Hidup Sederhana Berkat Kejujuran

Usia saya sekarang sudah mau masuk kepala 4. Harusnya di usia seperti ini, sebagai working person yang terima gaji bulanan, saya udah mapan dan berkecukupan ya? Tapi kenyataannya…..pergi ke luar negeri pun saya belum pernah, naik haji apalagi. Lho kok dua hal itu yang kesebut?

Iya, karena dua point itu salah dua dari indikator yang paling gampang dicerna logika manusia manapun mengenai kekayaan harta seseorang. Ke luar negeri apalagi naik haji membutuhkan dana yang tidak sedikit. Semurah-murahnya tiket pesawat di jaman sekarang untuk vacation ke luar negeri, minimal ke negara tetangga macam Singapura atau Malaysia, ya tetep dong biaya penginapan+makan+jajan dll kan tetep mahal karena hitungannya udah bukan Rupiah ya 🙂

Ini saya sebagai seorang anak. Lha orangtua saya gimana? Bapak adalah seorang pensiunan pegawai negeri. Pangkatnya di Kementerian saat ia masih berdinas lumayan tinggi. Golongan IVA. Sejujurnya saya gak begitu paham dengan pembagian golongan ini, namun yang jadi petunjuk bahwa itu lumayan tinggi adalah coverage asuransi kesehatan bapak sampai saat ini ia sudah pensiun, di mana kalau misalnya mau rawat inap di RS ia bisa masuk ke kelas 1 ke atas.
Nah bapak saya pun hingga saat ini di kala usianya sudah menginjak 70 tahun, ya masih hidup dengan sangat sederhana. Rumah keluarga kami pun bukan rumah yang tergolong apik. Sederhana saja, dan sebenarnya sangat butuh dicat sana sini karena sudah terlihat kusam.

fb_img_14478888632507158_2

bapakku pahlawanku

Sewaktu bapak masih aktif bekerja, sering ibu bercerita kalau bapak ditekan oleh almarhum pakdhe saya (kakak bapak): “Lho kamu itu Tar (nama bapak saya), hidup di lahan basah, jadi Kepala Bagian. Kok yo ndak kamu manfaatkan? Hidupmu bisa lebih baik harusnya!” Begitu kata-kata pakdhe ke bapak saya. Dan bapak hanya menanggapinya dengan senyum. Lahan basah apa sih? Sebagai kepala bagian, setiap kali ada proyek yang masuk ke kementerian, biasanya vendor akan memberikan semacam gratifikasi dong ya, supaya si proyek berlangsung mulus. Nah idealnya, kalau bapak sedikit-sedikit ngumpulin gratifikasi dari puluhan proyek yang harus melewati dan diapprove beliau, …bayangkan bagaimana kayanya bapak secara instant! Mungkin dalam waktu singkat saat itu kami sudah bisa memiliki rumah tingkat dan mobil pribadi yang cukup berkelas.
Bapak selalu menolak untuk melakukan hal tersebut. Filosofinya sederhana dan selalu ia ajarkan kepada kedua anaknya. Melekat erat di saya dan kakak saya hingga detik ini: Ingatlah bahwa perbuatan yang tidak halal, yang tidak jujur, sekecil apapun, seerat apapun kita sembunyikan dari semua orang……malaikat akan selalu mendampingimu dan mencatat amal perbuatanmu. Maukah kalian biarkan malaikat mencatatnya dan membuat buku amal burukmu lebih berat dibanding sebaliknya? 

Intinya menjadi jujur. Jujur untuk tidak menerima gratifikasi, suap atau apapun namanya. Biarlah tak punya harta berlimpah asal apa yang dipunyai adalah harta yang halal. Dan itulah yang membuat bapak sampai detik ini hidup dalam kesederhanaan, karena dia hanya hidup dan menghidupi anak istrinya dari gaji bulanan plus tunjangan saja, tannpa embel-embel lainnya. Gak perlu diceritain kan ya berapa penghasilan seorang pegawai negeri sipil di negeri ini? 🙂

honesty-300x191

gambar dari sini

Ajaran bapak ini juga yang membuat saya hidup seperti sekarang ini. Karena selalu terngiang pesan bapak, sedikit saja saya berada dalam kondisi yang berhubungan dengan gratifikasi, rasanya gelisah, risih, dan selalu dibayang-bayangi ketakutan. Pernah saya bekerja di sebuah agency iklan dan kemudian vendor yang berhubungan dengan saya membelikan seperangkat CD Player yang keren (untuk ukuran tahun 2000 saat itu) sebagai ucapan terima kasih karena projectnya goal di perusahaan saya. Rasanya detik itu juga ingin sekali menolak dengan ucapan terima kasih saja, tapi mereka terus memaksa dan mereka bilang ini oleh-oleh mereka pulang dari Singapura jadi saya jangan menganggapnya macam-macam (waktu itu proses editing video iklan kantor saya memang dilakukan di Singapura tapi saya enggak berangkat, yang berangkat bagian kreatifnya+vendor saja). Padahal saya tauuuu banget apa maksud dari pemberian CD Player itu.

Pun saat ini, ketika saya ditugaskan untuk membantu di bagian rekrutmen. Saat beberapa saudara atau temannya teman saya (ribet amat ya hubungannya hahaha) melamar dan berhasil mendapatkan pekerjaan di kantor saya, beberapa di antara mereka berusaha memberikan saya ini itu, termasuk uang sebagai ucapan terima kasih. Namun dengan halus saya tolak. Padahal kalau dipikir, hal ini kan bisa jadi pemasukan sampingan ya buat saya. Lumayan kalo dikumpul-kumpul bisa buat pergi honeymoon kedua sama suami hehehe…..

nogratifikasi2

gambar dari sini

Pada akhirnya saya sangat berterima kasih pada ajaran bapak. Kejujuran yang berakibat pada sederhananya hidup ini, buat saya merupakan anugerah tak ternilai, dan membuat hidup terasa jauh lebih tenang bagai tanpa beban. Semoga Allah senantiasa mencukupkan rezeki kami melalui pintu-pintu rezeki yang senantiasa halal. Terima kasih bapak telah membuatku bangga dan bisa menyematkan slogan “AKU ANAK JUJUR” di dada ini.
Alhamdulilah……

*tulisan ini diikutsertakan dalam KOMPETISI BLOG ANAK JUJUR 2016

Advertisements

4 thoughts on “Hidup Sederhana Berkat Kejujuran

    • imeldasutarno says:

      mba makasih udah baca ya….ini postingan ala ala buat ngeramein kontes doangan hehe. Iya amiiiin mudah-mudahan ortu kita semua sehat terus ya mbak dan kita anak-anaknya tetap bisa menjadikan mereka suri teladan nomor satu, sampai akhir hayat kita nanti, amiiiin….

      Liked by 1 person

  1. penulismalas says:

    Ngomong-ngomong soal jujur, emang hal ini paling susah dilakuin disaat orang punya kesempatan dan peluang untuk berlaku curang trus yang bisa lakuinnya mmg hanya orang2 yang teguh pendiriannya.. ya untuk tetap jujur.. bagus mba tulisannya

    Like

    • imeldasutarno says:

      wah makasih complimentnya ya mbak, gak nyangka ada yang muji tulisanku hehe….maklum bukan bloher pro, makanya pas baru dipuji sekali langsung rasa bangga gimanaaaa gitu. Iya mbak, teguh pada pendirian dan keingetan sama malaikat yang 24 hours slalu bersama kita, itulah “pagar”nya untuk gak keluar dari kejujuran. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s