Libur Tahun Baru di Hulu Waduk Saguling

Liburan tahun baru ini, kami mencoba yang anti mainstream. Mengajak anak-anak termasuk keponakan dan kakek nenek berlibur ke rumah paman saya di Hulu Waduk Saguling. Ngapain di sana?

Sebelum cerita banyak soal aktivitas yang kami lakukan di sana, saya jelaskan sedikit ya soal waduk ini. Waduk Saguling adalah waduk buatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat dan merupakan salah satu dari tiga waduk yang membendung aliran Sungai Citarum yang merupakan sungai terbesar di Jawa Barat. Dua waduk lainnya adalah Waduk Jatiluhur dan Waduk Cirata. Daerah di sekitar Waduk Saguling berupa perbukitan, dengan banyak sumber air yang berkontribusi pada waduk. Hal tersebut membuat bentuk Waduk Saguling sangat tidak beraturan dengan banyak teluk-teluk. Luasnya gak kira-kira, yaitu 5.600 hektar. Dari hulu ke arah waduk utama bisa makan waktu dua jam sendiri baik perjalanan melalui darat maupun dengan perahu mesin. Kebayang kan luasnya?

Hulu Waduk yang kami kunjungi ini terletak di Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

kantor_desa[1]
selamat_dtg_1[1]

Paman saya tinggal di sini. Masyarakat di desa ini termasuk paman saya adalah petani ikan keramba jaring apung. Jamak  di seluruh Indonesia, salah satu manfaat waduk adalah untuk memelihara ikan yang jika sudah dipanen bisa dijual ke pasar.

JpegJpeg

Jpeg

JpegJpeg
Jika orang-orang lain sibuk mempersiapkan pesta pergantian tahun baru, maka paman saya dan petani ikan lainnya juga ikutan sibuk. Banyak pesanan ikan di siang 31 Desember 2015 itu, mengingat ikan-ikan ini akan dibakar pas tengah malam nanti. Bahkan, ada pembeli eceran langsung yang datang ke tepi sungai untuk langsung membeli ikan dari keramba. Rata-rata bermobil pribadi dan tentunya plat D. Harga satu kilo ikan nila atau mujair hanya Rp12.000 saja. Bandingkan jika sudah sampai di Jakarta dan masuk supermarket 🙂

Beginilah aktivitas jual beli ikan di tengah keramba: masing-masing petani punya keramba yang tersebar di seluruh hulu waduk ini. Jika sudah siap panen, ikan dari keramba diangkut ke dalam sampan yang didayung manual, kemudian diantar ke semacam tempat penge-pull. Di penge-pull ikan dituang ke keramba lagi, lalu diciduk dengan menggunakan ember plastik, ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam plastik-plastik besar yang telah diberi oksigen. Siap diantar ke pasar maupun pengecer lainnya.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Malamnya, selepas magrib, paman saya ternyata masih harus mengantarkan ikan lagi ke langganannya, karena kebutuhan bakar-bakar malam tahun baru memang meningkat. Ketika kami semua berkumpul di rumahnya, paman malah pergi kerja. Ketika jam 00.00 WIB, hanya samar-samar kembang api dan petasan terdengar di desa ini. Tidak ada yang spesial samasekali sepeti di daerah lain terutama ibukota. Warga malah tidak banyak yang keluar rumah. Ketika pagi menjelang, warga malah kembali bekerja seperti biasa. Saya bertanya pada paman, apakah tidak ada libur karena ini tanggal merah? Paman menjawab bahwa pesanan malah masih banyak. Saya perhatikan di keramba pun petani lain teman-teman paman nampak sibuk bekerja. Tidak ada tanggal merah spesial bagi mereka, demi sesuap nasi 🙂

Di hulu waduk ini, tentunya juga banyak orang memancing dan menjala ikan.

JpegJpegJpeg

Selain itu kami pun berkesempatan untuk naik perahu mesin yang paman pinjam dari bos penge-pull yang biasa dipanggil pak Haji oleh warga sekitar. Kami naik perahu ini putar-putar hanya sekitaran keramba saja. Anak-anak nampak senang dengan aktivitas ini.

perahu_mesin[1]
lintang_naik_perahu[1]

Ketika kami akan pulang ke Jakarta, tak lupa membawa oleh-oleh khas dari daerah ini. Tiga oleh-oleh tersebut adalah:

1. Gurilem. Keripik berbahan dasar singkong dan biasa dikasih tambahan bumbu pedas.

gurilem

gambar dari sini

2. Keripik kecimpring. Adonannya mirip dengan opak, dan diberi daun bawang. Rasanya gurih dan enak

keripik[1]

3. Wajit. Penganan berbahan dasar beras ketan, gula merah dan kelapa, kemudian dibungkus dengan daun jagung. Semacam dodol. Kalau makan penganan ini, minumnya teh tawar hangat ya, karena rasa wajit manis sekali.

wajit[1]

Kami senang karena libur tahun baru kali ini mendapatkan pengalaman yang berbeda. Tak ada gegap gempita tetapi dapat pelajaran berharga. Bahwa mencari nafkah terkadang tak pandang hari. Bahwa kehidupan di hulu waduk/sungai begitu bersahaja. Walau sekarang anak-anak hanya mengingat naik perahu dan lihat-lihat ikan di keramba, semoga suatu saat mereka tetap teringat moral story dari perjalanan liburan tahun baru ini.

Selamat tahun baru 🙂

selamat_thn_baru[1]

*tulisan ini dimuat di http://theurbanmama.com/articles/berlibur-ke-hulu-waduk-saguling.html tanggal 11 Februari 2016″

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s