Ada Semacam Gap

Minggu lalu, saya nemenin pak bos di sebuah kampus di bilangan Jakarta Barat. Pak bos jadi Guest Lecturer, ngisi kuliah dengan presentasi soal Agency Life, Behind The Scene. Maksudnya creative agency behind the scene-nya tu aslinya gimana sih? Selama ini kan mindset millenials terutama yang baru pada mau lulus kuliah, kerja di agency itu seru. That’s it. Makanya pak bos kasih semacam pembekalan ke dedek-dedek mahasiswa bahwa yang dimaksud seru itu ya mesti pula diimbangi dengan aneka skill bla bla bla.

Nah biasanya ketika kami baru tiba di kampus tempat pak bos ngajar, gak langsung tiba-tiba tampil di depan kelas dong. Tapi sembari nunggu waktu, kami ngobrol-ngobrol sama dosen-dosen yang in charge di acara kuliah umum a.k.a panitianya.

Yang selalu saya perhatikan dari kampus ke kampus….rata-rata dosen yang diajak ngobrol nampak kurang bisa keep up the level of conversation dengan kami. Bukan meremehkan profesi dosen apalagi nyinyir. Yang saya maksud di sini begini: kemajuan teknologi kan udah luar binasa yah saat ini. Sementara ketika dosen diajak ngobrol soal kemajuan dunia digital dst dsb, mereka hanya bisa menjadi listeners dan iya iya aja, tanpa mengimbangi. Apa yang kami obrolin semacam baru diketahui sama mereka. Eh ga tau juga ya….jangan-jangan sebetulnya para dosen mah tau materi obrolan kami soal kemajuan teknologi tapi dalam hatinya ngebatin: “duh bacot bae yak ini orang-orang dari agency”. Wkwkwkwkwk…makanya mereka iya iya aja, dengan harapan conversation segera berakhir.

Ketika saya cerita soal ini ke suami, dia langsung bilang: ya iyalah. Praktisi lapangan a.k.a orang-orang agency kayak kalian yang sehari-hari makanannya ga jauh-jauh dari teknologi ya beda level sama praktisi akademisi kayak dosen. Mereka sehari-hari fokus pada kurikulum yang udah ditetapkan universitas. Kalopun mereka keep up the update about digital life ya mungkin dalam ranah personal, bukan sebagai akademisi.

Iya juga. Bener banget sih. Saya ngalamin waktu nemenin pak bos kesekian kalinya jadi dosen tamu, di salah satu kampus di Jagakarsa. Di situ seorang wakil dekan yang usianya sudah sepuh, mengeluhkan bahwa program kurikulum di kampus mereka sangat tertinggal, gak bisa ngimbangin kemajuan zaman. Contohnya program studi Komunikasi baik jurnalistik, humas maupun advertising, masih pake kurikulum lama. Ibaratnya kalo orang advertising tu, cuma fokus gimana cara bikin/eksekusi produksi iklan majalah/koran dan TV yang ciamik dan ningkatin awareness. Padahal di saat yang bersamaan, di luar kurikulum, dunia sudah berubah. Orang udah gak baca koran/majalah, cukup melototin YouTube tiap hari. Fotografi juga udah digantiin sama kamera HP yang makin ke sini makin kece mampus, mematikan sebaian besar kamera DSLR. Dan yang sedihnya lagi, karena masih berkutat dengan kurikulum lama, ketika ada salah satu mahasiswa yang meminta izin magang di perusahaan berbasis digital, dosen di kampus tersebut tidak mengizinkan…..karena ya bingung nanti mau bikin acuan penilaian Tugas Akhirnya kumaha, lha wong ga ada di kurikulum? Hiks hiks……

Ini kalo mau diobrolin soal majunya teknologi, bisa panjang buanget tulisannya. Saya fokusin ke kurikulum universitas aja ya, seperti prolog di atas. Memanglah nampaknya belum banyak universitas atau akademi yang segera memperbarui kurikulum demi mengimbangi zaman berbasis digital dan otomisasi saat ini.

