Cuma 1 Televisi

stay at room

gambar dari sini

Melihat dunia internet dan gadget yang 360 derajat berbeda dengan jaman saya kecil dulu, tentunya sebagai orang tua ada rasa cemas terselip. Dulu waktu saya kecil, gadget itu belum hits bahkan belum ada. Jadi semua anak main dan berinteraksi dengan teman-temannya secara face to face.

Entah main di outdoor maupun indoor/dalam rumah. Namun semenjak dunia teknologi berkembang, tak pelak semua keluarga pun terkena imbasnya.

Sering kita temui anak-anak terutama yang menginjak usia ABG/remaja, lebih banyak diam di rumah, atau bahkan di dalam kamarnya. Apalagi kalau bukan surfing di internet atau juga main game online. Ada pula yang memang difasilitasi televisi di kamar oleh orang tuanya. Keluar kamar hanya untuk makan, mandi atau pas harus berangkat ke sekolah. Sisanya ngendon di kamar lagi. Hitung berapa jam yang dihabiskan untuk aktivitas tersebut dalam sehari, seminggu, bahkan setahun. Interaksi face to face dengan orang tuanya pun terbatas. Ngobrol seadanya, terutama kalo deket-deket bayar SPP 🙂

Pada serem gak sih sama fenomena macam ini? Saya sih serem, padahal anak saya masih kecil-kecil. Di Jepang ada yang namanya penyakit Hikikomori yang ngetrend sejak tahun 1990-an dan menjangkiti para remaja di Jepang. Tapiii….agak beda ya, sebab kalau hikikomori ini faktor-faktor pencetusnya adalah rasa tertekan (misalnya karena orang tuanya memaksakan kehendak pada sang anak),  faktor bullying di sekolah, rasa rendah diri yang berlebihan dan lain-lain yang mengakibatkan seorang anak memilih untuk mengurung diri di kamar, menjauh dari dunia nyata.
Jadi bukan melulu karena faktor ketersediaan gadget di kamar.

Nah balik lagi ke fenomena tadi. Saya sih bener-bener serem kalo sampe kejadian ke anak-anak saya (knock on wood). Sebisa mungkin, walaupun saya ibu bekerja, perhatian dan kasih sayang tetap selalu tercurah ke anak-anak. Termasuk selalu mengusahakan interaksi yang banyak face to face dengan anak dan juga keluarga.

Saya ingat dulu pernah nonton Oprah Winfrey episode pas dia mewawancarai Maria Shriver yang waktu itu masih istri sah Arnold Schwarzenegger. Waktu itu Maria didampingi dua anak perempuannya yang masih ABG. Saya lupa apa yang ditanya oleh Oprah, tapi kemudian Maria menjawab bahwa di rumah mereka, televisi hanya ada satu yaitu di ruang keluarga/ruang tamu. Di kamar masing-masing anak tidak disediakan televisi. Coba bayangin. Orang sekaya keluarga Schwarzenegger, apa sih yang gak kebeli? Mau beli televisi 20 buah pun yang harganyanya miliaran kayaknya enggak masalah ya? Tapi mereka memilih hanya punya 1. Pelit? Bukaaaan…..
Ternyata Maria dan Arnold berusaha membangun full interaction with their children dengan selalu berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka tau bahwa mereka berdua adalah public figure yang sama-sama sibuk. Namun sesibuk apapun harus tetap connect with their own children, in any kind of ways. Mereka berusaha menjaga agar anak-anak mereka bukan menjadi sosok non sosial atau individualis. Kalo mau nonton ya kumpullah di ruangan itu, ngobrollah tentang apapun sama papa-mama. Mau curhat, kritik, saran, atau cuma sekedar ngobrolin tentang program yang lagi ditonton, sok mangga dilakonin bareng-bareng. Jangan dikit-dikit ngurung diri di kamar.Kira-kira itulah pesan moral yang ingin disampaikan keluarga ngetop ini ke pemirsa.

Alhamdulilah, di rumah pun suami sudah mempraktikkan metode punya 1 tv untuk semua orang. Ketika menikmati film (paling banyak ya film anak-anak, ortunya ngikut tontonan anak aja a.k.a ngalah) ya kami lakoni berempat, atau rame-rame jika ada anggota keluarga lain yang berkunjung ke rumah. saling lempar komentar, tertawa, semua dijalanin bareng-bareng. Seru! Apalagi kalo bapak mau nonton sepakbola, anak mau nonton film kartun. Yang ada jejeritan deh.

Kemudian suami juga sudah mulai berpikir jika nanti Alun sudah sekolah yang lebih tinggi (sekarang masih TK), dan membutuhkan komputer plus internet untuk browsing atau mengerjakan tugas sekolah, suami akan meletakkan komputer di luar kamar Alun. Bisa jadi dekat ruang tamu juga, dan posisi monitornya bisa diakses oleh publik dari belakang, alias tidak tertutup. Rencana ini sekaligus untuk mengontrol jika nanti anak akan browsing materi-materi yang kurang pantas. Setidaknya dia pasti akan punya rasa malu karena posisi monitornya bisa dilihat oleh siapapun.

Gadget hadir di dunia untuk memudahkan komunikasi dan interaksi, sekaligus bisa berpotensi untuk “mematikan” interaksi itu sendiri. Sibuk dengan gadget, akhirnya lupa bicara secara langsung kepada orang yang tersayang, lupa bagaimana cara seharusnya kita berkumpul dan berbagi tawa bersama, lupa pada esensi hidup yang sesungguhnya.

Semoga kita bukan termasuk golongan itu ya…amiiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s