌΕΌibān. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Wah udah banyak aja tulisan ogut yak? Gak kerasa. Sebetulnya masih ada beberapa moment bahagia di Februari ini. Tapi kucukupkan sampai di sini, supaya mata kalian pun engga siweur dan puyeng mbaca tulisan segini panjang hehehe……….

Kalau kalian, apa moment indah, senang dan bahagia di Februari ini? Cerita-cerita di komen dong biar aku bahagianya gak sendiri. Biar hormon endorfinku keluar terus nih abis baca pengalaman kalian. Yuk yuk, kita bahagia sama-sama ya temans πŸ™‚

28 thoughts on “Tiga yang Bahagia di Bulan Dua

  1. Jane Reggievia says:

    Halo Mba Imelda! Salam kenal yaa (:

    Wah aku bisa sedikittt relate dengan poin kedua sih. Meski anak masih usia toddler, tapi sejak sekolah online gini emaknya udah ketar-ketir, plus anaknya mulai ngeyel kalau diajarin mamanya. Wacana mencari guru ke rumah pun terlintas karena saya mulai capekk ngajarin dia πŸ˜‚πŸ˜‚ dipikir-pikir kasian juga ya anak angkatan pandemi gini banyak tantangannya huhu. Bless our kids deh! Semoga mereka bisa survive belajar di tengah kondisi seperti ini. Semangat buat papa mamanya juga ya! πŸ˜†

    Kalau cerita bahagiaku selama sebulan ini lumayan banyak ternyata, karena aku catat di jurnal hihi. Mulai dari melewati acara makan-makan Imlek, pergi belanja ke pasar setelah sekian lama, belajar masak di rumah dll. Senang dan bersyukurrr bisa menikmati kebahagiaan kecil ini meski kebanyakan dilalui di rumah aja 😁

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo Mbak Jane, terima kasih sudah menyempatkan mampir di komen ini πŸ™‚
      Amiin mudah2an corona berakhir jadi anak-anak kita bisa on track lagi sekolah normal seperti sediakala ya mbak. Menguras fisik dan psikis banget memang sekolah online ini untuk para ortu.

      Waaah iya mbak Jane merayakan imlek ya. Seneng banget pastinya bisa kumpul bareng keluarga meskipun dalam suasana serba terbatas akibat pandemi ini. Masuk ke pasar setelah sekian lama juga pasti bahagia banget, berasa kayak ada di surga dunia ya mbak hahaha….aku juga kalo ke pasar seneng banget, Liat sayuran segar warna warni, jajanan pasar menggoda iman, pengen kuborong semuanya rasanya kalo gak inget dompet yg menipis wkwkkw. Udah setahun ini aku blas ga ke pasar becek gara-gara corona. Belanja ya di tukang sayur gerobak atau warung dekat rumah aja yang tempatnya lebih terbuka.

      Semoga sepanjang tahun ini kita semua bisa tetap merasakan kebahagiaan bersama keluarga ya mbak, sekecil apapun itu. Semoga kita tetap menjadi orang-orang yg bersyukur. Amiiin…..

      Like

  2. jessmite says:

    Selamat Alun udah lulus sertifikasi hapalan suratnya. You nailed it! Berbuah dapat tabungan manis, deh dari ayah β˜ΊοΈπŸ‘πŸ» kumpulin sampai menjadi bukit, ya…

    Saya juga agak ambisius mbak kalau masalah akademis dan prestasi anak hahaha… Tapi ya itu kalau saya ngajarin anak sendiri kenapa mesti naik pitam ya, nggak sabaran gitu sama anak sendiri. Mana anaknya juga nggak ada segen-segennya kalau diajarin sama mamaknya hmmppfff…

    Kalau bagi saya Februari itu sungguh spesial karena saya lahir di bulan Februari. Dan sama seperti Alun, saya lulus semester 5 setelah nilai UAS keluar bulan ini. Yes, itu yang membahagiakan bagi saya di bulan Februari.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo Intan. Makasih ya. Hehe iya, dikumpulin semoga menjadi manfaat reward dari bapaknya.

