(sudah tua bangka) Kena Biduran

Bermula dari selesai menjenguk seorang teman di rumah sakit. Kurang lebih 6 hari lalu.
Sepulang menjenguk, saya menerapkan prosedur standar yaitu: langsung mandi dan keramas sebelum pegang anak-anak.

Baca juga: When Visiting The Patient….

Lalu setelah itu malamnya membantu anak mengerjakan pe-er. Perlahan namun pasti, mulailah pinggang saya gatal. Seluruh pinggang. Pas dilihat sudah ada bentol-bentol merah. Wah kok mirip orang biduran ya? Tapi ya diabaikan saja, karena kayaknya gak terlalu parah.

Besoknya….bukannya berkurang. Malah semakin parah. Bentol-bentol muncul di mana-mana: punggung, leher, perut, paha. Saya gak konsen kerja karena gatal. Sampai pukul 17.00 WIB di kantor, bagian belakang paha saya terasa super gatal, sampai terasa panas dan ditusuk-tusuk. Sampe saya ngerasa ada beberapa semut atau serangga di dalam celana panjang saya. Pas di kamar mandi dibuka pun ya gak ada serangga apa-apa, sementara sekujur paha udah full bentol persis kayak digigit ulat bulu.

Pulang ke rumah saya minta dibalurin bedak Herocyn sama pak suami. Ini mah fix biduran. Dan pak suami pun sibuk merunut: saya makan apaan sih kok sampe kena biduran begini?
Sebagai info: sejak kecil saya gak punya alergi makanan. Udang hayo, cumi hayo, ikan sungai hayo. Eits pernah ding biduran hebat pas usia 5 tahun…tapi itu gara-gara makan ikan hasil pancing bapak saya di sungai dan ikan tersebut enggak jelas, alias bukan ikan umum macam gabus, mujaer etc. Dan fix penyebabnya bukan makan seafood.
Akhirnya tebak-tebak buah manggis: jangan-jangan pas jenguk temen ke RS itu saya terpapar virus.

Dari situ, nyambi nahan gatal saya sibuk browsing cari tau segala hal terkait biduran. Dari situs kesehatan yang cukup valid, diketahui penyebab biduran adalah karena faktor alergi makanan, perubahan cuaca/gak kuat sama udara dingin, alergi debu ataupun serbuk sari.

Faktor makanan udah gak mungkin. Alergi debu juga kayaknya saya selama ini akrab aja sama yang namanya debu. Di jalan bolak balik naik ojek saban hari kena debu, plus debu-debu lainnya kayak dari AC, bulu binatang, dll, juga gak pernah ada masalah. Alergi serbuk sari? Dua hari ke belakang sebelum kena biduran juga gak deket-deket tanaman kok. Pak suami bilang, jangan anggap sepele. Mentang-mentang gak pernah alergi makanan dari kecil, trus siapa bilang udah dewasa menuju tua bangka begini alergi tersebut gak akan tiba-tiba timbul? Bisa aja gara-gara daya tahan tubuh ga kuat jadilah yang biasanya santai aja makan ini itu trus sekarang malah sensitif dan biduran? Sempet adu argumen kecil kami berdua gara-gara mempertahankan perndapat masing-masing begini.

Tengah malamnya biduran menjalar sekujur tangan. Gatal luar biasa. Saya bingung, gimana mau ke dokter? Kami lagi gak punya ART. Artinya kalau mau pergi ke dokter in the middle of the night…ya kudu ngangkutin 2 bocah cilik ke mobil alias boyongan kabeh karena gak ada yang jaga di rumah. Saya pun mengurungkan niat. Sambil cari cara gimana ngurangin dahsyatnya gatal ini. Akhirnya kompres pake es batu buat meredakan gatal. Trus nemu Neozep yang alhamdulilah belum kadaluwarsa di lemari obat, saya minum satu butir. Kenapa? Ngejar kandungan antihistamin dalam Neozep aja.

Dikutip dari Alodokter.com: antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin, pada dasarnya berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.

Saya pun berusaha tidur, itupun udah menjelang jam 02.00 WIB. Paginya jangan ditanya kliyengan kayak apa karena kurang tidur dan jam 05.00 WIB kudu nyiapin anak-anak ke sekolah. Alhamdulilah pagi ini, di beberapa spot saya perhatikan biduran mereda. Wah asyik ni….menuju sembuh pikir saya.
Tapi ya tetap saya ngobat juga. Saya menyerah: minta pak suami beliin CTM ke apotik, plus saya gak ngantor aja demi meredakan si biduran ini. Sebagi info, CTM ini ya salah satu obat antihistamin yang biasa digunakan untuk menyembuhkan alergi dan dijual bebas. Harganya murah meriah yaitu Rp.2,300 per 10 tablet.

