Makna pada Sebuah Cangkir

Sejak kecil saya sering diajak bertamu ke rumah orang lain oleh orangtua. Entah dalam konteks silaturahmi biasa maupun Lebaran. Sudah lumrah adanya, kalau kita bertamu, pastilah sang empunya rumah menyuguhi kita dengan aneka penganan dan juga minuman.

Entah minuman panas maupun dingin. Selama ini yang paling sering banget disuguhi ya minuman dalam cangkir dan biasanya teh manis hangat. Dulu sih waktu kecil gak pernah kepikiran ada etika di balik secangkir teh. Tapi sekarang eh malah bikin-bikin asumsi sendiri, hahahaha.

Entah benar entah tidak.

Lihatlah dua buah cangkir yang saya pajang gambarnya di bawah ini. Emm…sebelumnya mohon maaf, cangkir yang sebelah kiri dekil nan kotor. Itu cangkir tahun 80an, milik nyokap yang kedekilannya sudah benar-benar tidak bisa diatasi dengan produk antinoda apapun. Saya tampilkan hanya untuk contoh saja ya. Maklum bukan kolektor teaset hehe.

Jpeg

dua cangkir yang berbeda nasib

Cangkir kiri: diameter 7 cm, tinggi/kedalaman 5 cm, kapasitas air 125 ml
Cangkir kanan: diameter 10 cm, tinggi/kedalaman 5,5 cm, kapasitas air 200 ml lebih sedikit.

Ini apa sih? Mau belajar Matematika ada diameter segala rupa? Bukan cyiiin….
Jadi begini: kalau kita namu di rumah orang terus disuguhi cangkir yang kiri, alamat bisa cepetan pulang dong ya? Karena isi teh atau kopinya dikit. Ngobrol ngalor ngidul disertai sedikit-sedikit minum, cepet habisnya.

Yang punya rumah: Wah minumnya sudah habis, saya tambahin ya.
Tamu: Oh ndak, ndak usah repot-repot. Kebetulan ini sekalian mau pamit aja. Ada acara lagi di lautan seberang tempat sodara. Makasih ya 🙂

Sering gak nemu dialog begitu kalo lagi namu? FYI dan intermezzo: dulu waktu saya kecil, untuk mempercepat kepulangan dari bertamu, biasanya nenek atau ibu bapak membawa anaknya yang masih kecil dan manis ini untuk alasan. Kalo bawa anak kan biasanya bisa dijadiin alasan buat cepet pulang ya, entah karena anaknya ada pe-er di rumah, anaknya ngantuk, rewel dll.

Kembali ke si cangkir. Sekarang bandingkan kalau disuguhi cangkir yang kanan. Ngobrolnya bisa lebih lama kan ya? Buat sisi tuan rumah, mungkin penyuguhan dengan cangkir kiri punya makna : eh elo jangan kelamaan namu dimari. Gue juga ada urusan lain nih. Bisa jadi seperti itu. Atau dia emang gak punya niatan itu tapi apa daya koleksi teaset-nya……..ya adanya cuman itu.

Atau sebaliknya dari sisi si tamu (seperti dialog di atas tadi) dia dalam hati juga suka karena minumannya cuma dikasih sedikit dan bisa buru-buru pulang. Ini biasanya tamu yang ga terlalu demen basa basi ya orangnya. Yang penting tujuan utama, obrolan utama sudah tersampaikan, pengennya buru-buru pulang.

Cangkir kanan sekarang menjadi penghuni dapur saya. Wah berarti seneng ya dikunjungi tamu? Kalau tamunya asik, udah pasti senenglah. Tapi cangkir ini sebenarnya juga berfungsi untuk kami sendiri (saya dan pak suami). Kalau minum teh atau kopi pagi hari ya kadang pengennya dengan cangkir lengkap dengan piringnya. Enggak cuma pake mug standar biasa. Dan pengennya juga minumnya enggak seiprit aja seperti cangkir kiri. Nah pak suami pun punya pikiran: kalau kita kedatangan tamu sebaiknya kasih dia jumlah minuman yang proper, supaya benar-benar hilang rasa hausnya dalam satu cangkir saja. Masuk akal sih.

Sekarang pertanyaannya: siapakah nama wakil presiden RI yang kedua? Lhah? Dia komedi! Pertanyaannya: apa makna saya menulis tentang cangkir ini? Jawabannya: hanya iseng belaka, mengemukakan pendapat yang selama ini hanya terpendam di hati yang sendu dan galau ini.

Selamat minum di cangkir 🙂
signature

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s