      Nah itulah problem para ortu. Giliran ngajarin anak sendiri gampil emosi. Mungkin kalo bapak ibu guru di sekolah bisa sabar karena mereka itu profesional, alias itu adalah pekerjaan yang digaji. Jadi masih bisa kontrol emosi dan bersikap bijak. Samalah kalo kayak kita ngantor, se-emosi2nya ke bos/rekan kerja masih bisa kita tahan karena ingat kita di situ adalah kerja dibayar hihihi…. Kok jadi nglantur ke mena-mana nih aku πŸ™‚

      Selamat ulang tahun ya mbak Intan, semoga panjang usia sehat dan selalu bahagia bersama keluarga. Selamat juga bisa lulus semester 5. Duh aku selalu salut tau sama ibu bekerja/ibu rumah tangga yang bisa nyambi kuliah lagi. Selalu kagum cara mereka bagi waktu antara urus keluarga/pekerjaan, fokus kuliah dan urus skripsi. Wow banget deh pokoknya πŸ™‚

      Semoga sepanjang tahun ini kita semua selalu diberi kebahagiaan oleh Yang Maha Kuasa ya Ntan πŸ™‚

      Liked by 1 person

  3. dodo nugraha says:

    Haiii mbak imel. Salam kenal. Waaah selamat ya buat Alun anaknya yang udah jago ngehafal. Semoga beberapa tahun kedepan bisa hafal sampe 30 juz. Aamiin.
    Keren deh pokoknya anak anak SD IT ini, anak mbak nya kelas 5 SD udah hafal juz 30. Kalo saya hafal juz 30 itu baru-baru ini aja, di usia 20-an tahun. Itu pun kadang masih agak lupa-lupa dikit hafalannya πŸ˜€

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo mas Dodo, salam kenal juga. Makasih banyak sudah mampir dan komen di blogku ya πŸ™‚

      Iya mas, anak SDIT zaman sekarang targetnya memang luar biasa. Bahkan banyak teman-teman Alun yang dari kls 1 aja udah sertifikasi juz 28 (bukan juz 30 lagi).
      Wah hebat ni mas Dodo hafal juz 30. Kalo saya mah paling surat2 pendek aja hafalnya hehe πŸ™‚

      Like

    • imeldasutarno says:

      Halo mbak, makasih sudah mampir dan komen di sini. Salam kenal juga.

      Iya benar….gak kerasa tau2 udah setahun. Tetap waspada jangan kasih kendor sama protokol kesehatan ya mbak . Semoga kita semua tetap diberi kesehatan dan kemampuan untuk melewai semua ini. Amiiin….

      Like

  4. Frisca Sutanto says:

    Halo Kak!
    selamat ya atas lulusnya anak sulung kakak! Pasti bangga banget ya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°
    Terkait poin orang tua dulu yang ga terlibat sebegitunya soal sekolahan, aku pun lagi kecil begitu. Orang tuaku ga terlalu perhatiin banget. PR ya kukerjain sendiri… tapi ternyata bisa-bisa aja yaa hehehe
    Buat kesehatan sekarang kerasa banget ya kak. Jadi diperhatiin betul. Pilek ato batuk dikit aja uda parno… Ga kaya dlu yang sepelein aja kalo bapil.

    Aku juga sudah bagiin 3 hal yang menyenangkan versiku hehe
    Jika berkenan boleh mampir ke “rumah” (blog) saya πŸ˜†

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo Mbak Frisca, terima kasih sudah mampir ke sini ya. Terima kasih untuk ucapanya.

      Nah iya, dulu kita kecil kan biasa aja ya pas sekolah. Ortu juga ga heboh2 amat terlibat sampai too deep dalam tiap pelajaran sekolah. Dan kita bisa melewati itu semua πŸ™‚

      Aku juga kalo ada yang gak enak badan di kantor, pasti udah deg2an aja ini orang cuma pilek biasa atau gejala corona ya? Tetap waspada selalu aja mbak πŸ™‚

      Btw aku gak bisa mampir ke blogmu. Bingung mau klik link apa. Nama mbak Frisca pun diklik ga ada linknya πŸ™‚

      Like

      • Furisukabo says:

        Sama-sama kak Imelda πŸ™‚

        Iya ga disangka-sangka bisa juga ya terlewati hihih Makanya sekarang kakak jadinya belajar untuk agak “melepas” anak-anak supaya lebih mandiri ya hehe