Tadi pagi saya nonton di Berita Satu, ada in depth report soal perkembangan teknologi yang super eksponensial ini. Biasanya digunakan istilah Disruptive Innovation. Contoh-contohnya: ojek online kegeser Gojek sama Grab. Toko-toko di mall tutup lantaran mall online gampang banget diakses via hape. Tukang sayur juga udah mau mulai digeser “kedudukannya” karena beli bawang  merah aja udah bisa online dan terjamin kualitasnya. Di luar negeri tukang burger juga rada-rada cemas kegeser posisinya sama Foodienie, si mesin pintar pencetak makanan 3D.
Pak Rhenald Kasali bahkan sudah bikin buku versi Indonesia buat njelasin fenomena yang cukup wow ini. Nama bukunya Disruption.
Pak Rhenald bilang bahwa ada 3 periode yang dilalui manusia yaitu the past, the present and the future. Ndilalahnya, kampus saat ini mengajarkan mahasiswa tentang apa yang berada di periode the present, padahal mahasiswa tersebut akan lulus dan bekerja di periode the future. Nah lo…gimana nyiapinnya dong kalo beda periode gitu?

Salah satu kampus yang sudah mulai bergerak menghadapi disrupsi ini adalah Bina Nusantara. Di situ ada loh jurusan Mobile Application Technology, yang baru buka di 2015 lalu. Lulusannya udah pasti siap bersaing untuk bekerja di lapangan pekerjaan berbasis digital dan teknologi. Walau tidak tau secara detail kurikulum dan mata kuliahnya, bisa dipastikan sehari-hari mereka belajar coding, bikin aplikasi, belajar bikin sistem e-commerce yang njelimet, dan masih banyak lagi.

Oh ya, FYI ke depannya, profesi yang terlihat keren di masa depan bukan lagi profesi kayak kita kecil dulu yaitu dokter, pilot dan arsitek. Tapi programmer. Karena nanti ketika hampir seluruh bidang kehidupan kita terotomisasi (dikerjakan oleh robot/mesin) dan serba hi-tech, ya programmer ini yang paling dibutuhkan untuk menjalankan sistem atau mesinnya. Sepuluh tahun ke depan, marilah kita liat, mau jadi apa nanti anak-anak kita ketika memilih jurusan saat kuliah dan persiapan masuk dunia kerja.

Eh jadi panjang bener ini tulisan. Udahan dulu ya…..mau back to work maning. Oiya yang mau liat in depth report yang tadi saya ceritain, monggo liat di sini:

signature

Advertisements

9 thoughts on “Ada Semacam Gap

  1. ndu.t.yke says:

    Nah makanya wahai anak2 SMA, klo mau milih jurusan kuliah, jg kudu diterawang: apa kira2 jurusan yg lulusannya bakalan jadi most-wanted di 7-10 tahun mendatang. Bagus tuh jurusan barunya BiNus.

    Liked by 1 person

      • dewi says:

        Anaknya temenku tu kuliah di Binus jurusan game.

        Game dan gadget.. Haduh saat ini aku tmasuk ortu yg msh jadul dan parno, pdh kt temenku ini di masa depan calon pekerja sdh harus disuruh main game. Iya, aki baru tau game jd salah satu penilaian test masuk di perushaan..

        Liked by 1 person

      • imeldasutarno says:

        ((JURUSAN GAME)). Sebuah jurusan yang kedengerannya bikin KZL karena pasti dikira tiap hari maen doang kerjaannya. Padahal sungguh njelimet ya bikin engine behind the game ituh.
        Lha aku malah baru tau mbak kalo ada test masuk perusahaan suruh main game gitu. Ya ya ya…kita orang zaman dulu kala berarti ya mbak

        Like

      • dewi says:

        hahahhaha.. iya kesel ya. dan kita mbahas, mikirnya hanya main game.. nggak taunya mumet bikin coding utk game..

        iya, itu di masa depan spt itu gambaran kira2 psikotes utk merekrut karyawan2 baru.. Bikin emak (baca: aku) galau deh hihi

        Liked by 1 person

  2. Melissa Octoviani says:

    hi kak, salam kenal, aku lupa pernah komen disini apa engga hehehehe… aku juga dulu kerja di agency, dan emang seru sih, cuma sayangnya aku ga kuat sama jam kerja mereka yang ga jelas… makanya cuma bertahan sekitar 2 tahun terus langsung resign sebelum married…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s