CTM-CIUBROS-FARMA-4-MG-STRIP-12-TABLET-1

Gambar diambil dari goapotik.com

Minum CTM memang salah satu efek sampingnya adalah mengantuk. Jadi seharian itu saya memang meperbanyak tidur. Sugestinya: setiap sakit manusia memang harus lebih banyak beristirahat supaya lekas sembuh. Nah saya kan ngejar pengen sembuh banget. Etapi si CTM rupanya kurang efektif kali ya.

Ngantuknya dapat tapi kok ya di hari kedua ini biduran malah menjalar ke bawah betis. Plus yang di beberapa spot awalnya udah hilang, ladalah malah nimbul maning? Oh tydaaaackkk…..Masa saya harus bolos ngantor lagi demi kesembuhan biduran?

Maka, di hari kedua tersebut, sesudah semua anak-anak berangkat sekolah, saya minta diantar pak suami ke klinik dokter umum 24 jam. Di klinik ini, dokter umumnya masih muda-muda. Mungkin dokter yang baru lulus begitu ya, saya juga kurang tau. Yang pasti saban shift-shift an dokter, ya pasti muda-muda semua.

Dokter cantik berjilbab, dokter Devi namanya, menerima saya dan pak suami. Kami menceritakan keluhan dan kronologis biduran terjadi. Dan amazingnya…dokter ini menjelaskan panjang lebar, jelas dan gamblang alias gak pelit penjelasan. Wow…untuk ukuran pergi ke dokter, to be honest jarang-jarang saya dapat yang begini loh. Penjelasannya pun masuk akal dan bikin kita tenang. Kurang lebih penjelasan dokter Devi itu begini:

Alergi biduran ini tidak disebabkan oleh makanan (yang mana ini berbeda dari pengetahuan seputar biduran yang selama ini kita tau ya guys. Entahlah, mungkin ini adalah paparan penelitian terbaru terhadap biduran yang menyanggah hubungan antara biduran dan alergi makanan. Saya ho oh aja)
Biduran ini jauh lebih banyak disebabkan karena faktor perubahan cuaca, terutama udara dingin. Apalagi di musim sekarang, cuaca berubah-ubah dengan drastis. Tubuh mau tidak mau harus cepat pula beradaptasi dengan perubahan tersebut. Nah jika daya tahan/imunitas tubuh kita kurang alias rendah, maka ketika terpapar udara dingin, reaksi yang ditimbulkan badan salah satunya adalah biduran. Lho kenapa zaman dulu saya kena udara dingin fine fine aja, kok sekarang kena dingin malah biduran? Sekali lagi balik ke daya tahan tubuh. Dulu kena dingin tapi badannya fit ya gak bereaksi. Sekarang daya ahan tubuhnya rendah ya mudah bereaksi, menjadi biduran. Dan semua orang bisa kena, bahkan saya pun (dokter Devi-red) jika kita sedang tidak fit. Biduran itu sendiri juga punya tempo yang berbeda-beda di setiap orang. Ada yang cuma dalam beberapa jam kemuadian hilang. Ada yang mesti melewati 2-3 hari baru hilang. Dan jika ingin melihat apakah biduran ini ada kaitannya dengan penyakit lain, maka tinggal dilihat: apakah bentol-bentol ini terasa gatal? Jika ya, maka memang ini biduran normal karena syaraf permukaan kulitnya bereaksi menimbulkan rasa gatal. Namun jika bentol-bentol merah ini muncul tetapi tidak ada gatal sekalipun, nah di situ kita perlu curiga, apakah ada penyakit lain yang menyebabkannya? Berarti ada yang terjadi dengan pembuluh darah di dalam tubuh misalnya, atau kemungkinan-kemungkinan lain.