        Iya parnoo yaaa huhuhu betul harus tetap selalu waspadaaa. Kalo keluar inget masker, jaga jarak, dan cuci tangan

        Wah ga bisa ya? hehe bisa mampir ke furisukabo.blogspot.com kak kalo berkenan 😁

        Liked by 1 person

  5. Bayu Kurniawan says:

    Wahhh keren Alun… selamat buat sertifikasinya.. hehe
    Iyah yah.. semenjak pandemi urusan di sekolah numpuk blek dirumah.. saya yg juga bekerja sebagai tutor les privat sering banget ngebantuin anak2 didik.. hehe seru sihh..
    Iyahh corona udh hampir satu tahun yag.. beruntung kita masih diberi kesehatan dan nikmat dari yg Maha Penguasa. Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu tercurah kepada kita semua.. Aminn

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo mas, terima kasih sudah mampir di blog saya ini πŸ™‚

      Terima kasih untuk ucapan selamatnya πŸ™‚
      Wah kalau tutor les rasanya bisa lebih ringan mas ngajarin anak-anak karena udah punya basic ilmunya. Lha kalau kita2 yang murni ortu rumahan begini, wuaduuh….emosi jiwa senantiasa yg ada hehehe….
      Semoga kita sehat selalu ya mas di tengah pandemi yang belum tau kapan berakhirnya ini πŸ™‚

      Like

  6. CREAMENO 🐰 says:

    Hola mba Imelda 😁

    Selamat untuk Alun sudah lulus sertifikasi, finally yaaaa 😍 Eniho, saya sama seperti mba Imelda, jaman kecil dulu, orang tua saya nggak pernah rasanya ikut urusan sekolah saya. Dalam hal ini, sampai cek PR saya, jadwal ujian endeblabla πŸ˜‚ Dan hampir semua teman punya orang tua serupa. Rasa-rasanya, orang tua kita dulu sangat percaya akan kemampuan anak-anaknya. Hahahaha. Jadi saya yakin, Alun bisa mengikuti jejak mba Imelda πŸ₯³

    And yes, thank God, kita survived, semoga seterusnya kita akan selalu diberi rizki sehat plus dijauhkan dari virus Corona, mba πŸ’• On top of that, semoga Corona segera M.U.S.N.A.H πŸ™ˆ

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo mbak Eno…iya terima kasih ya πŸ™‚
      Nah makanya, kita dulu fine2 aja ya gak dihandle ortu saat sekolah. Semua bisa dilakukan sendiri. Doain aku bisa terus melepas anak2ku belajar sendiri ya mbak πŸ™‚

      Alhamdulilah we all survived di tengah pandemi yg entah kapan selesainya ini. Mudah2an tahun ini bisa merasakan puasa dan Lebaran secara normal. Amiiin.

      Like

  7. rahulsyarif says:

    Saya jadi ingat waktu wisuda ngaji juga pernah dapat hapalan surah yang bejibun. Mulai dari surah panjang sampai surah pendek. Saya salut sama Alun, anak kak Imelda, keren.

    Adik saya juga seperti itu, kalo lagi belajar online ngga mau diganggu. Ia lebih senang sendiri. Nanti kalo ada pertanyaan sulit yang tidak bisa Google bantu, baru minta bantuan. Biasanya ke saya, tapi kalo kelewat sulit saya serahkan kepada kakak kelasnya. Adik saya sering lupa sedang bertanya soal Matematika kepada orang yang salah. Ha ha ha.

    Masa krisis pandemi tahun lalu memang begitu banyak berdampak. Semoga kak Imelda dan keluarga diberikan kesehatan. Aamiin

    Like

    • imeldasutarno says:

      Halo rahul (eh boleh panggil nama sajakah? Aku ndak tau usiamu soalnya hehe. Kuatir lebih tua dariku). Terima kasih sudah mampir di sini ya. Alhamdulilah, terima kasih untuk komplimennya ya. Mudah2an anakku ga cuma pinter hafalan, tapi yang lebih penting adalah pengamalannya dalam hidup sehari-hari.
      Semoga Rahul dan keluarga juga selalu diberikan kesehatan, dan kita sama-sama semangat terus hidup berdampingan bersama corona yg entah kapan selesainya ini πŸ™‚

      Like

      • Devina Genesia says:

        Halo Mba Imelda, salam kenal 😁

        Selamat untuk keberhasilan Alun πŸ₯³ bangga dan happy pastinya karena ngeliat Alun mampu menyelesaikannya dengan maksimal.

