Proofreading

Proofreading

Gambar diambil dari sini

Sudah lama sebenarnya ingin menulis ini. Di kantor saya termasuk salah seorang anggota tim proofreading. Benda apa tuh proofreading?

Buat yang awam, mungkin tidak tau apa kegiatan apa itu. Tapi buat yang hidup di lingkungan seputaran tulis menulis dan editor, sudah pasti tau dong ya.
Proofreading adalah kegiatan pengecekan atau koreksi naskah/tulisan final yang lebih memperhatikan ke aspek teknikal atau tata bahasa seperti kesalahan ketik, tanda baca, dan hal-hal kecil lainnya. Bedanya dengan editor, tugas editor lebih kepada menyeleksi  naskah dari segi non teknikal sepeti misalnya: apakah isi naskah tidak mengandung unsur SARA, apakah naskah sudah sesuai dengan konsep awal penulisan, apakah tatanan kalimat yang digunakan sudah benar, dan lain-lain.

Saya juga tidak tau kapan persisnya saya menyukai aktivitas proofreading ini. Bisa dibilang this is a gift dari Yang Maha Kuasa ya. Kenapa? Karena dari kecil orangtua gak pernah ngajarin untuk menjadi yang terdetil. Saya memang gemar baca buku waktu kecil, sampai sekarang pun masih sebenarnya walaupun lama vakum karena punya 2 krucils yang lagi aktif-aktifnya (baca: susah punya me-time buat baca buku). Tapi entah dari mana, selalu ada dorongan untuk  mengecek segala tulisan dan merasa “gerah” kalau ada teks yang salah ketik.
OK balik lagi ke proofreading. Apa sih yang kira-kira harus dipunyai seseorang kalau mau jadi proofreader?

Yang paling utama adalah punya passion. Kalau sudah ga suka, gak semangat, bosen, cepet jenuh, mendingan mundur dari awal deh. Karena proofreading membutuhkan konsistensi, ketelitian dan ketekunan. Bayangkan kalau yang kita proofread ada 200-300 halaman. Kalau sudah ga niat, gak passion, ya wassalam. Kebetulan di kantor saya terbiasa mem-proofread dokumen-dokumen korporat. Jadi bukan koreksi terhadap naskah novel, artikel dan sejenisnya ya.

Apa saja yang harus diproofread:

1. Ejaan, tanda baca, huruf besar huruf kecil, salah ketik, pemenggalan kata, huruf bold atau italic.

2. Konsistensi data antarhalaman. Misalnya kita membaca di halaman 1 ada penjelasan bahwa laba perusahaan dalam setahun adalah 200 juta. Di halaman lainnya disebut 300 juta.

3. Konsistensi judul bab dengan daftar isi, termasuk nomor halaman. Ini juga sangat penting. Jangan sampai di daftar isi misalnya disebutkan nama perusahaannya ABCD. Sementara judul dalam contentnya disebut perusahaan FGHIJ. Demikian pula misalnya di daftar isi disebutkan bahwa halaman 1 membahas visi misi, pas kita buka halaman 1 malah penjelasan tentang profil perusahaan.

4. Jika ada logo maupun foto, hendaknya juga diproofread. Pernah saya menemukan foto yang reversed (terbalik) karena graphic designernya mungkin terlewat waktu cek ricek gambar. Atau pernah pula logo sebuah institusi atau perusahaan salah pasang, salah warna, dan juga salah ketik. Wah fatal ya?

Aktivitas proofreading membutuhkan fokus dan ketelitian yang besar. Apa saja yang bisa kita lakukan untuk tetap detil dan fokus?

1. Ketika melakukan proofreading, pastikan naskah di print out bukan dibaca di layar komputer. Mengkoreksi naskah hardcopy jauh lebih bisa teliti dibandingkan di komputer. Seringkali membaca tulisan di komputer kita bisa ter-distract karena tidak bisa menelusuri kata per kata, huruf per huruf secara lebih dekat.

2. Jika menandai kesalahan pada naskah, sebaiknya gunakan tinta yang berwarna stand out atau ngejreng. Supaya orang yang akan merevisi naskah yang sudah kita koreksi juga tidak bingung. Bayangkan kalau warna teks naskah hitam, kemudian kita proofread pula dengan tinta hitam. Kalau kata orang awam” nyaru”. Akhirnya malah terlewat tidak terevisi.

3. Usahakan tidak ada gangguan dan jangan tergoda macam-macam seperti misalnya melakukan proofread sambil liat-liat social media atau chatting via HP. Dijamin, tendensi untuk ter-distract dan out of focusnya lebih tinggi. Kalaupun memang pengen refreshing dengan social media, targetkan saja, misalnya selesai proofread 10 halaman, refreshing 10 menit. Itu jauh lebih bisa fokus.

4. Kalau mau proofread sambil setel musik, usahakan yang instrumental saja. Terkadang kalau ada syairnya, kita refleks ikut nyanyi. Hilang lagi deh fokus ke naskah 🙂

5. Jangan mem-proofread dalam kondisi mata mengantuk. Lebih baik benar-benar tidak usah melakukan deh. Sebab akan banyak yang terlewat, dan at the end aktivitas ini pun akan sia-sia saja.

Seorang proofreader akan selalu bergaul akrab dengan kamus, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris (umumnya naskah sih dua bahasa itu ya. Tapi ada juga loh naskah dalam bahasa lain seperti bahasa Jepang, Arab, dan lain-lain). Di jaman serba internet ini, semakin mudah untuk mengkoreksi, karena tidak perlu membolak balik kamus lagi, cukup ketik-ketik saja. Lebih praktis dan cepat tentunya. Kemudian, kalau misalnya kita bertemu dengan cara penulisan kata yang kita pun tidak paham, di internet banyak ditemukan sumber valid untuk mengetahui kebenaran cara penulisan yang kita cari tersebut.

Makanya setiap kali melakukan proofreading, komputer dan internet harus selalu on di depan saya.

Last but not least: setiap kali proofreading naskah/dokumen punya orang lain pasti maunya selalu perfect. Begitu nulis di blog sendiri? Hmmm….malah cuek sama yang salah dan benar. Hahahaha…yah begitulah saya 🙂

 

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Proofreading

    • imeldasutarno says:

      mba maaf baru bales. Iya istilah umunya emang QC mbak, cuma biasanya kalo di dunia copywriting, istilahnya lebih ke proofreading hehe. Iyes mbak kalo udah gak mood aslilah mendingan ijin tidur aja daripada malah bikin problem baru dengan menyuguhkan data yang gak ke-QC dengan bener hehehe….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s