#TUMNgopiCantik : Karena Pujian Bisa Menjadi Bahaya

“Wah gambar kamu bagus banget deh. Mama bangga banget liatnya..!

“Ih pinter maemnya. Ini baru namanya anak bunda.”

Pujian ke anak.

Sudah pasti semua orangtua sering banget memuji anaknya sendiri, dan juga anak orang lain yang memang mengerjakan sebuah aktivitas yang membanggakan.
Sangat penting untuk mengeluarkan kata-kata pujian karena hal tersebut bisa merupakan bentuk penyemangat bagi anak. Di samping itu, pujian berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Namun, tersimpan bahaya tak terduga dalam sebuah kalimat pujian. Wah, apakah itu?

Dalam acara #TUMNgopiCantik yang diselenggarakan TheUrbanMama pada tanggal 4 Maret lalu, saya tersadarkan akan bahaya ini.

16583244_608337466026610_3160843484563243008_n

Gambar dari theurbanmamacom

Bukan hanya saya, namun juga semua peserta acara. Narasumber yang memaparkan materi adalah Kang Adhitya Mulya, penulis novel sekaligus pemerhati di bidang parenting. Memulai acara dengan menjelaskan bahwa acara ini adalah sharing, sebab Kang Adhit bukanlah seorang psikolog, bukan expert, tapi sama-sama orangtua, seperti semua peserta yang hadir di acara yang diselenggarakan di Eat n Eat FX Sudirman itu.
Lalu balik lagi ke topik, kenapa sih pujian bisa berbahaya?

Orangtua adalah otoritas tertinggi di mata anak, terutama jika sang anak masih kecil. Oh iya, yang dimaksud kecil di sini bukan bayi atau batita ya. Tetapi anak yang sudah bisa membedakan makna dipuji dan diledekin. Anak yang usianya mungkin 4 tahun ke atas. Nah, jika satu saat otoritas tertinggi ini melakukan hypnosis berupa memuji, maka hal itu yang akan terus tertanam dalam benak anak.
“Kamu cantik banget deh nak.”
“Duh papa senang punya anak jago main basket kayak kamu.”

Memuji suratan seorang anak akan menyebabkan self perception anak akan terbangun dan mereka akan merasa bahwa sejak lahir mereka sudah superior. Dan yang lebih bahaya adalah: mereka sudah superior tanpa harus melakukan usaha apapun.

“Gak  ngapa-ngapain aja ortu gue bilang gue cantik kok.”
“Gak belajar aja ortu udah muji kalo gue pinter kok. Ah santai ajalah biar kata besok mau ujian ini.”

Risiko-risiko yang mungkin timbul adalah:

Risiko 1:
Anak akan takut untuk mencoba. Karena mindsetnya sudah terbangun: “gue kan udah pinter, gak pernah gagal apalagi di mata ortu gue.”
Kalau saya gak usaha, ya saya gak akan gagal dong. Kalo saya gak pernah nyoba, saya pun gak akan gagal. Contoh gampang di sekitar kita: banyak anak-anak yang bisa naik sepeda. Begitu satu kali jatuh, udah deh dia gak mau main sepeda lagi. Udah parno jatuh duluan soalnya. Udah sebel sama yang namanya failed.
Seorang pengarang buku bernama Gross Loh pernah memaparkan sebuah test yang dilakukan di dua kelas yang masing-masing terisi dengan jumlah murid yang sama. Kedua kelas ini diberikan soal-soal Matematika. Lalu pujian yang dilontarkan ke masing-masing kelas juga berbeda kalimatnya. Setelah semua murid selesai mengerjakan tugas, maka kalimat yang diberikan:
Kelas pertama: “Kalian semua pinter deh sampai bisa nyelesaiin semua soal ini.”
Kelas kedua : ” Wah kalian pasti sudah berusaha belajar semalaman ya, makanya berhasil menyelesaikan semau soal-soal ini.”
Setelah diberi pujian, kedua kelas ini diberikan tes sekali lagi dengan soal-soal yang sama untuk masing-masing kelas. Hasilnya?
Kelas pertama banyak yang failed, sementara di kelas kedua hampir semuanya sukses. Rupanya cara menghypnosis via pujian bisa berdampak berbeda. Kelas kedua semakin bersemangat belajar dan merasa bahwa effort adalah satu hal utama yang paling diperlukan untuk meraih kesuksesan. Kalaupun mereka ada yang gagal, mereka gak menyerah. Bangkit lagi, usaha lagi, sampai membuahkan hasil. Mereka menghadapi test kedua dengan semain giat belajar lagi. Cuma modal bilang “berusaha belajar semalaman” dampaknya sudah cukup wow ya?