        Ga berasa yaa uda hampir setahun kita hidup berubah. Mulai semua serba online. Sekarang kalau ga pake masker malah ngerasa aneh. Kemana-mana jadi ngeri. Ketemu banyak orang juga serem. Semua berubah dan ga berasa uda hampir setahun saja. Rasanya seperti baru kemarin.

        Semoga semua segera membaik agar bisa tenang dan nyaman dalam beraktivitas 😁

        Liked by 1 person

      • imeldasutarno says:

        Hai mbak Devina, salam kenal juga. Terima kasih untuk ucapannya ya mbak πŸ™‚

        Kita hidup dalam new normal sekarang. Semoga kita bisa tetap kuat dan sabar serta berdamai dengan kondisi yang entah kapan berakhirnya ini ya mbak πŸ™‚

        Like

  8. Dian Farida Ismyama says:

    Halo Mbak Imel, salam kenal. Wah selamat untuk sulung yg lulus sertifikasi ya. Ini aku yang ibu rt aja keteteran pas anak2 skul online sejak corona melanda. Apalagi masih ada bayi di rumah. Sampai pernah tercetus ingin anak cuti saja. Tapi dia udah SD, mau cuti sampai kapan? =(. Akhirnya sekarang lebih legowo. Toh kondisi ga ideal ini dialami semua orang, ya dibawa lebih santai aja.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo mbak Dian. Terima kasih banyak sudah mampir di blogku ya. Betul mbak, sekolah online ini memanglah menguras fisik dan emosi, apalagi kalau anak masih SD yang masih butuh banyak bimbingan. Semoga kita semua legowo dan bisa lebih santai ya mbak πŸ™‚

      Like

  9. Endah April says:

    Halo Kak Imelda salam kenal🌸 untuk Alun selamat ya sudah lulus sertifikasi dengan lancar. Aku jadi ingat ponakan sendiri, kayaknya cuma setahun lebih tua dari Alun, kapan hari ujian di TPQ tentang ayat-ayat Alquran juga, anaknya santai, yang tegang mbahnyaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Btw waktu masih sekolah dulu sama kayak Kak Imelda, aku juga nggak pernah dikerjain PR-nya sama ibuk aku. Makanya aku kadang kaget sama anak yang PR-nya dikerjain sama ortunya, mungkin memang ada alasan tertentu yang aku nggak tau.

    Mengenai setahun pandemi, walaupun banyak ups and downs downs yang terjadi (downs-nya dua kali wkwk) tapi bener kata Kak Imelda kalau semua harus disyukuri. Terima kasih Kak sudah menulis tentang rasa syukur🌸

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo endah salam kenal juga ya. Terima kasih ucapannya ya πŸ™‚

      Iya zaman dulu kita fine-fine aja ya gak dibantu ortu buat ngerjain tugas2 sekolahan. Harusnya bisa diterapin nih sama ortu di zaman sekarang, termasuk aku. Makanya bismillah aja, semoga bisa deh aku lepas anak-anakku mandiri πŸ™‚

      Yes jangan lupa bersyukur terus ya Endah. Terus berpositive thinking di tengah keterbatasan kita dalam pandemi ini. Semoga corona lekas berlalu.
      Makasih sudah main ke sini ya πŸ™‚

      Like

    • imeldasutarno says:

      Halo mbak Pipipt salam kenal juga ya πŸ™‚ Terima kasih untuk ucapan selamatnya. Semoga anakku bukan cuma bisa ngafal doang tapi harus bisa mengamalkan apa yg dia hafal dalam kehidupan sehari-hari. Amiiin….

      Alhamdulilah kita semua bisa survive. Ambil hikmahnya, banyak2 bersyukur. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari corona ya mbak. Sehat selalu juga untuk mbak Pipit sekeluarga πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s