Soal Menghargai ART

appreciation

Cerita soal ART. Untuk beberapa orang menyebutnya PRT alias pembantu rumah tangga. Apa yang mau diceritain di sini? Soal menghargai ART aja sih. ART juga sama seperti kita, sama-sama manusia yang bekerja mencari sesuap nasi dan popularitas di dunia maya kalau pakai kamus rumah saya loh ya.

Beberapa hal yang saya dilakukan berkaitan dengan rasa penghargaan itu (based on my experience ya):

  1. Menyebut mereka dengan ART bukan pembantu. Asisten Rumah Tangga jauh lebih menghargai dan manusiawi kalo menurut saya ketimbang penyebutan “pembantu” yang konotasinya rendah. Atau jika bertemu orang lain yang belum familiar dengan sebutan ART, saya memperkenalkan mereka dengan “pengasuh anak saya”. (Walaupun seringkali para ART saya sendiri juga suka menyebut diri mereka sendiri pembantu).
  2. Saya selama ini alhamdulilah tidak pernah mengambil ART dari yayasan. Selalu dapat dari referensian yang menurut saya jauh lebih bisa dipercaya dan dipegang, karena kita kenal dengan si sumber referensi. Bisa dari tetangga dekat atau malah dari tukang  gado-gado langganan. Plus pointnya via referensi ini: unsur materialistis dalam promosi si ART yang bersangkutan sangat minim. Bandingkan dengan ketika kita ke yayasan. Kita bahkan gak kenal siapa orang yang akan bekerja mengasuh anak kita, tapi promosi oleh pihak yayasan sudah pasti setinggi-tingginya supaya si ART cepat diambil (laku). Sementara kalau dari referensian, hal-hal seperti ini cenderung tidak ada. Yang ada malah kita suka becanda sedikit ngancem ke pihak pe-referensi : “bener ya kerjanya bagus. Kalo ada apa-apa sama dia, aku minta tanggung jawabmu loh, hehehe……”
    OK, back to the main topic, sebenarnya yang saya ingin sampaikan adalah masalah berpakaian. Kalau kita ambil dari yayasan, baby sitter atau ART biasanya dipakein baju suster gitu ya? Mungkin memang sudah ketentuan dari pihak yayasan untuk menggunakan seragam itu, saya juga kurang tau karena memang belum pernah ambil dari yayasan blas. Nah, kalau ART yang bukan dari yayasan gimana? Ada cerita dari ART saya, bahwa dia menyalurkan saudaranya bekerja di tempat lain. Walau bukan yayasan, si bos membelikan baju suster dan mewajibkan si ART pengasuh anaknya memakai itu ketika jalan-jalan, misalnya ke mal. Buat saya beda ceritanya. ART saya bebas mau pakai apa saja dan berdandan seperti apa yang dia inginkan. Saya gak mau membatasi dia dengan seragam. Tidak mau membuat status dan kedudukannya langsung terlihat orang lain via si seragam. Kita sama-sama jalan-jalan, ya sama-sama memakai baju apa yang kita senangi. Bahkan mereka terserah mau dandan seheboh apa, saya gak peduli. Dandannya lebih ciamik ketimbang saya? Ndak masalah. Mereka kan juga punya selera dan sebaiknya jangan dibatas-batasi.
  3. Masih ada kaitan sama nomor 2. Kemarin ART saya cerita, dia menyalurkan salah satu saudaranya ke Bekasi. Nah, si ibu yang menerima si ART ini, mungkin sangat ningrat kekotaan atau entah bagaimana….dia kemudian komplain ke ART saya. Dia bilang: “kerjanya sih bagus banget, telaten banget sama anak saya. OK banget lah pokoknya. Tapi, dia bau badan. Gimana yah mbak?” Dan menurut cerita ART saya, saudaranya itu sampai tidak diperbolehkan lagi menggunakan baju-baju yang dia bawa dari kampungnya. Dia dibelikan banyak baju oleh si bos, dan hanya boleh pakai itu dengan harapan dari si bos bahwa bau badannya akan hilang. Namun katanya tetap saja ada. Si bos lagi-lagi sms-an sama ART saya untuk menanyakan solusinya. Apakah harus dikasih jamu atau gimana? ART saya….oh i really know her feeling so well…..deep down inside pasti sedih ya denger saudaranya diperlakukan begitu sama si bos. Demikian pula saya yang cuma ikutan denger ceritanya. Buat saya pribadi: masalah-masalah pribadi seperti itu harusnya bisa dibicarakan lebih smooth lagi. Dia manusia juga kan? Punya perasaan tersinggung juga kan ya? Apalagi masalah bau badan seperti kita semua tau, ya masalah privat bangettt. Kalau memang ingin membantu menghilangkan bau badan, sebenarnya bisa dengan coba menyelipkan deodorant ketika si bos membelikan ART sabun mandi, pasta gigi, dan toiletries bulanan. Tidak perlulah mengumbar ke mana-mana masalah ini, terutama ke saudaranya sendiri (ART saya). Pun buat saya pribadi (lagi), mau pilih mana: ART yang kerjanya bagus tapi bau badan atau ART yang oke dari sisi kebersihan tapi ngurus anak gak OK? Mau memberhentikan hanya karena bau badan padahal kerjanya bagus, atau