Saya dan suami pun lega dan cukup puas mendengar penjelasan dokter Devi. Lalu beliau juga mengatakan bahwa CTM yang saya konsumsi berarti tidak terlalu memberi efek pada kesembuhan biduran. Maka beliau meresepkan obat alergi lainnya yaitu: loratadine. Ini juga antihistamin, dan kabar baiknya…obat ini tidak menimbulkan kantuk parah seperti CTM. Ya lumayanlah, berarti masih bisa fokus kerja di kantor hehe. Loratadine yang diberikan adalah yang Generik, jadi mursidawati harganya. Selain itu saya juga diberi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh plus obat anti inflamasi. Tak lupa diresepkan bedak Salycil, jaga-jaga kalo gatalnya kembali menghebat.

20190221_161729-800x600

Total yang harus saya bayar di klinik tersebut:
Administrasi: Rp14,000
Jasa Dokter: Rp24,000
Obat: Rp31,000
TOTAL: Rp59,000

Selesai periksa, saya tetap ngantor kayak biasa. Alhamdulilah biduran perlahan makinΒ  menghilang dari tubuh ini. Walaupun efek samping Loratadine seperti rasa sedikit mengantuk (tapi tidak separah CTM) dan mulut kering saya rasakan sepanjang kerja di kantor. Gapapalah, yang penting segera sembuh.

Inti dari postingan ini, marilah giat berolahraga. Makan sehat setiap hari tapi kalo gak ditunjang sama olah raga yang cukup ya tetap bikin tubuh gak terlalu fit. Akibatnya mudah sakit, ya seperti saya ini. Memang semenjak gak punya ART, saya akui kurang istirahat, kurang tidur. Olahraga pun di akhir minggu saja itupun kalau enggak hujan dan kalo enggak ada acara dari sekolahnya anak-anak hehe….. Atau dengan kata lain: olahraganya enggak rutin.

Semoga postingan ini bermanfaat ya. Buat yang saat ini tengah mengalami biduran, ayo semangat sembuh dan perkuat daya tahan tubuh masing-masing ya πŸ™‚
signature

Advertisements

14 thoughts on “(sudah tua bangka) Kena Biduran

  1. Rahma balci says:

    saya dulu akrab banget sama biduren mba (ko bangga heheh) loratadine sering tuh minum, terus ketika pindah ke turki, pas banget masuk musim gugur dan cuaca juga waktu itu dingin ya buat kulit tropis, hari pertama menjejakan kaki diTurki, biduren saya kumat, gatel seluruh badan, suami langsung bawa ke ugd:D disuntik aja sama di resepin obat alergi lokal namanya allerset, alhamdulilah mau 8 tahun disini alerginya ga kumatan lagi, ga enak banget ya garuk2 terus..mana sama dulu masih penganten baru, ketemu keluarga..masa garuk2 terus:V

    Liked by 1 person

  2. Harlita says:

    Dan saat ini saya sedang biduran hikssss..
    Cuaca di London yang lagi dingin-dinginnya plus memang penyakit dari kecil yg selalu biduran kalau kedinginan.. Alhamdulillah ada stock bedak buat gatal2 yg memang selalu siap sedia plus minum obat.. hihi

    Liked by 1 person

  3. lovelyristin says:

    woaaahhh… mbak tau lhoo jenis obat, kandungan, dan manfaatnya, jadi setidaknya tau pertolongan pertama sebelum ke dokter, keren iih… hihihihi… aku waktu masih sekolah (kalau sekarang juga dah menjelang tua bangka, aduuuhh.. kocak deh suami mbak komenin “menuju tua bangka” hahahahaha… ) gampang bentol kayak biduran di kulit klo dah kecapean, pernah jg karena baru pindah rumah. Intinya memang penting bgt jaga kondisi badan, dan dilema-nya seorang ibu (seringnya) kurang tidur, pdhal tdr faktor utama daya tahan tubuh bs lbh baik. Semoga selalu diberi kesehatan ya mbak.. makasih lho dah mampir ke blog aku. hihihi.. πŸ˜€

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Sama-sama mbak Ristin. Iya dilema emak2 ya…pengen bobok cantik tapi sulitnya minta ampun kalo masih punya anak kecil2 begini huhuhu….Semoga kita semua sehat terus yaa…amiiin

      Like

  4. mayang koto says:

    kalo orang minang bilangnya galigato mbak. karena kena dingin atau angin
    saya kadang kena juga, tapi kalo kena saya langsung oles minyak makan plus garam kasar. digosokin ke kulit pake bawang putih yang dibelah 2 atau 3

    untungnya gak pernah sampe separah itu mbak, sampe harus ke dokter segala

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s