Sok Medis versus Cuek

Hari ini mau sharing yang ringan-ringan aja. Yaaa…sebenernya sih tiap hari topiknya juga ringan wehehehhee…

Dua minggu lalu ada kerabat saya yang harus melakukan operasi tumor pada bagian tangannya. Jadi kayak ada semacam daging tumbuh gitu di deket pergelangan tangannya. Lalu dia pun melakukan operasi di salah satu RS ternama di bilangan Jakarta Utara. Karena sudah berpengalaman sama yang namanya daging tumbuh a.k.a tumor (baca di Pengalaman Operasi FAM yang Ketiga), wajar saya ikutan kepo. Apalagi sebelum operasi, sang kerabat sudah jauh-jauh hari ngobrol via FB Messenger sama saya, tanya ini itu seputaran tumor.
Seminggu setelah operasi selesai, saya kepo dan bertanya gimana hasilnya? Sudah pasti sang daging yang diangkat itu dicek di laboratorium untuk mengetahui tingkat keganasannya. Dan emang biasanya pasien akan mendapatkan selembar kertas hasil pemeriksaan laboratorium.
Lalu jawaban yang saya dapat adalah: tidak tau hasilnya apa. Saya juga lupa menanyakan. Tadi sih ke dokter cuma buka jaitan. Dokternya juga gak bilang apa-apa tuh.

Bengong. Itu reaksi paling spontan dari saya.

Kejadian kedua. Teman saya istrinya dirawat di RS karena katanya ada cairan di paru-paru yang harus disedot. Ini kejadiannya udah lama sih sebenernya, sekitar dua tahun lalu. Gara-gara kejadian kerabat di atas, maka saya tulislah di sini. OK back ke paru-paru. Setelah disedot, gak terlalu lama di RS, istri temanpun akhirnya diperbolehkan dokter pulang. Waktu itu sama, saya juga kepo. Saya tanya ke dia, kira-kira boleh tau gak sih kenapa penyebab paru-paru tiba-tiba bisa ada cairan yang kudu disedot segala? Kenapa pengen tau? Supaya kita-kita yang sehat ini bisa menghindari penyebab-penyebabnya, entah itu dari faktor makanan, gaya hidup dan lain-lain. Tujuannya sih cuma itu ya. Dan jawaban teman saya adalah: gue kurang tau juga, tadi yang urusan sama dokter dll ibu mertua gue. Gue pas lagi gak ada di ruangan pas dokternya visit.

Udah gitu doang.
Bengong gak? Bengong dong ah…dua tahun lalu tapinya.

Ada teman sekolah saya punya siklus menstruasi yang ga teratur dan suka kesakitan banget kalo lagi haid. Pas dia ke dokter ya cuma manggut-manggut aja sama penjelasan dokter plus resep yang dikasih, tanpa ada niatan untuk melakukan tanya jawab sewajarnya seorang pasien. Malah saya yang kayak orang kebakaran jenggot sibuk nanya ke dia ini itu. Dan dia seperti bete nanggapin semua pertanyaan saya, sampai akhirnya dia bilang “gue gak nanya banyak Mel ah. Toh udah dapat obat ini, udahlah biarin aja.”
Hmmmm….
dan saya pun hanya bisa terdiam.

Masih banyak orang di luar sana yang gak terlalu peduli sama yang namanya sakit/penyakit. Itu yang dapat saya simpulkan. Kalau kejadiannya di saya, duh pasti tu dokternya saya cecar dengan semua pertanyaan sedetil-detilnya, supaya hak pasien untuk mendapatkan kejelasan terhadap penyakitnya dapat dipenuhi. Begitu pula kalo saya yang ngalamin dioperasi, apapun jenis operasinya. Pasti sesudahnya kepo bertanya ke doter, apa hasilnya, apa efek lanjutnya, apa yang harus saya lakukan setelah ini agar penyakit yg sama gak keulang kembali, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Dokter kan bisa aja kelupaan saking kebanyakan pasien, makanya kudunya pasien yang aktif bertanya.

Seringkali kita baca atau dengar dari pengalaman orang yang kita kenal, bahwa posisi pasien kadang lemah (atau sengaja dilemahin sama si pasien sendiri) dengan tidak mendapatkan kejelasan yang pasti dari dokter. Yang penting dikasih obat, selesai. Dikasih obat artinya sembuh. Selesai.

Kadang saya mikir…ini gue yang kebangetan sok sok detil banget, sok medis gitu, atau gimana ya? Tapi beneran deh, rasanya gemes aja gitu mendapati orang-orang yang abai atau malah takut sama sosok dokter trus malah males buat tanya ini itu. Ini badan kita yang sakit, ini ada something wrong happen inside our body, lalu mengapa kita masih cuek? Minimal dengan bertanya, kita bisa menghindari kejadian serupa kan?
Kamu ada pengalaman seperti ini jugakah? Yuk sharing di komen 🙂
signature