Mau Sekolah di Mana?

ayo sekolah[4]

gambar dari sini


Dulu waktu saya masih kecil, semua orangtua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke Sekolah negeri. Mulai dari SD kalau bisa sudah harus wajib kudu berlabel negeri. Suatu kebanggaan tersendiri nan luar biasa kalau bisa memasukkan anak ke negeri.

Sementara kalau masuk swasta justru dipandang sebelah mata, kurang pintar dan sederet embel-embel kurang sedap lainnya. Entah kenapa, padahal swasta pun identik dengan sekolah mahal loh dari jaman dulu sampai sekarang. Tapi begitulah yang terjadi di negeri tercinta ini.

Tes masuk sekolah negeri praktis gak ada, yang dulu dilihat hanya hasil Ebtanas. Semakin tinggi NEM (Nilai Ebtanas Murni) kita, semakin gampang pula kita masuk ke sekolah-sekolah negeri favorit. Alhamdulilah dari SD sampai SMA saya dan kakak berhasil mewujudkan keinginan orangtua untuk selalu sekolah di negeri.

Tapi sungguh berbeda dengan sekarang. Justru orangtua berbondong-bondong memasukkan anak-anaknya ke sekolah swasta. Ada apa ya? Eh saya juga begitu loh, alias prefer swasta daripada negeri. Apakah karena kalo sekolah di negeri dicap kampungan karena itu sekolah sejuta umat? Hmmm…..

Dulu sekolah swasta tidak memiliki aneka rupa kurikulum. Tapi sekarang? Duh macem-macem deh. Kita liat nama-nama sekolah. Ada SD terpadu, Rintisan SD Bertaraf Internasional, sekolah alam, sekolah berbasis agama tanpa embel-embel terpadu, dan masih banyak lagi. Belum lagi sekolah-sekolah yang membeli atau join dengan sekolah principal di negara asalnya. “Kalo di SD Islam X mahal bu biayanya sebab kurikulumnya kami ngikut dari kurikulum umum Singapura”. Haduuuh pusing yaaa……. Sama saya juga pusing *seruput teh tawar panas….pake satu slice blueberry cheesecake…..dan 2 pieces lumpia Semarang. Astagfirullah….*

Nah ternyata aneka ragam kurikulum dan basis sekolah seperti yang saya mention tadi itulah yang membuat orangtua berlomba memasukkan anaknya ke swasta. Namanya orangtua, pasti semua harapannya sama: anaknya menjadi yang terunggul di antara yang lain. Ada sekolah yang wajib pakai bahasa pengantar Inggris, bahasa Arab, dan lain-lain. Khusus yang berbasis agama, orangtua berharap pendidikan anak-anaknya akan jauh lebih baik ketimbang dirinya, di masa depan. Yang ber Inggris ria, tentunya orangtua ingin anaknya siap memasuki pergaulan dunia internesyenel *biar gak gagap kalo pas ketemu Adam Levine di jalanan.Kalo gak bisa Inggris kan malu cyiin*

Terus apa lagi? Sekolah swasta lebih care terhadap siswa. Di negeri, 1 kelas isinya 40 siswa dengan satu guru saja. Eits dulu waktu SD saya malah 45an loh, saking banyaknya anak baru pindahan yang masuk ke sekolah negeri favorit itu (baca: SD saya dulu). Sementara di swasta, 1 kelas hanya isi 25 siswa, dan itupun dengan 2 guru pengajar dalam satu kelas. Otomatis anak jauh lebih diperhatikan baik dari segi akademis maupun mannernya. Kalo 40 anak, sang guru mungkin hanya akan mampu memperhatikan dari segi nilai-nilai ulangan yang diraih siswa yang bersangkutan. Mannernya? Paling yang super bandel-bandel aja yang diberi perhatian lebih, sisanya…standar. Alhasil, kalau misalnya ada anak-anak yang bahasanya kasar antar sesama teman tapi dalam kategori ngobrol biasa, mungkin guru udah gak terlalu merhatiin sampai ke situ. Yang penting nilai ulangan dia bagus, gak masuk kategori merah…maka aman. Lho jadi maksudnya kalo bahasa sehari-harinya cenderung kasar dicap anak negeri gitu? Bukaaan….banyak juga kok non negeri yang bahasanya suka bawa-bawa kebun binatang dalam percakapan sehari-hari dan semua itu dinilai wajar sama lingkungannya. Tergantung pola pendidikan di rumah juga kalo itu mah.

Jaman berubah. Dulu metodenya interaksi satu arah (hanya guru menjelaskan dengan standar di depan kelas, murid mendengar dan mencatat), tingkat kekritisan anak masih rendah, teknologi belum berkembang seperti sekarang ini,  dan perilaku anak juga cenderung patuh pada yang lebih tua (orangtua dan guru di sekolah). Sementara sekarang? Wow…..silakan yaaa yang punya anak ceritakan pengalaman masing-masing bagaimana mereka jauuuh lebih kritis (sampai-sampai kita sebagai orangtua kadang gak sanggup menjawab pertanyaan mereka dan hanya terdiam cengok), dan berkat perkembangan teknologi anak sekarang jauuuh lebih punya sikap dan lebih berani, lebih nuntut untuk kesejahteraan yang mumpuni (halah ngomong opo iki?). Iiih jaman dulu mah, membangkang dikit sama yang lebih tua bisa dapat hukuman yaaa….kalo jaman sekarang udah gak bisa lagi cuuuy…!

Akibat perubahan jaman itulah, maka orangtua mencari tempat pendidikan yang secure buat anak-anaknya. Secure dari sisi kurikulum, secure dari sisi perhatian yang maksimal terhadap manner anak. Tentunya berharap anaknya jadi sholeh, bijak dan memiliki sopan santun tingkat tinggi. Bermartabat. Adapula orangtua yang merasa pendidikan manner yang diberikan di rumah agak kurang cukup, terutama misalnya orangtua yang dua-duanya bekerja. Embel-embel “sekolah negeri jauh lebih membanggakan ketimbang sekolah di swasta” nampaknya perlahan mulai pupus. Orangtua rela mengeluarkan uang yang lebih banyak, bahkan mencicil hanya agar sang anak bisa diterima di sekolah swasta favorit.

Semoga ke depannya baik negeri maupun swasta menjadi sama baiknya sebagai tempat anak-anak kita dididik yaaa….

Open discussion….ada yang mau nambahin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s