Bagai Dengungan Para Lebah

Gimana judulnya? Udah puitis belum? Hahaha…..Padahal aslinya gak demen bikin puisi euy. Cuma mau ngobrolin soal pertemuan, perkumpulan, atau apapun nama acaranya, yang menghadirkan para pendengar dan pembicara.

Pernah gak temen-temen menghadiri misalnya seminar, atau pertemuan orang tua murid di sekolah, atau acara sejenis? Terus di acara itu kita ada di posisi penonton atau pendengar, sementara ada satu atau dua orang bergantian di depan menjadi nara sumber/pembicara? Iiih udah pasti pada gak asing ya sama aktivitas beginian, yang mungkin sering dialami sehari-hari.

Nah saya mau cerita beberapa waktu lalu saya juga menghadiri semacam acara pertemuan ortu di sekolah anak. Setelah mengisi daftar hadir, lalu mendapat snack dari panitia, dan diakhiri masuk ke ruang pertemuan dan duduk manis. Karena sekolah anak saya sekolah Islam, jadi tempat duduk bapak-bapak dan ibu-ibu dipisah.

Semakin ramai yang datang. Perlahan tapi pasti para ibu-ibu saling ngobrol. Udah pasti dong ya, saling silaturahmi, ngobrolin soal anak-anak, dan segala rupa lah. Namapun ibu-ibu. Berhubung saya bukan emak-emak yang tiap hari nongol di sekolah, praktis eikeh ga punya temen deket. Ditambah pas datang kan gak bersamaan dengan ibu-ibu teman akrabnya anak, jadi dudukpun gak bisa berada dalam satu deret gitu hehe. Sempet sih mata saya melanglang buana ke sana ke mari nyari-nyari sesama ibu yang udah akrab, tapi gak nemu-nemu. Ya udah sendirian aja deh.

Suara obrolan dari ibu-ibu lain, perlahan namun pasti semakin ramai. Suaranya bagai dengung lebah.
Pemateri mulai memberikan materi presentasinya. Ibu-ibu tak kunjung diam. Saya bagai terasing di tengah-tengah taman berisi banyak lebah. Kiri kanan depan belakang ngobrol kabeh sendiri-sendiri. Saya bahkan gak sanggup menangkap apa yang disampaikan pemateri, karena dengung itu semakin menjadi. Kebetulan pemateri pertama ini gaya presentasinya cukup flat, terutama intonasi suaranya. Mungkin ini salah satu faktor yang membuat para ibu kurang tertarik.

Seringkah kalian berada dalam kondisi seperti saya? Dan di lain pihak, pemateri nampaknya tidak berani mendiamkan dengungan itu, karena bisa jadi pemateri gak mungkin berseru untuk mendiamkan para ortu dong. Dia akan merasa sangat sungkan/risih ditambah para ortulah yang membiayai semua uang sekolah masing-masing anaknya, termasuk membayar kehadiran sang pemateri. Beda cerita kalau yang dikumpulkan di ruangan itu adalah murid-murid, dan yang berbicara di depan adalah pak/bu guru,ย  lalu mereka semua membentuk dengungan yang semakin keras, dan di saat itu juga guru berseru untuk mendiamkan mereka semua.

Mau ngomong baik-baik juga mungkin doi udah jiper duluan bakal dinyinyirin sama para ortu. Huhu…serba salah ya.

Setelah pemateri pertama usai, pemateri kedua tampil, dan jelas-jelas beliau sempat bercanda: apakah saya yang akan ngomong di depan sini, atau ibu-ibu yang mau menggantikan saya? Tentu beliau mengucapkannya sembari tersenyum manis. Namun sayang para ibu nampak tak terlalu menggubris. Huhuhu……aku pun tak mendengar lagi apa yang disampaikan pemateri kakaaaaa…. (kebetulan saya duduknya agak di tengah bukan paling depan).

boy-666803_960_720

ooooh daku speechless (gambar dari pixabay)

 

Nah sering juga kondisi yang terjadi seperti ini: kita pengen banget denger bahan yang disampaikan pemateri, namun apa daya dapat duduk sederetan sama ibu-ibu teman akrab anak kita. Maka mulailah ngobrol sendiri, yang mau gak mau saya pun terseret dalam obrolan tersebut. Apalagi jika ibu-ibu tersebut emang tipe doyan ngobrol. Duh, mau meminta si ibu untuk sedikit diam agar bisa menyimak materi, eikeh sungkan bok. Dan saya pun hanya bisa pasrah. Sembari sesekali curi pandang ke arah panggung melihat si pemateri, dan juga melayani obrolan ibu-ibu sebelah saya. Multitasking euy.

Semua kondisi kedua ilustrasi di atas bikin serba salah ya? Mau sok-sok mendiamkan dengung lebah dengan mengeluarkan suara “Sssssttt….!” yang keras, kok nanti dicap sotoy ya? Tapi didiamkan juga rugi di kitanya, engga tau apa yang disampaikan pemateri. Ndilalahnya, ini hampir selalu terjadi pada ibu-ibu atau kaum wanita. Sementara para bapak-bapak cenderung lebih bisa diam, entah karena jaim untuk ngobrol sesama pria, atau memang mereka merasa selayaknya ya diam menyimak yang berbicara di depan.

Mungkin nextnya kalau menerima undangan untuk menghadiri acara-acara pertemuan, seminar, dan sejenisnya, datang paling duluan kali ya, supaya bisa duduk paling depan. Setidaknya sampai saat ini itulah solusi yang kepikiran.
Atau ada solusi lain dari temen-temen? Dishare yuks, lumayan buat bekal kalo pas ada pertemuan lagi.
signature

Advertisements

7 thoughts on “Bagai Dengungan Para Lebah

  1. Audrie says:

    Bisa jadi solusimu itu yang paling mudah dilakukan ya. Kalaupun mau coba negur grup lebah itu, mungkin bisa agak manis aja caranya kaya, “Maaf Bu… Itu pembicaranya udah mulai penjelasan materi lho.”
    Tapi biasanya sih teguran itu gak mempan. Kadang kupikir orang2 macam ini ambigu ye, ditegur baik2 gak mempan krn mental mereka biasanya setebal kulit badak Afrika, diliatin sinis malah bales mandang judes ala ibu tiri, ditegur agak pedes malah nyolotan dia. Lah situ maunye apeee Maliihhh *lempar kulit kacang*

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s