Risiko ke 2:
Anak bisa cepat frustasi karena gagal, walaupun gagalnya untuk hal yang remeh temeh. Karena mindset dia sudah terbangun dengan pujian bahwa ia pintar, ia ganteng, cantik, jago, dan lain-lain, satu saat dia berada dalam kondisi kebalikan dari semua terms tersebut, ….dia gak bisa terima.
Kang Adhit bilang bahwa di USA ada case study yang hasilnya bahwa banyak siswa bunuh diri akibat tidak mentolerir kegagalan. Ketika mereka superior di SMA, lalu ketika menginjak bangku kuliah ternyata ada mahasiswa lain yang bukan berasal dari SMA yang sama dan lebih unggul, mereka pun tak sanggup menerima kenyataan itu. Serem ya dampaknya.

Risiko ke 3:
Dipuji=dicintai. Tidak dipuji=tidak dicintai. Anak yang haus pujian akan merasa bahwa pujian adalah satu-satunya validasi keberadaan dirinya. Padahal, semakin besar anak, suatu saat dia akan berada pada kondisi di mana tidak seorang pun memuji dirinya. Anak jadi tidak terlatih untuk belajar menghargai proses yang sedang ia lakukan. Kita kan gak mungkin memuji anak seumur hidup loh. Contoh yang paling gampang: suatu saat setelah anak lulus kuliah dia akan masuk dunia kerja. Tau sendiri kan kalau di dunia kerja apalagi kalo kita masih jadi trainee newbie? Selalu akan ada manajer atau senior yang memberi pressure ke kita. Alih-alih pujian, kita malah disuruh ditekan untuk lebih bekerja keras lagi, dan kalau salah ngerjain ya dimarah-marahin. Alih-alih dipuji, hasil kerja kita malah dikritik pedas, dinyinyirin sampe yang paling parah dimaki-maki.

P_20170304_105228-600x1067

Kang Adhit memaarkan materi secara santai. Kita yang dengerin jadi nganga kaget huhuhuhu…..

Lalu apa summary dari pemaparan ini?

1. Memuji anak boleh dan hal yang amat wajar, tetapi package lah kalimatnya menjadi kalimat yang membuat anak merasa bahwa yang kita puji adalah effortnya, bukan suratannya.

2. Jika effort yang dipuji, anak akan confidence bahwa perkara apapun di dunia ini bisa dikerjakan kalau kita mau berusaha. Berusaha artinya ada proses di sana. Orangtua bantu anak untuk menghargai proses itu via kalimat pujian.
Sebaliknya jika kita puji suratannya, anak akan tumbuh dengan selalu merasa bahwa ada yang lebih superior dari dirinya. Dia hanya berkutat di situuuu saja dan gak pernah ngerti yang namanya berusaha itu apa. Bukan tak mungkin dia sebentar-sebentar akan merasa tertekan, takut untuk gagal, dan ujung-ujungnya hidu dalam depresi. Hiii sereeem…

3. Buatlah kalimat pujian yang juga disertai pemahaman bahwa gak setiap saat orang harus memuji dia. Kang Adhit memberi contoh ketika ia ngobrol sama anaknya sendiri yang sudah kelas 5 SD. Dia memberi pemahaman: “kurangi mindset bahwa kamu terlahir keren.” <— wahahaha lucu juga ya. Terus ada lagi contoh lain: ” kamu mungkin tidak terlahir setinggi langit, tapi kamu bisa terbang setinggi langit jika kamu berusaha.”
Atau:  “kamu liat kan orang itu jago banget main piano? Dia gak  tiba-tiba jago loh, tapi dia itu sejak lahir gak pernah berenti belajar.”

4. Last but not least: bahasa yang digunakan disesuaikan dengan usia anak ya. Seperti contoh ketika Kang Adhit ngobrol sama anaknya yang kelas 5 tadi. Bahasa seperti itu belum bisa diterapkan ke anak usia TK atau kelas 1 SD tentunya. Bisa jadi malah bengong pas diajak ngobrol soal mindset begitu hehe. Nah pintar-pintarnya kita deh sebagai ortu belajar mengemas kalimat buat anak 🙂

Jadi orangtua memang gak ada sekolahnya. Seumur hidup kita harus terus belajar bagaiamana cara mendidik anak. Iringi dengan berdoa dan berusaha. Kita ingin anak kita menjadi anak yang berdaya, anak yang tangguh menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, bantu ia dengan memberikan pujian untuk setiap effort dan proses yang ia lakukan. Bukan lagi sekedar memuji yang tersurat.
Nah, sudahkah Anda memuji anak  hari ini ?

signature

 

Advertisements

One thought on “#TUMNgopiCantik : Karena Pujian Bisa Menjadi Bahaya

  1. Hastira says:

    makasih sharingnya , jadi aku dapat ilmu juga, tp dulu aku jarang muji anakku, wong aku kata orang pelit ngasih pujian dlm hal pekerjaanku

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s