lebih memilih sebaliknya? Saya? Sebaliknya dong yaaa….susah tau dapat ART yang kerjanya bagus, sayang sama anak kita plus dapat dipercaya. Mana ada manusia yang sempurna. Kalau si bos tadi mengharapkan dapat yang bagus, plus badannya bersih wangi ditambah paras cantik mirip Raisa, ya wasalam……..Ya selalu ada kekurangan dong. Berdamai saja dengan kekurangannya yang di luar perihal pengasuhan anak itu. Kecualiiiiii…..misalnya kekurangannya itu parah banget banget ya boleh deh kita duduk bareng diskusi mencari solusi. Kayak misalnya ARTnya kerja rumah tangganya bagus tapi main hape melulu pas lagi handle anak. Itu case lain, pembahasannya juga bukan di sini 🙂
  4. Soal me-time nya mereka. Ada beberapa cerita yang saya dengar tentang peraturan ke ART di rumah lain. Hanya boleh jalan-jalan bebas kalau Sabtu dan Minggu pas si bos juga libur dari kerjaan. Ada pula yang …yah lagi asik-asik main ke rumah kerabatnya, belum ada satu jam udah diteleponin melulu sama si bos, ditanya udah di mana, mau pulang jam berapa dll dll. Dan ada pula yang justru Sabtu-Minggu kudu ikutan jalan ke mal atau tempat rekreasi lainnya, karena diserahi urusan handle anak. Kalau di rumah saya gimana? Selama saya dan suami sudah ada di rumah dan anak sudah ada yang handle, ART silakan banget kalau mau jalan-jalan ke mana pun dia suka. Di dekat rumah saya setiap malam Senin ada pasar malam (pedagang-pedagang pada buka lapak aneka macam barang-barang dengan kelas middle down, termasuk ada odong-odong untuk anak-anak bermain. Ramai lah pokoknya). Begitu malam Senin saya tiba di rumah, dan ART minta ijin untuk main sama teman-temannya ke pasar malam itu, sok mangga. Bahkan kalau dia gak jalan ke pasar malam, justru saya yang suka tanya “lho mbak malam ini kok gak ke PM (Pasar Malam)?”. Pun ketika hari Sabtu atau Minggu tiba dan kebetulan saya liat ART saya diam di rumah aja, malah saya yang rusuh nanya-nanya kenapa dia gak main ke rumah saudara atau kerabatnya atau sekedar hang out ngebakso sama teman-temannya? Saya juga tidak pernah memaksa ketika saya pergi ke suatu tempat (mal atau berkunjung ke manapun) ART wajib ikut untuk bantu urus  anak-anak. Jadi kalau Sabtu-Minggu kami pun punya jadwal masing-masing. Tiap mau pergi-pergi saya selalu bilang : “mbak saya mau pergi ke X, kalau mau ikut monggo, enggak juga gak papa mbak”.
    Ketika ART ijin ngelayap keluar, kami (saya dan suami) gak pernah neleponin atau sms menanyakan jam berapa pulang dan lain-lain. Terserah dia mau pulang, atau bahkan menginap sekalipun selama masih dalam koridor hari libur, monggo. Pernah waktu itu dia nginap di rumah saudaranya yang menjadi ART di tempat lain. Si bos di tempat itu bertanya: “emang gak papa ya mbak dibolehin sama bu Imel nginep?” ART saya tertawa sambil menjawab enggak apa-apa pake banget. Ada yang tanya: “lho emang kamu gak repot Mel ga dibantuin ART ngurus anak dua gitu?”  Alhamdulilah enggak, kan kerjasama dengan suami kata kuncinya 🙂
  5. Tamu ART adalah tamu kita juga. Seringkali ART saya mendapat kunjungan dari saudaranya atau kerabat yang terkadang juga sama-sama berprofesi ART. Perlakuannya? Sama kalo kayak saya yang kedatangan tamu. Langsung buru-buru disajikan minuman, makanan, disuruh leha-leha dan santai-santai (karena kadang perjalanannya jauh dari rumah), malah kadang saya tawari nginap di rumah. Pun ketika waktu makan tiba, sang tamu juga ikut menikmati makanan yang kami makan. Bahkan saking akrabnya, dulu ada bekas ART saya, sekarang sudah pulang kampung karena menikah dan gak balik-balik lagi ke Jakarta, tapi saudaranya si bekas ART ini rutin berkunjung ke rumah kami. Sekedar silaturahmi, ngobrol, malah kalau anaknya ulang tahun tak lupa kami dikirimi nasi kuning selametan. Dan ketika si saudara ART ini menikahkan adik iparnya, kami pun diundang. Padahal hubungannya jauh ya? ART saya udah kemana tau, kami masih berakrab ria dengan saudaranya hehehe….. 🙂
  6. Kalau yang nomor enam ini kayaknya gak perlu terlalu banyak dibahas, karena rasanya berlaku jamak di banyak rumah tangga. Bahwa apa yang bos makan, ART juga makan. Saya masak yang mahal-mahal selevel kepiting saos Padang misalnya, ya ART juga ikutan makan. Meja makan di rumah saya meja umum, siapapun boleh ambil lauk dari situ. Bebas. Makanan yang dibatasi ya palingan yang benar-benar kebutuhan si kecil, misalnya susu UHT anak saya yang bungsu, itu udah hak mutlak si kecil, orang lain gak boleh ikut campur termasuk saya dan suami.

