Anak Menginap di Rumah Sepupu, Ada Etikanya Juga Lho….

Libur kenaikan kelas memang selalu panjang. Satu bulan full. Dari zaman saya sekolah dulu sampe sekarang ya gak berubah. Lha terus satu bulan bocah lanang ngapain aja dong di rumah? Bosen pastinya karena ortunya juga dua-duanya kerja, jadi mau wisata ke mana-mana juga terbatas waktunya.

Untungnya semakin hari , Alun semakin mandiri seiring bertambahnya usia. Saya tantang dia untuk menginap di rumah kakak sepupunya sekaligus rumah nenek di Bogor. Kan asyik tiap hari gak bosen karena ada teman main.
Waktu usianya masih 7 tahun, Alun masih belum berani. Ragu-ragu. Dan selalu bilang kalau ibunya mesti ikut kalo dia nginap. Dia belum pe-de. Waduh yo ndak iso tho, le. Kan ngantor mbokmu iki.

Akhirnya dia berani. Eh giliran anaknya udah berani, emaknya yang kaget “lha kok dia berani?” Hahahaha…emak-emak labil skali ya saya? Akhirnya dengan berusaha menyimpan semua kecemasan saya, saya izinkan dia menginap.

Kenapa saya kok banyak cemasnya? Karena Alun ini bukan anak yang 90% dirawat sama nenek kakeknya. Waktu bayi sempat ikut merawat tapi itupun sangat jarang-jarang, karena rumah saya di Jakarta dan ngantor sementara nenek kakeknya di Bogor. Paling ketemu juga kalo pas kami sekeluarga lagi silaturahmi ke rumah nenek kakeknya. Otomatis hampir 100% hidup Alun dihabiskan dengan ortu dan pengasuhnya/ART. Semua habit, attitude, dan lain-lain ya yang paling tau emak bapaknya. Itu dia yang bikin saya rada cemas meninggalkan dia di rumah sepupu dan selama menginap akan dibantu pengurusannya oleh nenek, kakek dan aunty-nya (kakak saya).

Biasanya kalau ada yang datang menginap, walaupun cucu sendiri, sudah pasti diperlakukan seperti tamu. Dijamu, walaupun tidak dengan formalitas tinggi. Anak kecil begini, udah pastilah gak jauh-jauh dari dijajanin sama neneknya, dimasakin makanan apa yang dia inginkan, plus ditraktir jalan-jalan sama aunty-nya. Udah jamak kayaknya ini di tiap keluarga ya? hehe.

Nah, lalu apa yang seharusnya saya lakukan untuk menghadapi aktivitas anak menginap di rumah saudara begini? Ketimbang ngegedein rasa cemas, maka saya berusaha melakukan hal-hal berikut:

1. Nasihati anak bahwa walaupun ia akan tinggal bersama nenek kakek atau tante dan om, anak tidak boleh sewenang-wenang. Tetap harus manut, harus sopan, dan mandiri.  Jika nenek hanya masak orek tempe ya sudah makan saja, jangan ngelunjak minta ayam goreng. Jika nenek nyuruh mandi sore ya jangan ngelawan. Jika habis main dan berantakan ya diberesin. Intinya tidak boleh menyusahkan pihak keluarga yang ditempati.

2. Nasihati anak agar tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan minuman serba manis (minuman soda, minuman dan makanan berperwarna, cokelat, es krim) dan makanan dengan banyak bumbu penyedap (chiki-chikian, mie instant) selama menginap. Senangnya sesaat, setelah seminggu dan balik ke rumah, di rumah malah sakit gara-gara makanan. Sudah gak asing lagi ya kita dengar anak sakit entah radang tenggorokan, muntah, dan lain-lain akibat kebanyakan makan dan minum seperti yang saya sebutkan di atas? Konsumsi boleh, tapi benar-benar dibatasi. Gak lucu kan kalo kelar nginep seminggu, pas pulang ke rumah bukannya senang tapi malah tepar karena sakit?

3. Walau menginap di rumah saudara sendiri, lengkapi anak dengan peralatan miliknya sendiri. Mulai dari baju ganti, alat mandi, alas kaki sampai peralatan spesial, misalnya popok sekali pakai (jika anaknya masih kecil/bayi). Jangan mentang-mentang sepupu sendiri, trus apa-apa boleh asik-asik join mulai dari sabun mandi sampe handuk. Huhuhuhu…big no no. Dengan melengkapi semua peralatan sendiri, secara tidak langsung anak diajarkan bahwa aktivitas menginap ini membutuhkan preparation yang tidak mudah.

4. Tinggalkan uang secukupnya sebagai bekal anak, kepada nenek/kakek dan om/tante. Mungkin mereka terlihat tersinggung, tapi percayalah jika anak kecil menginap itu cenderung boros. Kegembiraan bisa berkumpul dan bermain dengan sepupu-sepupunya biasanya berujung/dirayakan dengan banyak jajan. Memang case uang ini sensi deh. Nenek/kakek atau om/tante sudah pasti merasa sangat mampu kalo cuma membiayai jajan bocah-bocah, apalagi ini darah dagingnya sendiri. Iya kalo cuma sehari dua hari. Kalo nginepnya seminggu atau 10 hari? Menurut saya akan jauh lebih baik lagi jika kita tidak mengabaikan bekal uang ini. Jika nenek/kakek menolak, coba omongkan pelan-pelan tanpa menyinggung perasaan mereka.

5. Tinggalkan pesan pada keluarga yang diinapi tentang habit spesial dan pantangan anak kita. Hal ini penting agar mereka tidak kaget dan bisa menyesuaikan. Contoh: anak saya sudah tidak mengompol kalau tidur. Tapi beberapa kali “kecelakaan” juga. Kapan kejadiannya? Kalo dia kecapean banget main seharian, biasanya masih suka “kecelakaan.” Atau misalnya anak kita alergi seafood. Nah dari awal sudah harus menginfokan ke keluarga yang diinapi supaya enggak dibuatin cumi asam manis sebagai lauk makan 🙂

Menginap di rumah sepupu memang menyenangkan. Walau demikian jangan lupa bahwa sekalipun hanya anak kecil yang menginap, tetap ada etikanya ya. Jangan sampai sesudah menginap malah ada konflik-konflik kecil tak sedap antar keluarga hanya gara-gara kita mengabaikan etika tersebut.

Jadi, sudah siap untuk menginap?
signature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s