Moral story dari postingan ini: ART sama seperti kita, manusia yang butuh dihargai juga. Kita yang working mother dan father ini menitipkan nyawa dan keselamatan anak kita ke mereka, dengan gaji yang tidak seberapa, mulai dari pagi berangkat kerja hingga malam kita pulang ke rumah. Hendaknya kita perlakukan mereka tanpa membeda-bedakan. Sekali lagi, ini based on experience saya ya. Mungkin bisa berbeda di tiap rumah tangga. 🙂

#JustMyTwoCents

Advertisements

6 thoughts on “Soal Menghargai ART

  1. heywabbit says:

    HOLLA! *harus banget kepslok*

    Iya ih, dari dulu gak suka pakein mbak seragam gitu, kayak apaan aja. (apaan?) (gak tau deh)
    pertama ikut aku, mbaknya Kara serampangan bajunya eh masuk setengah tahun dia pake jilbab, seneng liatnya. suka tak beliin jilbab gitu.

    Terus dia dulu agak suka bau apek, ternyata bajunya dicuci pake tangan aja dong.. Zzz, terus tak suruh cuci pake mesin dan udah gak pernah bau apek lagi. YAY!

    Dan sabtu minggu emang dia libur, kecuali aku butuh bantuan dia banget baru tak mintai tolong. Kalo ternyata dia mau pergi, ya aku minta tolong mama :p
    Tapi waktu itu pernah ku-SMS karena dia jalan sama kenalan baru sampe jam 11 gak pulang, padahal masih punya pacar – bandel bener! kan aku di rumah deg2an, wong gak kenal sama cowok selingkuhan ini :)))
    udah kayak emaknya, abisnya ikut sejak umurnya 17 taun.

    Like

    • imeldasutarno says:

      Haiii mbak Tasha. Seneng ih ama kepsloknya *salahPembahasan*. Iya, kalo bahas ART gak ada abisnya ya mbak. Intinya gimana kita masing-masing bisa menghargai dia (dalam berbagai hal) dan sukur2 sudah menganggap dia sebagai keluarga banget. Waah mbaknya Kara masih cilik yo, serem juga kalo dibawa lari ama selingkuhannya. Kalo mbaknya anak2ku kebetulan usianya udah 30 ke atas, sudah SMA anaknya jadi insya Allah aman walaupun misalnya jalan ama kenalan baru (ih biar udah 30an dia mah masih loh suka kenal-kenalan lewat Facebook dan sejenisnya kakaaaa….). makasih udah baca ya mbak. Maaf kalo jawabannya enggak nyambung sama komen mbak, secara deg2an dan amazing ternyata postinganku ada juga yang baca. Jadi udah salting berat duluwan, akhirnya gemeter dan gak nyambung jawabannya. hihihih *ngikik malu*

      Like

  2. santi says:

    Mbak di rumah lebih hebring sama lebih galak dari nyonya rumah, mbak.. Hihihihi 😀 . Tapi beberapa bulan ini lagi galau gara2 suaminya balikan sama istri pertamanya, mba 😦 *puk puk si mba

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s